Mengolah Sampah Dapur MBG, Menjadi Mesin Ekonomi Desa

waktu baca 4 menit
Jumat, 20 Feb 2026 21:17 6 Admin RCN

Oleh: Dr. Yunada Arpan, Akademisi STIE Gentiaras Lampung.

RadarCyberNusantara.Id | Setiap 21 Februari, Indonesia memperingati Hari Sampah Nasional sebagai pengingat bahwa persoalan sampah bukan sekadar isu kebersihan, melainkan berkaitan langsung dengan keberlanjutan lingkungan, kesehatan publik, dan masa depan ekonomi masyarakat. Hingga kini, sampah rumah tangga masih menjadi penyumbang terbesar timbulan sampah nasional, dengan komposisi lebih dari separuhnya berupa sampah organik seperti sisa makanan, sayuran, dan buah-buahan. Ironisnya, jenis sampah ini justru paling mudah diolah dan memiliki nilai guna tinggi jika dikelola dengan benar.

Sampah organik rumah tangga, pertanian, dan kebun mengandung unsur hara makro dan mikro yang penting bagi kesuburan tanah. Pengolahannya menjadi kompos padat, pupuk organik cair (POC), atau produk fermentasi lainnya terbukti mampu memperbaiki struktur tanah, meningkatkan produktivitas pertanian, serta mengurangi ketergantungan petani terhadap pupuk kimia.

Lebih jauh, pemanfaatan sampah organik mendorong terwujudnya ekonomi sirkular, di mana sampah tidak lagi dipandang sebagai akhir dari siklus konsumsi, melainkan sebagai awal dari nilai ekonomi baru yang berkelanjutan.
Tanpa pengelolaan yang tepat, sampah organik berakhir di Tempat Pembuangan Akhir (TPA), mempercepat penumpukan, menimbulkan bau, serta memicu emisi gas rumah kaca.

Persoalan ini semakin kompleks seiring meningkatnya volume sampah dari dapur kolektif, baik dapur rumah tangga maupun dapur program publik. Salah satunya adalah Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dijalankan pemerintah melalui dapur Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).

Sampah dapur MBG memiliki karakteristik khas seperti volumenya besar, dihasilkan secara rutin, dan relatif homogen. Namun hingga kini, potensi tersebut belum dimanfaatkan secara optimal. Kondisi ini menunjukkan bahwa persoalan utama pengelolaan sampah bukan terletak pada ketiadaan teknologi, melainkan pada lemahnya tata kelola dan pemanfaatan di tingkat hulu. Padahal, sampah organik sejatinya merupakan sumber daya produktif yang dapat mendukung sektor pertanian dan perekonomian desa.

Dalam konteks MBG, potensi tersebut dapat dihitung secara sederhana dan realistis. Dengan asumsi konservatif bahwa satu dapur MBG melayani sekitar 2.000 porsi per hari dan menghasilkan rata-rata 50 gram sampah organik per porsi, maka timbulan sampah dapur mencapai sekitar 100 kilogram per hari. Dalam satu bulan operasional, dengan asumsi 25 hari kerja, jumlah ini setara dengan sekitar 2,5 ton sampah organik per dapur.

Angka ini menunjukkan bahwa (bahkan dengan asumsi paling hati-hati sekalipun), sampah dapur MBG merupakan sumber bahan baku yang signifikan dan layak dikelola secara sistematis.

Pengelolaan sampah dapur MBG tidak hanya berdampak pada pengurangan beban TPA, tetapi juga membuka peluang penciptaan lapangan kerja lokal berbasis ekonomi hijau. Rantai kegiatan pengolahan sampah organic, mulai dari pengambilan dan pengangkutan sampah dari dapur MBG, pemilahan, pengolahan menjadi pupuk, hingga pengepakan tentu membutuhkan tenaga kerja yang bersifat rutin dan berkelanjutan.

Kegiatan ini relevan bagi perdesaan karena dapat menyerap tenaga kerja setempat tanpa mensyaratkan keterampilan tinggi, sekaligus membuka ruang peningkatan kapasitas melalui pelatihan teknis.

Nilai tambah ekonomi tidak berhenti pada tahap produksi pupuk. Distribusi dan pemasaran pupuk organik kepada petani lokal, kelompok tani, maupun konsumen umum juga menciptakan peluang usaha baru. Bahkan, berkembang potensi layanan tambahan seperti pengantaran hingga jasa penaburan pupuk di lahan pertanian dan perkebunan.

Model layanan terpadu semacam ini berpotensi tumbuh menjadi unit usaha padat karya yang mampu menjawab sebagian persoalan pengangguran perdesaan, terutama di sektor nonformal.

Dalam tata kelola perdesaan, Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) memiliki posisi strategis sebagai pengelola sekaligus penggerak ekonomi sirkular. BUMDes dapat berperan sebagai penghubung antara sumber sampah dapur MBG, proses pengolahan, dan pasar. Sebagian besar sampah dapur MBG berupa sisa nasi, potongan sayur, kulit buah, dan limbah dapur basah lainnya, jenis sampah yang sangat ideal untuk diolah menjadi kompos organik, pupuk organik cair, atau pakan maggot Black Soldier Fly (BSF) bagi sektor peternakan dan perikanan. Dengan sistem yang tertata, limbah dapur tidak lagi menjadi biaya sosial, melainkan komoditas ekonomi desa.

Dari sisi teknis, pengolahan sampah dapur MBG tidak memerlukan teknologi mahal. Metode komposting aerobik, fermentasi dengan bantuan mikroorganisme pengurai seperti EM4, serta budidaya maggot BSF merupakan teknologi tepat guna yang relatif murah dan mudah direplikasi. Namun, prasyarat utama keberhasilannya adalah pemilahan sampah di sumber, yakni langsung di dapur MBG. Tanpa pemilahan yang konsisten, kualitas bahan baku menurun dan proses pengolahan menjadi tidak efisien.

Keberhasilan pengelolaan sampah dapur MBG tidak dapat dilepaskan dari peran pemerintah, baik pusat maupun daerah. Dukungan tersebut meliputi fasilitasi teknis dan pelatihan bagi pengelola BUMDes, penyediaan sarana dan infrastruktur pengolahan sampah, regulasi pemilahan sampah di sumber, serta akses permodalan dan pendampingan, termasuk melalui Dana Desa. Sinergi antarinstansi, terutama Dinas Lingkungan Hidup dan Dinas Pertanian, menjadi kunci agar hasil olahan sampah benar-benar termanfaatkan untuk mendukung produktivitas pertanian lokal.

Hari Sampah Nasional seharusnya tidak berhenti pada seremonial. Momentum ini perlu dimanfaatkan untuk mendorong kebijakan dan praktik nyata di lapangan. Sampah dapur MBG menunjukkan bahwa isu lingkungan dapat disinergikan dengan agenda pembangunan ekonomi desa.

Dengan tata kelola yang tepat, pendampingan berkelanjutan, dan komitmen lintas sektor, sampah tidak lagi menjadi akhir dari konsumsi, melainkan awal dari nilai baru bagi lingkungan, pertanian, dan kesejahteraan perdesaan.

Bandar Lampung : 20 Februari 2026.
Editor : Pinnur Selalau.
Author: RadarCyberNusantara.Id

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA

Dapatkan Berita Pilihan Di Whatsapp Untuk Anda.

 

X
error: Content is protected !!