RadarCyberNusantara.Id | Di banyak ruang pendidikan, terjadi paradoks yang mengusik pikiran kita bahwa sekolah semakin efisien dalam mencetak angka, namun belum tentu mampu membentuk manusia yang bernilai.
Nilai rapor, rangking, atau daftar peraih juara sering dipuja sebagai tanda keberhasilan; padahal pendidikan hakikatnya jauh lebih luas, ia adalah proses membentuk individu agar mampu memberi manfaat kepada diri sendiri, keluarga, dan masyarakat.
Ketika fokus hanya terjebak pada akumulasi nilai dan sertifikat, sekolah kehilangan ruhnya sebagai lembaga yang mencetak karakter, kemauan kritis, dan kepekaan sosial.
Fenomena ini bukan sekedar retorika idealis. Di lapangan, pemeriksaan capaian pembelajaran menunjukkan bahwa banyak anak yang lulus dengan nilai formal namun belum menguasai keterampilan dasar yang esensial seperti literasi, numerasi, berpikir kritis yang dapat diterapkan dalam kehidupan nyata.
Oleh karena itu, marilah kita meninjau kembali, “Apakah tujuan pendidikan sekadar memperoleh skor tinggi, ataukah menyiapkan manusia yang mempunyai kapasitas moral dan kemampuan praktis untuk kehidupan hasilnya?.”
Kita tidak bisa berbicara tentang visi pendidikan tanpa memperhatikan data. Laporan-laporan resmi dan studi internasional selama tahun 2023-2025 menegaskan adanya tantangan besar pada pencapaian dasar pembelajaran seperti literasi, numerasi, dan keterampilan transformatif lainnya masih memerlukan perhatian serius.
Statistik pendidikan Indonesia 2024 yang diterbitkan BPS memaparkan gambaran struktural sistem pendidikan bahwa akses meningkat, tetapi disparitas dan kualitas pembelajaran tetap menyebabkan pekerjaan rumah biasa.
Laporan-laporan global menekankan bahwa perangkat dan akses saja tidak cukup dan perlu intervensi harus fokus pada kualitas pembelajaran dasar dan transfer pengetahuan ke konteks nyata.
Di sisi yang lain, program inisiatif seperti INOVASI dan kemitraan multilateral berupaya memperbaiki capaian pembelajaran di daerah-daerah prioritas melalui program peningkatan kualitas guru, materi kontekstual, dan pendekatan pembelajaran berpusat pada murid. Implementasi semacam ini memperlihatkan arah kebijakan yang menempatkan manusia bukan angka sebagai tujuan akhir.
Catatan pentingnya adalah perbaikan numerik pada statistik (mis. kenaikan capaian dasar pada beberapa daerah) adalah kabar baik, tetapi masih jauh dari cukup.
Angka-angka tersebut harus dibaca sebagai indikator bukan definisi keberhasilan pendidikan. Apa yang lebih penting adalah kualitas hidup yang dihasilkan dari pendidikan itu, “Apakah lulusan mampu berpikir kritis, bertindak etis, dan memberi kontribusi nyata ?’.
Obsesi pada nilai tinggi dan sertifikat memproduksi serangkaian konsekuensi psikologis dan sosial seperti stres berlebihan, pembelajaran superfisial (hanya untuk lulus), dan penurunan rasa ingin tahu intrinsik. Ketika tujuan belajar dikerdilkan menjadi persiapan menghadapi ujian, proses pembelajaran berubah menjadi rutinitas mekanis dengan mengingat formula dan teknik menjawab soal ketimbang pembelajaran bermakna yang mengajarkan analisis, pemecahan masalah, dan empati.
Secara psikologis, fokus berlebihan pada skor membuat motivasi beralih dari internal (rasa ingin tahu, pemenuhan diri) ke eksternal (pengakuan sosial, hadiah material).
Hasilnya bukan hanya kualitas kompetensi yang menurun, tetapi juga kesehatan mental murid yaitu angka kecemasan akademik dan burnout meningkat. Studi pendidikan internasional menunjukkan bahwa ukuran keberhasilan yang sempit mendorong perilaku menghafal, mengurangi kreativitas, dan melemahkan kemampuan berpikir kritis adalah kompetensi penting yang dibutuhkan dunia kerja dan kehidupan bermasyarakat.
