Di balik gemerlap kota, Lebaran hanya jeda singkat bagi mereka yang tak pernah benar-benar libur.
Lebaran hari kedua. Hari terakhir jeda panjang bagi para “leci”, pekerja yang selama sebulan penuh dipaksa berhenti, bukan karena pilihan, melainkan demi menghormati bulan suci.
Di meja makan, sisa-sisa perayaan masih terhidang. Rendang dan opor ayam mungkin tinggal separuh. Kue nastar dan kaleng Khong Guan tak lagi utuh. Semua itu bukan sekadar hidangan, melainkan penanda daya tahan, bahwa Lebaran tetap dirayakan, meski dengan sisa tabungan yang dikumpulkan jauh sebelum puasa tiba.
Tidak ada THR. Sebagian hanya menerima bingkisan seadanya dari tempat mereka bekerja. Sekadar tanda bahwa mereka masih diingat, meski tak sepenuhnya dihitung.

Di kota seperti Bandar Lampung, mereka adalah bagian dari denyut ekonomi urban yang sering tak tercatat. Walikota Bandar Lampung Eva Dwiana, yang juga perempuan, harusnya tahu tentang ini.
Tak ada data resmi tentang berapa jumlah mereka. Mereka hadir, tapi tak terhitung. Terlihat, tapi kerap tak diakui dalam statistik maupun kebijakan. Mereka bekerja tanpa gaji tetap, tanpa jaminan sosial. Padahal, di banyak tempat, merekalah yang menjaga roda usaha tetap berputar. Tanpa mereka, gemerlap itu bisa seketika redup.
Sebagian mungkin tak kembali. Umur, tekanan, atau pilihan hidup mendorong mereka beralih menjadi terapis, membuka usaha kecil, atau mencoba jalur lain yang dianggap lebih “aman” secara sosial. Terlihat jelas dan sangat kental, di balik stigma ada negosiasi panjang tentang martabat, ekonomi, dan pilihan sebagai perempuan di ruang kota.
Fenomena ini tak bisa dilepaskan dari wajah urbanisasi. Kota menciptakan peluang, tapi juga memaksa adaptasi. Bagi banyak perempuan, sektor informal, termasuk hiburan malam, menjadi ruang bertahan sekaligus ruang tawar. Di sanalah pemberdayaan menjadi kompleks antara kebutuhan ekonomi, keterbatasan pilihan kerja layak, dan upaya menjaga kendali atas hidupnya sendiri.
Besok, jeda itu selesai.
Mereka kembali bekerja. Kembali ke ruang-ruang hiburan malam, menemani tamu bernyanyi, tertawa, dan berpesta, menghidupkan lagi ekonomi malam yang sempat sunyi. Di balik lampu temaram dan musik yang riuh, mereka kembali mengambil peran yang sama. Hadir untuk orang lain, sambil pelan-pelan menunda urusan dirinya sendiri.
Bagi para penikmat hiburan malam, mungkin ini hanya soal melepas penat. Tentang musik, tawa, dan sesaat melupakan beban. Tapi pernahkah terlintas, bahwa yang di hadapan Anda bukan sekadar “layanan”, melainkan seseorang yang sedang menukar waktu, tenaga, bahkan sebagian harga dirinya untuk bertahan hidup? Cara Anda memperlakukan mereka, bahasa, sikap, pilihan untuk menghormati atau merendahkan, adalah cermin paling jujur dari kemanusiaan itu sendiri. Dan sering kali, mereka adalah ibu. Mengasuh anak, menanggung hidup, sama seperti ibu kita di rumah.
Hiburan tidak pernah salah. Yang keliru adalah cara kita memaknai manusia di dalamnya.
Sementara bagi pemerintah, ini adalah ruang abu-abu yang terlalu lama dibiarkan. Mereka bekerja, tapi tak diakui sebagai pekerja. Mereka menghasilkan perputaran ekonomi, tapi tak masuk dalam perlindungan yang layak. Tidak ada data, tidak ada skema perlindungan sosial yang jelas, bahkan sekadar pengakuan pun sering absen. Padahal, kota menikmati pajak dan denyut ekonomi dari sektor ini.
Jika negara hanya hadir pada yang terang, lalu siapa yang menjaga mereka yang hidup di wilayah remang?
Sudah saatnya pendekatan berubah. Bukan sekadar penertiban, melainkan pengakuan. Bukan hanya pengawasan, tapi perlindungan. Sebab di ujung semua ini, yang dipertaruhkan bukan sekadar ekonomi malam, melainkan martabat manusia yang terlalu lama diabaikan.
Dan ketika kota kembali larut dalam gemerlapnya, tak banyak yang benar-benar melihat mereka sebagai manusia utuh dengan lelah, harapan, dan ketakutan yang sama seperti kita. Lebaran bagi mereka sudah selesai lebih cepat. Yang tersisa bukan lagi perayaan, melainkan kebutuhan untuk bertahan, hari demi hari, dengan senyum yang harus tetap ada, meski tak selalu nyata.(**)
Bandar Lampung; 22 Maret 2026.
Tidak ada komentar