Dari Rakyat ke Kursi Empuk: Ketika Ingatan Seorang Dewan Tertinggal di Jalan

waktu baca 2 menit
Sabtu, 28 Mar 2026 14:08 42 Admin RCN

RadarCyberNusantara.Id | Kisah klasik kembali terulang. Seorang Perempuan Anggota Dewan Perwakilan Rakyat Republik Indonesia dari Dapil Lampung 1. yang dulu datang dengan harapan, janji, dan senyum kepada rakyat, kini duduk nyaman di kursi DPR RI. Perjalanan yang seharusnya menjadi amanah justru berubah menjadi ironi.

Dulu, ia mengetuk pintu-pintu warga, menyapa dengan rendah hati, bahkan mungkin meneteskan air mata demi meyakinkan bahwa dirinya layak diperjuangkan. Rakyat percaya. Rakyat memilih. Rakyat mengantarkannya ke kursi kekuasaan.

Namun hari ini, seolah ada yang hilang—bukan jabatan, bukan fasilitas, tapi ingatan.

Ia lupa dari mana ia berasal. Lupa siapa yang memilihnya. Lupa tangan-tangan kecil yang dulu menggenggam harapan besar padanya. Kini yang terlihat hanyalah kenyamanan, kemewahan, dan jarak yang semakin jauh dari realita rakyat yang pernah ia peluk erat.

Iklan

Fenomena ini bukan sekadar persoalan individu, melainkan cermin dari penyakit lama dalam politik: amnesia kekuasaan. Ketika jabatan diraih, nurani perlahan ditinggalkan. Ketika fasilitas datang, empati justru menghilang.

Padahal, kursi dewan bukanlah singgasana untuk dinikmati, melainkan amanah yang harus dipertanggungjawabkan—bukan hanya di hadapan rakyat, tetapi juga di hadapan Tuhan. Naudzubillah, jika jabatan justru menjadi jalan untuk melupakan asal-usul dan mengabaikan jasa orang lain.

Rakyat tidak menuntut banyak. Mereka hanya ingin diingat. Ingin didengar. Ingin diperjuangkan, seperti dulu saat janji-janji itu diucapkan dengan penuh keyakinan.
Karena sejatinya, kekuasaan itu sementara. Tapi ingatan rakyat—tentang siapa yang setia dan siapa yang lupa diri—akan abadi.

(Pinnur Selalau)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA

Dapatkan Berita Pilihan Di Whatsapp Untuk Anda.

 

X
error: Content is protected !!