Dalam konteks Lampung, tekanan terhadap nilai juga sering kali datang dari harapan keluarga, budaya prestasi instan, dan ekosistem pendidikan yang masih memberi reward lebih besar kepada peringkat daripada kualitas karakter. Jika tidak diluruskan, generasi yang “pandai di atas kertas” akan kesulitan menghadapi masalah nyata seperti konflik sosial, kompleksitas pekerjaan, dan tanggung jawab moral.
Apa makna “menjadi bernilai”? Secara sederhana, menjadi bernilai berarti kemampuan mengaplikasikan ilmu untuk kebaikan memecahkan masalah nyata, berbuat adil, memberi manfaat bagi lingkungan. Nilai akademis hanya satu indikator kemampuan kognitif, bukan keseluruhan kapasitas kemanusiaan.
Seorang lulusan dengan IPK tinggi tetapi tanpa etika, empati, dan kreativitas, berisiko gagal memberi kontribusi yang berarti. Sebaliknya, individu dengan prestasi biasa tapi memiliki jiwa pengabdian, integritas, dan keterampilan praktis sering menjadi agen perubahan yang amat dibutuhkan masyarakat.
Sekolah yang sehat menggabungkan kompetensi kognitif dan karakter dimana kurikulum menumbuhkan keterampilan berpikir tingkat tinggi, program ekstrakurikuler melatih kepemimpinan, dan proyek berbasis komunitas menguji penerapan ilmu pada masalah nyata.
Model pembelajaran semacam itu mengubah murid dari pemburu nilai menjadi pemecah masalah yang tangguh, beretika, dan adaptif. Ini adalah bentuk pendidikan yang mempersiapkan warga negara, bukan sekadar pencetak lulusan.
Sekolah yang efektif menjembatani teori ke praktik. Ketika siswa belajar konsep matematika, mereka juga harus diminta menerapkannya pada kasus riil: mengelola anggaran, merancang solusi skala komunitas, atau memecahkan masalah lokal.
Pendidikan berbasis proyek (project-based learning), pembelajaran kontekstual, dan pelayanan masyarakat (service learning) adalah jalan praktis agar ilmu menjadi alat perubahan sosial.
Program-program percontohan di beberapa daerah di Lampung telah menunjukkan bahwa pendekatan yang mengaitkan pembelajaran dengan realitas lokal meningkatkan motivasi belajar dan relevansi pendidikan. Guru dilatih untuk merancang tugas yang memaksa siswa berpikir kritis serta bekerja sama, bukan hanya menghafal.
Implementasi semacam ini menunjukkan bahwa bila pendidikan diarahkan untuk membentuk kapasitas berkontribusi, hasil belajarnya akan lebih tahan lama dan bermakna.
Selain metodologi, evaluasi pendidikan juga perlu berubah dari sekadar ujian formatif menjadi penilaian holistik yang memasukkan portofolio, penilaian keterampilan sosial-emosional, dan umpan balik komunitas. Dengan demikian, sekolah tidak lagi memproduksi angka kosong tetapi individu yang siap berkarya.
Di era ekonomi berbasis keterampilan, sertifikat memang penting tetapi mereka bukan jaminan kontribusi bermakna. Pasar kerja saat ini menuntut keterampilan lunak (soft skills) seperti kerjasama, komunikasi, dan kemampuan berpikir kritis, yang jarang tercantum di ijazah formal. Banyak perusahaan kini menilai kandidat berdasarkan portofolio, kemampuan memecahkan masalah nyata, dan rekam jejak kontribusi bukan hanya nilai akademis.
Oleh karena itu, pendidikan yang sekadar menyiapkan lulusan untuk mengumpulkan sertifikat berjalan di tempat. Ia memberi keuntungan jangka pendek (akses ke peluang seleksi), tetapi tidak menjamin kesiapan hidup jangka panjang. Transformasi kurikulum yang menekankan kompetensi abad 21 yaitu kreativitas, kolaborasi, literasi data adalah keharusan untuk membuat lulusan relevan bagi dunia kerja dan masyarakat.
Jika ada satu saran yang harus menjadi prioritas, itu adalah penguatan pendidikan karakter. Kejujuran, tanggung jawab, disiplin, empati, dan keberanian dan nilai-nilai ini membentuk landasan etika bagi penggunaan ilmu. Tanpa integritas, ilmu dapat disalahgunakan tanpa empati, kompetensi bisa menjadi alat eksklusi.
