RadarCyberNusantara.Id | Riwayat perjuangan Mayor Jenderal TNI (Purn.) Musannif Ryacudu (1924–1987) merupakan cerminan dedikasi seorang prajurit sejati yang mengabdikan seluruh hidupnya, dari Revolusi Kemerdekaan hingga operasi militer pasca-kemerdekaan. Ayah dari Jenderal TNI (Purn.) Ryamizard Ryacudu (mantan Menteri Pertahanan RI) ini adalah pahlawan yang menempuh jalur komando militer yang panjang, dimulai dari medan pertempuran di Sumatera.
Dari Pendidikan Jepang ke Komando Gerilya Sumatera
Lahir di Mesir Ilir, Bahuga, Way Kanan, Lampung, pada 28 Februari 1924, Ryacudu muda telah membentuk mental prajuritnya melalui pendidikan militer ala Jepang, Gyu Gun Kanbu, hingga tahun 1943. Pembentukan mental yang disiplin ini menjadi modal utama saat ia terjun ke medan perang Revolusi.
Pada masa Perang Kemerdekaan, Musannif Ryacudu memegang beberapa jabatan kunci di Palembang dan sekitarnya:
Kepala Pendidikan Latihan Staf Sub. Komandemen Sumatera Selatan (1946).
Komandan Batalyon 32/XV merangkap Komandan Mobilisasi Rakyat Sektor IV (1947).
Komandan Ogan/Komandan Area Gerilya merangkap Komandan Batalyon 24/XV (1947–1948).
Palembang: Ujian Pertama Melawan Agresi
Peran strategis Ryacudu sangat menonjol saat Palembang digempur oleh tentara Belanda dalam serangkaian agresi. Ia termasuk komandan di Resimen XV Tentara Republik Indonesia (TRI) yang bahu-membahu dengan Mayor Zurbi Bustan dan Kapten Makmun Murod memimpin perlawanan.
Kiprahnya di Palembang dan kemudian Lampung membuatnya harus menjalani hidup sebagai komandan gerilya. Menurut kisah sang istri, R.A. Zuhariah, kehidupan pernikahan mereka sempat terpotong oleh tugas: “Kami hanya sempat menikmati pernikahan 19 hari. Saya langsung ditinggal perang lagi,” kenangnya.
Luka Tembak di Lampung dan Operasi Pasca-Revolusi
Ryacudu tidak hanya memimpin dari belakang garis. Keberaniannya teruji saat ia kembali ke Lampung untuk membantu pertahanan melawan sisa-sisa perlawanan Belanda. Dalam sebuah pertempuran sengit, Ryacudu nyaris kehilangan nyawanya. Peluru Belanda sempat bersarang di dada, sedikit mengenai paru-parunya. Kabar mengenai luka ini dirahasiakan dari keluarga, menunjukkan dedikasinya yang total terhadap tugas di lapangan.
Setelah Revolusi Kemerdekaan, Ryacudu terus mengemban tugas berat di berbagai operasi militer yang bertujuan menjaga keutuhan NKRI:
Penumpasan DI/TII: Ia turut serta dalam Operasi Penumpasan DI/TII di Garut-Tasikmalaya (Jawa Barat) pada 1951–1952.
Operasi PRRI/Permesta (1958).
Pembebasan Irian Barat: Ia terlibat aktif dalam Operasi Teritorial Ekonomi-Pemerintahan untuk pembebasan Irian Barat/Papua.
Operasi Dwikora: Menjabat Panglima Kodam XII/TPR (Tanjungpura) di Pontianak dan menjadi “ujung tombak” dalam Operasi Dwikora melawan konfrontasi Malaysia (1963–1966).
Karir militernya terus menanjak, dari kapten, mayor, letnan kolonel, hingga mencapai pangkat tertinggi Mayor Jenderal TNI. Musannif Ryacudu wafat di Jakarta pada 6 Maret 1987 dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata. Sebagai bentuk penghormatan, namanya kini diabadikan sebagai nama jalan dan monumen di Lampung.
Sumber Referensi:
Arsip Militer: Profil Sesepuh Kodam II/Sriwijaya.
Buku Biografi: Mayjen M. Ryacudu Prajurit Perang Dari Mesir Ilir (Sudarmono).
Media Massa: Wawancara dengan R.A. Zuhariah (istri Musannif Ryacudu) di Tokoh Lampung (2008).
Ensiklopedia Daring: Musannif Ryacudu (Wikipedia & sumber terkait).
Tidak ada komentar