Alergi Transparansi: Pejabat BBWS Mesuji Sekampung Bungkam, Penanganan Gulma DI Rarem Hanya Manis di Atas Kertas

waktu baca 2 menit
Sabtu, 7 Feb 2026 11:07 347 Admin Elsa

RadarCyberNusantara.Id | – Ada yang aneh dengan tata kelola informasi di Balai Besar Wilayah Sungai Mesuji Sekampung (BBWS MS). Di saat saluran irigasi DI Rarem “sekarat” akibat kepungan gulma yang subur, para pejabat yang digaji negara untuk mengurusnya justru menunjukkan sikap pengecut dengan bungkam seribu bahasa. Saptu (7/2/2026).

Publik kini disuguhi drama “saling lempar” tanggung jawab. Seorang oknum internal BBWS MS bernama “Mono” dengan percaya diri mengirimkan rentetan data teknis yang terlihat heroik: klaim normalisasi belasan kilometer, perbaikan pintu air, hingga pengerahan alat berat. Namun, saat diminta pertanggung jawaban mengenai kapasitas jabatannya, “Mono” mendadak “buang badan” dan menunjuk M.F. Nur Yuniar selaku PPK OP Wilayah 2 sebagai pihak yang wajib dikonfirmasi.

Ironisnya, M.F. Nur Yuniar yang disebut-sebut sebagai pemegang kunci informasi justru bak “ditelan bumi”. Upaya konfirmasi yang dilayangkan awak media selama berhari-hari hanya berakhir di layar ponsel dengan status centang dua hitam.

Sikap diam sang pejabat ini bukan sekadar urusan teknis, melainkan bentuk arogansi publik. Bagaimana mungkin seorang PPK (Pejabat Pembuat Komitmen) yang mengelola anggaran negara miliaran rupiah untuk pemeliharaan rutin, mendadak “gagu” saat ditanya mengapa saluran air irigasi banyak ditumbuhi gulma?

Iklan

Gulma Tumbuh Subur, Transparansi Justru Gugur

Bungkamnya M.F. Nur Yuniar dan narasi sepihak dari “Mono” memicu kecurigaan besar: Apakah data teknis tersebut hanya fiktif demi menggugurkan kewajiban laporan? Jika benar tim OP telah bekerja maksimal sejak 2025 dengan 64 petugas PPA dan alat berat Excavator Long Arm, mengapa petani di lapangan masih berteriak air tak mengalir? Mengapa gulma masih menjadi “raja” di pintu-pintu sippon dan aliran irigasi?

Pejabat BBWS MS tampaknya lupa bahwa mereka adalah pelayan masyarakat, bukan penguasa data yang bisa bersembunyi di balik status WhatsApp. Uang rakyat yang mengalir ke DI Rarem seharusnya berubah menjadi air di sawah petani, bukan sekadar tinta di atas laporan yang tak berani dipertanggungjawabkan di hadapan media.

Rakyat tidak butuh angka-angka kilometer yang dikirim lewat pesan gelap oleh oknum bernama “Mono”. Rakyat butuh kejujuran dari M.F. Nur Yuniar. Jika memang saluran irigasi sudah bersih, keluarlah dari ruang kerja yang dingin, temui wartawan, dan tunjukkan faktanya di lapangan.

Jangan biarkan kepercayaan publik ikut hanyut bersama tumpukan gulma di DI Rarem karena pejabatnya lebih memilih bungkam daripada bersikap transparan. (Dv)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA

Dapatkan Berita Pilihan Di Whatsapp Untuk Anda.

 

X
error: Content is protected !!