Desa Dalam Pusaran Obsesi Kekuasaan, Antara Nawa Cita Jokowi dan Asta Cita Prabowo

waktu baca 2 menit
Sabtu, 31 Jan 2026 12:22 42 Admin RCN

Penulis : Pinnur Selalau.

DESA selalu menjadi ruang paling jujur untuk membaca arah sebuah rezim. Dari desa, janji pembangunan diuji: apakah benar negara hadir, atau sekadar berganti slogan.

Melalui Nawa Cita, Presiden Joko Widodo meletakkan desa sebagai titik awal pembangunan nasional. Negara diarahkan untuk membangun dari pinggiran, menjadikan desa bukan lagi objek, melainkan subjek. Dana Desa, penguatan kewenangan, dan ruang partisipasi diberikan agar desa belajar mengelola dirinya sendiri. Infrastruktur dasar dibangun, musyawarah diperkuat, dan demokrasi desa didorong tumbuh—meski dalam praktiknya sering diwarnai kekurangan dan proses belajar yang tidak mudah.

Seiring waktu, wajah desa berubah. Jalan terbuka, akses membaik, dan kepercayaan diri desa mulai tumbuh. Namun, perubahan itu juga menyisakan pekerjaan rumah: tata kelola, kapasitas aparatur, serta kualitas pengawasan yang belum merata.

Iklan

Di titik inilah Asta Cita hadir membawa perspektif berbeda. Di bawah Prabowo, desa tidak lagi cukup hanya mampu mengatur, tetapi juga dituntut menghasilkan. Desa diposisikan sebagai basis ketahanan nasional—terutama pangan dan ekonomi. Swasembada, hilirisasi, penguatan koperasi dan BUMDes menjadi penekanan. Dana Desa tidak lagi semata soal pemerataan, melainkan dipandang sebagai modal strategis yang harus berdampak nyata.
Perbedaannya terletak pada arah penekanan.
Nawa Cita fokus pada penanaman akar: membangun fondasi, struktur, dan partisipasi.
Asta Cita menekankan buah pembangunan: produktivitas, kemandirian, dan kontribusi desa bagi kekuatan nasional.

Namun, membandingkan keduanya bukan untuk mempertentangkan. Tantangan justru terletak pada bagaimana memastikan desa tidak kembali direduksi hanya sebagai alat pencapaian target. Produktivitas tidak boleh mengorbankan partisipasi. Ketahanan nasional tidak boleh menghapus ruang musyawarah warga. Pembangunan desa harus tetap berpijak pada manusia, bukan semata angka dan indikator.

Harapannya jelas: Nawa Cita dan Asta Cita menjadi satu kesinambungan, bukan dua kutub yang saling meniadakan. Nawa Cita menjadi gerbang penguatan dasar desa, sementara Asta Cita melanjutkannya menuju desa yang mandiri secara ekonomi. Keduanya diharapkan mengantar desa pada cita-cita yang sama: tata kelola yang kuat, ekonomi yang tumbuh, dan warga desa yang hidup makmur serta bermartabat.

Sebab pada akhirnya, desa bukan sekadar wilayah administrasi atau lumbung produksi. Desa adalah rumah bagi jutaan warga. Dan pembangunan yang berhasil adalah pembangunan yang membuat rumah itu layak, adil, dan memberi harapan.**

Bandar Lampung : 31 Januari 2026.
Editor : Elsa Azizah S.H.
Author: RadarCyberNusantara.Id

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA

Dapatkan Berita Pilihan Di Whatsapp Untuk Anda.

 

X
error: Content is protected !!