Kurikulum negara, program guru, dan keterlibatan orang tua harus bekerja sinergis untuk menanamkan karakter ini sejak dini. Berbagai studi menunjukkan bahwa program karakter yang terstruktur (mis. pembelajaran sosial-emosional) meningkatkan tidak hanya perilaku adaptif siswa tetapi juga prestasi akademik jangka panjang.
Artinya, investasi pada karakter bukan penghambat prestasi, melainkan fondasi bagi pembelajaran yang lebih bermakna.
Mengubah paradigma menilai pendidikan membutuhkan tindakan konkret: (1) sistem penilaian holistik yang memasukkan portofolio dan asesmen kinerja; (2) ruang sekolah sebagai “laboratorium warga” di mana siswa melakukan proyek komunitas; (3) pelatihan guru untuk menilai kompetensi nyata; (4) peran orang tua dan komunitas sebagai mitra autentik dalam proses pembelajaran.
Kebijakan publik harus mendukung langkah-langkah ini bukan hanya menyediakan infrastruktur digital atau ujian standar. Transformasi ini juga memerlukan keberanian untuk menolak kultur prestasi yang sempit: menghargai usaha, proses, dan kontribusi setara dengan penilaian hasil.
Bila negara, sekolah, dan keluarga bersinergi, pendidikan akan kembali menjadi sumber kehidupan yang akan menghasilkan manusia yang bernilai, bukan sekadar manusia bersertifikat.
Pendidikan yang benar adalah pendidikan yang membentuk insan yang bukan sekadar kecerdasan yang terpampang di kertas, melainkan karakter, moral, dan kemampuan memberi manfaat. Di hadapan Allah SWT dan manusia, gelar hanyalah label karena pada hakikatnya yang mulia adalah perilaku yang memperbaiki kehidupan.
Oleh karena itu, saya mengajak semua pemangku kepentingan pemerintah, pendidik, orang tua, dan masyarakat untuk bersama-sama meneguhkan arah pendidikan di Lampung: dari pabrik nilai menuju benteng kemanusiaan. Untuk kawan-kawan pendidik, mengajar bukan sekadar memberi jawaban, tetapi menumbuhkan pertanyaan maka jadilah fasilitator yang membimbing murid menemukan makna dan tanggung jawab.
Untuk orang tua: redam tekanan pada skor; dukung proses belajar yang menumbuhkan karakter. Jadilah teladan integritas dan empati. Untuk pembuat kebijakan, mohon arahkan investasi pada kualitas pembelajaran dasar, pelatihan guru berbasis bukti, dan sistem penilaian holistik yang menghargai kontribusi nyata. Untuk siswa, ingatlah bahwa nilai adalah alat, bukan tujuan maka fokuslah belajar untuk mampu memberi manfaat dan membangun kehidupan bermakna.
Dalam perspektif Islami, pendidikan adalah amanah suci: “Tuntutlah ilmu sampai ke liang lahat” bukan agar kita pamer, melainkan agar kita bermanfaat. Al-Qur’an mengingatkan bahwa ilmu harus memperhalus jiwa dan memupuk amal: “Dan Allah mengangkat orang-orang yang berilmu di antara kamu beberapa derajat” (QS. Al-Mujadilah: 11).
Dan Rasulullah SAW menegaskan bahwa sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi manusia lainnya. (HR. Ahmad). Nabi mengajarkan bahwa ilmu tanpa akhlak tidak lengkap; ilmu menjadi cahaya hanya bila menuntun pada perbaikan diri dan masyarakat.
Akhirnya, marilah kita ubah definisi keberhasilan dimana bukan lagi rapor yang penuh angka, tetapi hidup yang penuh arti, hidup yang mampu memberi solusi, memberi kasih, dan memberi harapan.
Pendidikan sejati menyiapkan manusia yang bertakwa, berilmu, dan beramal. Itulah warisan yang tak lekang oleh waktu: bukan sertifikat yang membusuk di lemari, tetapi kehidupan yang memberi manfaat bagi banyak orang.
“Jadikan ilmu sebagai jembatan, bukan tembok. Jadikan sekolah sebagai ladang pelayanan, bukan pabrik nilai. Karena hakikat ilmu adalah menjadikan kita lebih baik di hadapan Allah dan manusia.”
Bandar Lampung : 30 Desember 2025.
Penulis : Pinnur Selalau.
Editor : Meli Eprianti S.H.
Tidak ada komentar