Bukan Sekadar Polusi: PLTU Batu Bara Sebalang Diduga Picu Lonjakan ISPA dan Kanker

waktu baca 3 menit
Kamis, 19 Feb 2026 21:23 2 Admin Elsa

RadarCyberNusantara.Id | Di balik ambisi Indonesia membangun ketahanan energi lewat proyek 35.000 MW, terselip ancaman serius bagi kesehatan masyarakat dan lingkungan.

Salah satu potret nyata dari ancaman ini adalah PLTU Sebalang di Provinsi Lampung, yang kini menuai sorotan tajam dari masyarakat dan aktivis lingkungan.

PLTU yang memanfaatkan batu bara sebagai sumber energi ini dinilai telah memberikan dampak signifikan terhadap kualitas udara, kesehatan masyarakat, kondisi laut, hingga perekonomian lokal.Meski menjadi bagian penting dari sistem kelistrikan nasional, polusi yang dihasilkan tak bisa lagi diabaikan.

Asap pekat dari cerobong PLTU Sebalang tidak hanya mengotori langit, tetapi juga membawa ancaman nyata ke paru-paru warga. Udara yang tercemar oleh partikel halus (PM2.5), sulfur dioksida (SO₂), dan nitrogen oksida (NOₓ) memicu peningkatan kasus infeksi saluran pernapasan akut (ISPA), asma, hingga bronkitis kronis.

Warga di sekitar PLTU mengaku sering mengalami sesak napas, batuk berkepanjangan, dan gejala iritasi saluran pernapasan. Kelompok rentan, seperti anak-anak dan lansia, menjadi yang paling terdampak.

“Setiap pagi, udara di sekitar rumah bau menyengat. Anak saya sering batuk-batuk, terutama saat cerobong mengeluarkan asap hitam,” ujar Ma’at (64), warga desa sekitar PLTU.

Tak hanya udara, laut di sekitar PLTU Sebalang juga ikut tercemar. Limbah cair yang dibuang ke laut menyebabkan penurunan kualitas air laut dan hasil tangkapan ikan. Banyak nelayan lokal mengaku pendapatan mereka turun drastis.

Penelitian menunjukkan bahwa aktivitas PLTU batu bara berkorelasi dengan penurunan biodiversitas laut dan gangguan ekosistem pesisir.

“Ikan makin sedikit. Kadang jaring kosong. Laut bukan tempat kami cari makan lagi,” ungkap seorang nelayan setempat.

Distribusi batu bara ke PLTU yang melibatkan truk-truk besar menyebabkan kerusakan jalan utama yang menghubungkan desa-desa sekitar. Lubang-lubang besar dan jalan berlumpur tak hanya mengganggu aktivitas warga, tapi juga menurunkan minat wisatawan yang sebelumnya kerap mengunjungi kawasan ini.

Dampaknya, sektor pariwisata lokal ikut terpukul. Homestay, warung makan, hingga pengrajin oleh-oleh kehilangan pendapatan.

Menurut laporan penelitian lingkungan dan data kesehatan, paparan polutan dari PLTU batu bara diperkirakan menyebabkan hingga 6.500 kematian dini setiap tahun di Indonesia. Jika pembangunan PLTU terus berlanjut, angka tersebut bisa melonjak menjadi 20.000 lebih kematian dini per tahun.

Studi dari Universitas Harvard menunjukkan, setiap kenaikan 1 µg/m³ PM2.5 dari PLTU meningkatkan risiko kematian sebesar 1,12 persen—dua kali lipat dari rata-rata polusi PM2.5 dari sumber lainnya.

Paparan jangka panjang terhadap PM2.5 juga terbukti memicu kanker paru-paru, stroke, dan penyakit jantung iskemik. Kelompok paling terdampak adalah anak-anak, ibu hamil, dan lansia, yang memiliki sistem kekebalan lebih rentan terhadap polusi udara.

Para pegiat lingkungan dan masyarakat sipil menuntut pemerintah mengambil langkah konkret. Beberapa rekomendasi mendesak yang mereka ajukan meliputi:Penerapan ketat standar emisi bagi seluruh PLTU, termasuk pemasangan teknologi desulfurisasi dan sistem kontrol polusi modern.

Evaluasi komprehensif terhadap dampak lingkungan dan kesehatan dari setiap PLTU yang beroperasi.Percepatan transisi energi bersih, termasuk mendorong investasi di sektor energi terbarukan seperti tenaga surya, angin, dan hidro.

Moratorium pembangunan PLTU baru, dan rencana penghentian bertahap PLTU eksisting yang paling mencemari.

PLTU Sebalang hanyalah satu dari puluhan PLTU batu bara di Indonesia yang menyisakan jejak kerusakan lingkungan dan kesehatan masyarakat. Meski menjadi bagian dari strategi pemenuhan kebutuhan energi, pendekatan berbasis batu bara terbukti menyisakan biaya sosial dan ekologis yang sangat tinggi.

Kini, pilihan ada di tangan pemerintah dan masyarakat. Apakah kita akan terus menormalisasi polusi dan kematian dini sebagai bagian dari ‘pembangunan’?

Atau mulai beralih menuju masa depan energi yang bersih dan berkeadilan?”Setiap suara, setiap aksi, bisa menjadi bagian dari solusi. Masa depan anak cucu kita tidak boleh dibayar dengan napas yang sesak dan laut yang mati.

(Red)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA

Dapatkan Berita Pilihan Di Whatsapp Untuk Anda.

 

X
error: Content is protected !!