RadarCyberNusantara.id | Siti Hartinah, atau yang lebih dikenal sebagai Ibu Tien Soeharto, merupakan figur penting dalam sejarah Indonesia modern. Ia bukan sekadar pendamping hidup Presiden Soeharto, tetapi juga sosok yang berperan besar dalam membentuk citra dan arah pembangunan di masa Orde Baru. Di balik kelembutannya sebagai seorang ibu negara, tersimpan ketegasan, ambisi, serta pengaruh besar yang mewarnai perjalanan bangsa selama lebih dari tiga dekade.
Asal-Usul dan Kehidupan Pribadi
Lahir pada 23 Agustus 1923 di Surakarta, Tien Soeharto berasal dari keluarga bangsawan Jawa, putri dari KPH Soemoharjomo dan Raden Ayu Hatmanti Hatmohoedojo, keturunan langsung dari trah Mangkunegara III. Latar belakang ningrat inilah yang membentuk keanggunan serta wibawa alaminya sebagai perempuan Jawa tulen.
Pada 26 Desember 1947, ia menikah dengan Soeharto, yang kala itu masih menjadi perwira muda Tentara Nasional Indonesia. Dari pernikahan itu, lahirlah enam orang anak di antaranya Tutut, Bambang, dan Tommy Soeharto yang kelak dikenal sebagai bagian dari “Keluarga Cendana”.
Momen kelahiran putri sulung mereka, Tutut Soeharto, bahkan diabadikan dalam film legendaris Janur Kuning, yang menggambarkan perjuangan Soeharto dalam Serangan Umum 1 Maret 1949. Film ini pernah menjadi tontonan wajib di sekolah-sekolah hingga runtuhnya Orde Baru pada 1998.
Peran dan Pengaruh Sebagai Ibu Negara
Sebagai pendamping kepala negara selama lebih dari 30 tahun, Ibu Tien dikenal sebagai sosok yang memiliki suara kuat dalam berbagai keputusan besar pemerintahan. Ia menentang keras praktik poligami, terutama di kalangan pejabat dan pegawai negeri. Pandangannya tersebut kemudian melahirkan Peraturan Pemerintah Nomor 10 Tahun 1983, yang melarang poligami bagi PNS kecuali atas izin khusus.
Di sisi lain, Tien Soeharto juga dikenal karena kepeduliannya terhadap pembangunan sosial dan budaya. Beberapa gagasannya yang monumental masih dapat kita nikmati hingga kini, seperti:
Taman Mini Indonesia Indah (TMII) proyek ambisius yang merepresentasikan keberagaman budaya Indonesia.
RSAB Harapan Kita rumah sakit khusus ibu dan anak yang menjadi pelopor layanan kesehatan modern.
Taman Buah Mekarsari taman wisata edukatif untuk pertanian dan pelestarian flora Indonesia.
Perpustakaan Nasional Republik Indonesia simbol kecintaannya terhadap pendidikan dan literasi bangsa.
Misteri dan Akhir Kehidupan
Ibu Tien meninggal dunia pada 28 April 1996 karena serangan jantung. Namun, wafatnya tak luput dari rumor dan spekulasi. Isu yang sempat beredar menyebut bahwa ia tewas tertembak akibat perselisihan antara kedua putranya, Bambang dan Tommy Soeharto.
Namun, rumor ini dibantah tegas oleh Tutut Soeharto pada 30 April 2020. Tutut menegaskan bahwa sang ibu meninggal murni karena serangan jantung dan meminta publik untuk tidak mempercayai kabar palsu tersebut.
Deretan Kontroversi yang Mengiringinya
1. Proyek Taman Mini Indonesia Indah (TMII)
Proyek raksasa ini menjadi salah satu kebanggaan sekaligus batu sandungan bagi Ibu Tien. Pada tahun 1971, banyak mahasiswa di Jakarta menentang pembangunan TMII karena dianggap menghabiskan dana besar mencapai Rp 10,5 miliar (jumlah fantastis kala itu).
Ibu Tien bahkan dijuluki “Madam Ten Percent”, tuduhan yang menyebut bahwa dirinya mendapat bagian dari keuntungan proyek-proyek besar para pengusaha yang dekat dengan keluarga Cendana.
2. RUU Perkawinan 1973
Kontroversi lain muncul ketika pembahasan Rancangan Undang-Undang Perkawinan tahun 1973 memicu aksi demonstrasi besar di DPR. Para mahasiswa menilai RUU tersebut sarat kepentingan politik dan moralistik Orde Baru.
Banyak pihak menduga bahwa Ibu Tien Soeharto turut berperan dalam arah kebijakan tersebut, terutama karena nilai-nilai monogami dan keutuhan keluarga yang ia junjung tinggi kemudian tercermin dalam UU Perkawinan 1974.
3. Peristiwa Malari 1974
Kemarahan mahasiswa terhadap proyek-proyek besar pemerintahan, termasuk TMII, turut menyulut peristiwa Malari (Malapetaka Lima Belas Januari). Proyek yang digagas Ibu Tien disebut-sebut sebagai simbol kemewahan di tengah kesenjangan sosial yang tajam.
Majalah Tempo dalam edisi khusus “Malari” (2014) menyoroti bagaimana peran Ibu Tien dan proyek TMII menjadi salah satu isu yang memperuncing ketegangan antara pemerintah dan masyarakat kala itu.
Warisan yang Tak Terhapus
Terlepas dari kontroversi yang melekat, Ibu Tien Soeharto tetap dikenang sebagai figur ibu negara yang berwibawa, anggun, dan memiliki visi besar terhadap pembangunan bangsa. Ia adalah potret perempuan Jawa yang kuat dalam lembutnya, serta teguh dalam prinsip moral dan budaya.
Nama Siti Hartinah Soeharto kini abadi dalam sejarah Indonesia sebagai simbol cinta, kekuasaan, dan pengaruh yang membentuk wajah Orde Baru, baik dalam cahaya maupun bayangannya.
|Red
Dilihat: 36
Rekomendasi
Tidak ada komentar