Hujan, Banjir, Dan Pemimpin Yang Suka Mencari Kambing Hitam

waktu baca 3 menit
Minggu, 15 Mar 2026 15:38 1 Admin RCN

Oleh : Pinnur Selalau.

OPINI | Akhir-akhir ini alam seolah sedang suram. Langit menangis. Hujan deras mengguyur. Hampir setiap hari. Seperti tidak lelah. Seperti sedang menuntaskan sesuatu yang lama tertunda. Di Provinsi Lampung, hujan belakangan bukan sekedar tamu, tapi sudah menjelma jadi penghuni tetap.

Datang hampir tiap hari akhir-akhir ini, kadang sopan, kadang berisik, kadang membawa kabar duka.

Bandar Lampung, Lampung Selatan—Dua Kabupaten di Provinsi Lampung—terendam. Sungai meluap, hujan deras, air menggenang di mana-mana. Rakyat kembali mengangkat perabot, menyelamatkan barang seadanya, dan belajar sabar di tengah akuarium.

Di Bandar Lampung, tanah pun ikut menyerah. Longsor terjadi di beberapa titik. Seolah alam berkata: aku lelah menahannya.

Tak hanya di Kota Bandar Lampung. Kecamatan Jati Agung,Kabupaten Lampung Selatan, ikut ambil bagian dalam cerita. Banjir melanda, air tanpa mengucapkan salam langsung memasuki rumah warga.

BMKG sudah memberi peringatan. Puncak musim hujan telah tiba di Provinsi Lampung. Prakirawan Cuaca BMKG menyebut hujan berintensitas sedang hingga lebat masih berpotensi terjadi setidaknya sepekan ke depan.

Januari–Februari–Maret adalah masa paling basah. Curah hujan tinggi. Risiko bencana hidrometeorologi mengintai.

Secara ilmiah, semuanya masuk akal. Ada pertemuan angin. Ada terbentuknya awan hujan sejak siang hingga malam. Cuaca ekstrem. Titik.

Tapi di titik inilah saya sering bertanya: benarkah banjir ini sepenuhnya soal hujan? Hujan deras, ya. Itu kehendak alam. Kita tak bisa mengatur kapan awan pecah. Tapi banjir?

Banjir seharusnya bisa diantisipasi. Jauh sebelum musim hujan datang. Dengan ruang terbuka hijau yang cukup. Hutan yang tidak ditebangi sembarangan.Normalisasi sungai. Drainase yang baik.

Dengan daerah resapan yang dijaga, bukan dijadikan perumahan. Jika itu konsisten dilakukan, air akan tahu jalannya sendiri. Ia mengalir, bukan menggenang. Ia menyuburkan, bukan menyengsarakan. Ia berkah bukan musibah.

Sayangnya, yang sering terjadi justru sebaliknya. Setiap hujan besar, cuaca ditunjuk sebagai tersangka utama.

“Ini karena cuaca ekstrem,” kata kita, serempak. Padahal, menyalahkan cuaca rasanya seperti menyalahkan Tuhan.

Alam hanya bekerja sesuai hukumnya. Manusialah yang gemar mengutak-atik, lalu kaget saat alam bereaksi.

Kita bisa belajar dari banyak tempat. Medan, Sumatera, misalnya. Banjir kayu gelondongan tak akan terjadi jika hutan tidak dirusak secara gila-gilaan.

Ketika hutan habis, air turun tanpa penyangga. Yang mengalir bukan hanya air, tapi juga kemarahan alam.

Di tengah potensi hujan yang masih tinggi, pemerintah kemudian memilih satu jurus andalan: meninjau sebagian tempat bencana lalu menyalurkan bantuan sosial alakadarnya.

Pertanyaannya: apakah ini menyentuh akar masalah banjir? Atau hanya kegiatan seremoni agar dilihat publik kalau pemerintah sudah kerja? Hujan salah apa sampai harus dijadikan “kambing hitam” dari musibah banjir?

Padahal hujan itu sendiri adalah berkah. Yang membuatnya berubah jadi bencana adalah cara kita memperlakukan daratan.

Tapi jangan dijadikan jawaban utama. Karena setiap hujan yang berakhir banjir menunjukkan ada yang salah dalam tata ruang, dalam pengelolaan lingkungan, dalam keberanian mengambil kebijakan jangka panjang.

Seharusnya, pemerintah membangun drainase yang layak, bukan membangun tugu yang tidak ada manfaatnya bagi masyarakat. Menata kota agar air punya ruang untuk singgah tanpa harus masuk ke rumah-rumah.

Gangguan air tanah bisa terjadi. Ekosistem bisa terganggu. Rantai kehidupan bisa berubah pelan-pelan, tanpa kita sadari. Hujan akan terus datang. Itu pasti.

Tapi apakah setiap hujan harus selalu berakhir banjir? Itu pilihan. Pilihan kebijakan. Pilihan keberpihakan. Pilihan apakah kita mau berdamai dengan alam, atau terus memaksanya tunduk—lalu heran ketika ia murka.

Bandar Lampung : 15 Maret 2026.
Editor : Elsa S.H.
Author : Pinnur Selalau.

 

 

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA

Dapatkan Berita Pilihan Di Whatsapp Untuk Anda.

 

X
error: Content is protected !!