Bendungan Way Pengubuan Lampung Tengah: Kemakmuran Yang Hilang, Tragedi lingkungan yang terlupakan

waktu baca 3 menit
Selasa, 17 Feb 2026 11:02 9 Admin Elsa

RadarCyberNusantara.Id | – Bendungan Way Pengubuan, sebuah infrastruktur vital yang dibangun pada tahun 1975, kini menjadi sebuah tragedi lingkungan yang terlupa. Bendungan yang seharusnya menjadi sumber air yang melimpah, kini telah berubah menjadi daratan yang kering dan tandus. Selasa (17/2/2026).

Dibangun pada masa pemerintahan Presiden Suharto dan diresmikan oleh Wakil Presiden Adam Malik, Bendungan Way Pengubuan diharapkan dapat menjadi solusi bagi kebutuhan air masyarakat Lampung Tengah.

Namun, seiring waktu, bendungan ini telah mengalami kerusakan yang signifikan. Tidak ada perawatan yang dilakukan, lumpur dan gulma telah menghutan di dalam bendungan, menyebabkan pendangkalan yang parah.

Menurut warga setempat, penyebab utama pendangkalan bendungan adalah kurangnya perawatan dan pengelolaan yang efektif. “Kami telah melihat bendungan ini menjadi semakin dangkal setiap tahun. Kami berharap pemerintah dapat melakukan sesuatu untuk menyelamatkan bendungan ini,” ungkap warga dengan nada lirih.

Selain itu, menurut warga pendangkalan bendungan juga disebabkan oleh erosi tanah di sekitar bendungan, yang menyebabkan lumpur dan tanah masuk ke dalam bendungan.

Diketahui dari seorang narasumber yang tidak ingin namanya dipublis, bahwa bendungan ini memiliki luas kurang lebih 42 hektar dan saat ini hampir 80% telah menjadi daratan. Kini, bendungan yang seharusnya dapat menampung ribuan bahkan jutaan kubik air, telah berubah menjadi daratan yang kering dan tandus.

Sumber menuturkan, sejak tahun 2006, Bendungan Way Pengubuan tidak pernah dilakukan pengangkatan sedimen. Hal ini menyebabkan pendangkalan yang parah dan mengurangi kapasitas air pada bendungan.

Sementara itu, Wares yang merupakan salah satu warga dari Desa Sinar Negeri, Kecamatan Pubian menyampaikan keluhannya terkait bendungan sekaligus jaringan aliran irigasi yang kini telah menyempit akibat lumpur dan gulma yang menumpuk pada saluran irigasi.

Dirinya juga  menyampaikan keluhan dan meminta agar ada perbaikan pada bendungan, sehingga dapat menampung air yang efektif dan kebutuhan petani sawah di jaringan irigasi primer Way Pengubuan dapat tercukupi.

Diketahui luas baku lahan sawah di aliran irigasi 5000 hektar, dengan luas fungsi 3.575 hektar. Namun, realisasi di lapangan kurang dari 3.575 hektar dikarenakan debit air tidak mencukupi.

Luas lahan persawahan tersebut tersebar di 4 kecamatan, yaitu Kecamatan Selagai Lingga, Kecamatan Pubian, Kecamatan Padang Ratu, dan Kecamatan Anak Ratu Aji. Namun ironisnya, para petani padi harus merasakan dampak kekurangan air. Akibatnya, hasil pertanian kurang maksimal.

Untuk mengatasi masalah ini, pemerintah harus segera melakukan perbaikan pada bendungan dan jaringan irigasi. Pengangkatan sedimen dan gulma harus dilakukan secara rutin untuk meningkatkan kapasitas bendungan.

Selain itu, pemerintah juga harus meningkatkan kesadaran masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan dan memantau penggunaan air yang efektif. Dengan demikian, Bendungan Way Pengubuan dapat kembali menjadi sumber air yang melimpah dan meningkatkan kesejahteraan masyarakat petani padi di Lampung Tengah. (Davi)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA

Dapatkan Berita Pilihan Di Whatsapp Untuk Anda.

 

X
error: Content is protected !!