RadarCyberNusantara.Id | Di balik lahirnya Republik Indonesia, ada sosok-sosok senyap yang bekerja keras di garis belakang mengamankan dana, menopang pemerintahan, dan memastikan negara yang baru berdiri ini tidak runtuh sebelum berjalan. Salah satu tokoh penting itu adalah Dr. Samsi Sastrawidagda, Menteri Keuangan pertama Indonesia.
Lahir di Solo, 13 Maret 1894, Samsi tumbuh sebagai seorang intelektual dengan kecerdasan tajam dan semangat kebangsaan yang kuat. Pendidikan tingginya ditempa di Sekolah Tinggi Dagang (Handels-hogeschool) Rotterdam, tempat ia mempelajari ekonomi dan hukum negara. Pada tahun 1925, ia berhasil meraih gelar Doktor melalui disertasinya yang berjudul De Ontwikkeling v.d handels politik van Japan sebuah kajian mendalam mengenai politik dagang Jepang.
Menariknya, di Rotterdam ia juga dikenal sebagai pemukul gong dalam kelompok gamelan masyarakat Indonesia di sana, sebuah bukti bahwa jiwa keindonesiaannya tetap hidup meski merantau jauh di negeri asing.
Munculnya Sang Menteri Keuangan Pertama
Karier politik dan pengabdiannya untuk bangsa dimulai ketika Indonesia mempersiapkan diri menyambut kemerdekaan. Dalam Sidang PPKI kedua, 19 Agustus 1945, Samsi ditunjuk menjadi Menteri Keuangan dalam kabinet pertama Republik Indonesia.
Pada masa pendudukan Jepang, ia menjabat sebagai Kepala Kantor Tata Usaha dan Pajak di Surabaya, posisi yang membuatnya memiliki akses dan hubungan baik dengan pejabat Jepang sebuah modal penting dalam drama besar yang akan terjadi setelah kemerdekaan.
Operasi Penggedoran Bank: Aksi Berani Demi Republik
Pada masa awal kemerdekaan, Republik benar-benar kekurangan dana. Pemerintah baru ini membutuhkan uang untuk menjalankan administrasi, membiayai pertahanan, dan menopang perjuangan diplomatik maupun fisik.
Di sinilah peran heroik Dr. Samsi muncul.
Ia mendapatkan informasi dari Laksamana Shibata bahwa di gedung Bank Escompto Surabaya tersimpan uang peninggalan Pemerintah Hindia Belanda yang disita Jepang. Dengan kecerdasan diplomatis dan hubungan baiknya dengan pejabat Jepang, Samsi berhasil membujuk mereka untuk menyerahkan uang tersebut.
Langkah itu dilakukan melalui sebuah operasi dramatis yang kemudian dikenal sebagai penggedoran bank sebuah tindakan berani demi memastikan Republik tidak lumpuh secara finansial di hari-hari pertamanya.
Akhir Jabatan dan Kondisi Kesehatan
Meski memiliki peran besar, Samsi tidak sempat memimpin Kementerian Keuangan secara langsung. Kesehatannya yang sering menurun membuatnya memilih tinggal di Surabaya. Beban kerja berat dan situasi negara yang masih kacau memperburuk kondisinya.
Akhirnya, pada 26 September 1945, hanya sedikit lebih dari sebulan setelah dilantik, ia mengundurkan diri sebagai Menteri Keuangan. Posisinya kemudian digantikan oleh A.A. Maramis.
Dr. Samsi wafat pada tahun 1963, meninggalkan warisan keteladanan tentang keberanian, kecerdasan, dan pengabdian tanpa pamrih pada negara yang baru merdeka.
Bandar Lampung : Jum’at 21 Nov 2025.
Editor : Melia Eprianti S.H.
Author: RCN.
Tidak ada komentar