RadarCyberNusantara.Id | Sejarah mencatat Asnawi Mangku Alam sebagai salah satu Gubernur Sumatera Selatan yang paling berdedikasi dalam menghadapi krisis. Lahir di Ulak Baru, Cempaka, OKU Timur pada 27 April 1921, almarhum merupakan sosok pemimpin tangguh yang meniti karier dari keluarga sederhana hingga menjadi jenderal dan diplomat. Selama dua periode kepemimpinannya (1968–1978), beliau menjadi aktor kunci dalam pemulihan stabilitas ekonomi dan fisik Bumi Sriwijaya di awal era Orde Baru.
Perjuangan Pendidikan: Dari Pemungut Bola hingga Guru
Masa muda Asnawi adalah cermin kerja keras. Saat bersekolah di HIS Baturaja, ia mencari penghasilan tambahan sebagai pemungut bola tenis dengan upah tiga gulden sebulan untuk membantu ayahnya yang seorang pedagang. Ketekunannya membawanya menjadi salah satu dari sedikit putra pribumi dari keluarga kurang mampu yang berhasil menamatkan MULO di Palembang (1938). Sebelum terjun ke militer, Asnawi sempat mengabdikan diri sebagai guru di Pendopo (Empat Lawang) dan PALI, menunjukkan kepeduliannya pada dunia pendidikan sejak dini.
Rekam Jejak Militer: Dari Batusangkar ke Perang Lima Hari Lima Malam
Karier militer Asnawi dimulai pada zaman Jepang melalui pendidikan Gunsei Gakko di Batusangkar (1944). Sebagai perwira TNI, beliau terlibat langsung dalam peristiwa bersejarah Perang Lima Hari Lima Malam di Palembang tahun 1947 dan memimpin gerilya melawan NICA di daerah Kayu Agung. Keahliannya dalam bidang logistik dan angkutan darat membawanya menempuh pendidikan militer hingga ke Fort Eustis, Amerika Serikat, dan Wellington, India.
Gubernur “Operasi Stabil”: Menurunkan Harga Beras
Dilantik sebagai Gubernur Sumatera Selatan ke-9 pada 10 Januari 1968, Asnawi mewarisi daerah dengan infrastruktur yang rusak parah dan bencana kelaparan. Beliau meluncurkan kebijakan monumental bernama “Operasi Stabil”. Melalui tim ini, beliau berhasil mendatangkan beras dan memotong jalur distribusi yang panjang, hingga harga beras yang semula Rp120 per kg anjlok menjadi Rp40 per kg. Prestasi ini menyelamatkan ribuan warga dari busung lapar dan meningkatkan daya beli masyarakat secara drastis.
Di bawah komandonya, perbaikan infrastruktur jalan yang semula 80% rusak berat berhasil ditekan hingga tersisa 25% pada tahun 1974. Selain itu, pada masa kepemimpinannya jugalah Provinsi Bengkulu resmi dimekarkan dari Sumatera Selatan pada 18 November 1968.
Diplomat dan Akademisi di Masa Purna Tugas
Setelah satu dekade memimpin Sumsel, pengabdian Asnawi tidak berhenti. Beliau sempat menjabat sebagai Pejabat Rektor IAIN Raden Patah Palembang sebelum akhirnya diangkat oleh Presiden Soeharto menjadi Duta Besar RI untuk Burma (Myanmar) dan Nepal (1981–1984).
Almarhum wafat pada 27 Oktober 2001 di Jakarta, meninggalkan warisan keteladanan tentang kepemimpinan yang berpihak pada rakyat kecil. Sosoknya akan selalu diingat sebagai jenderal yang hadir dengan solusi nyata saat rakyatnya sedang didera kesulitan pangan. | Red.
Tidak ada komentar