Menunggu Bantuan Langit: Kisah Petani Lampung Tengah dan Bendungan yang Hampir Hilang

waktu baca 2 menit
Selasa, 17 Feb 2026 17:52 6 Admin Elsa

RadarCyberNusantara.Id |  – Di Kabupaten Lampung Tengah, ada sebuah “keajaiban” yang menyakitkan. Bendungan Way Pengubuan yang seharusnya menampung juta’an kubik air guna kemakmuran, kini telah bermetamorfosis sempurna menjadi daratan. Selasa (17/2/2026).

Begitu padatnya sedimen di sana, sampai-sampai kaki bisa melangkah tanpa takut basah di tempat yang seharusnya menjadi rumah bagi jutaan kubik air.

Di tengah monumen kegagalan birokrasi ini, Pak Wares, seorang petani dari Desa Sinar Negeri, Kecamatan Pubian melakukan satu-satunya hal yang masih gratis dan tidak membutuhkan proposal berbelit, yakni dengan berdoa di atas tanah yang dulunya adalah dasar bendungan di Kecamatan Selagai Lingga. Anggota P3A ini melangitkan rintihan yang menampar nalar.

Doanya bukan sekadar ibadah, melainkan kritik pedas yang dibungkus dengan kepasrahan total. “Ya Allah, tempat yang seharusnya menjadi genangan air sekarang jadi daratan,” ucapnya. Sebuah kalimat sederhana yang merangkum bertahun-tahun pengabaian terhadap infrastruktur pertanian.

Namun, bagian paling “pedas” dari rintihan Pak Wares adalah ketika ia mulai membicarakan soal kepemimpinan. Dengan nada satir yang menyayat, ia seolah menyerah berharap pada stok pemimpin yang ada saat ini. Ia bahkan berseloroh meminta dikirimkan pemimpin dari luar negeri jika memang di negeri ini sudah kehabisan sosok yang punya nurani.

“Kalau memang orang di Indonesia sudah enggak ada, orang luar negeri enggak apa-apa ya Allah… yang penting berjiwa bersih, penolong, dan peduli dengan rakyat kecil seperti kami,” tuturnya nya dalam doa.

Pernyataan ini adalah tamparan keras bagi siapa saja yang duduk di kursi empuk kekuasaan. Pak Wares tidak sedang melucu, ia sedang menunjukkan betapa putus asanya petani ketika melihat bendungan mereka lebih mirip lapangan bola ketimbang sumber kehidupan.

Bagi mereka, janji-janji politik seringkali lebih cepat menguap daripada air di musim kemarau. Kini, sementara para pejabat mungkin sibuk dengan rapat-rapat teknis di ruangan ber-AC, Pak Wares dan petani di Kecamatan Pubian, Selagai Lingga dan sekitarnya tetap setia menunggu.

Mereka menunggu apakah “orang luar negeri” yang diminta dalam doa itu benar-benar harus datang, ataukah pemimpin lokal akhirnya terbangun dari tidurnya dan menyadari bahwa rakyatnya sudah lama haus—bukan hanya akan air, tapi akan keadilan.

Karena bagi Pak Wares, menyelamatkan bendungan ini bukan soal angka di atas kertas proyek, tapi soal menyelamatkan anak cucu agar tidak mewarisi kemiskinan di atas tanah yang subur. (Davi)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA

Dapatkan Berita Pilihan Di Whatsapp Untuk Anda.

 

X
error: Content is protected !!