RadarCyberNusantara.Id | Nama Buyung Lalana bukan sekadar deretan pangkat dan jabatan dalam sejarah militer Indonesia. Ia adalah sosok prajurit laut sejati yang menapaki karier panjang dengan disiplin baja, loyalitas tinggi, serta kepedulian mendalam terhadap lingkungan khususnya ekosistem laut yang menjadi napas kehidupan bangsa maritim seperti Indonesia.
Lahir di Bandung, Jawa Barat, pada 8 Juli 1958, Buyung Lalana meniti jalan pengabdiannya melalui pendidikan di Akademi Angkatan Laut, dan lulus pada tahun 1983. Sejak saat itu, ia mendedikasikan dirinya sepenuhnya untuk Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut, khususnya di lingkungan elit Korps Marinir.
Karier militernya ditempa melalui berbagai jabatan strategis dan medan tugas yang penuh tantangan. Ia pernah dipercaya sebagai Komandan Batalyon Intai Amfibi (Yontaifib) satuan elit yang dikenal dengan kemampuan operasi khusus di darat, laut, dan pantai. Selain itu, ia juga menjabat sebagai Komandan Pangkalan Utama TNI AL XI/Merauke (Danlantamal XI), posisi penting yang memperkuat pertahanan wilayah timur Indonesia.
Puncak kariernya tercapai ketika ia dipercaya sebagai Komandan Korps Marinir (Dankormar) pada 30 Maret 2015, menggantikan A. Faridz Washington. Dalam masa kepemimpinannya hingga 15 Juni 2016, Buyung Lalana dikenal sebagai pemimpin yang tegas, visioner, dan dekat dengan prajurit. Tongkat estafet kepemimpinan kemudian ia serahkan kepada R.M. Trusono.
Namun, ada satu hal yang membuatnya berbeda dan dikenang luas: julukan “Jenderal Terumbu Karang.” Julukan ini bukan tanpa alasan. Buyung Lalana menunjukkan kepedulian nyata terhadap pelestarian terumbu karang ekosistem vital yang menjadi benteng alami laut Indonesia. Di tengah kesibukannya sebagai perwira tinggi, ia tetap menyuarakan pentingnya menjaga kekayaan bawah laut, menjadikan dirinya simbol harmonisasi antara kekuatan militer dan kesadaran lingkungan.
Setelah pensiun pada tahun 2016 dengan pangkat Mayor Jenderal TNI (Marinir), pengabdiannya tak berhenti. Ia kembali dipercaya mengemban tugas sebagai Staf Khusus Menteri Perhubungan Bidang Hubungan Antar Lembaga, sebuah posisi strategis yang menunjukkan bahwa pengalaman dan integritasnya tetap dibutuhkan dalam lingkup pemerintahan sipil.
Kisah Buyung Lalana adalah potret utuh seorang prajurit: kuat di medan tugas, tajam dalam kepemimpinan, dan bijak dalam menjaga alam. Ia bukan hanya penjaga kedaulatan, tetapi juga pelindung warisan laut Indonesia untuk generasi mendatang.
#BuyungLalana #Dankormar #KorpsMarinir #TNIAL #JenderalTerumbuKarang #TokohMiliterIndonesia #InspirasiPengabdian
Tidak ada komentar