Setahun Lebih Program MBG, Benarkah Gizi Anak Sudah Terpenuhi?

waktu baca 5 menit
Minggu, 22 Feb 2026 08:07 1 Admin RCN

Oleh : Pinnur Selalau.(Pimred media RadarCyberNusantara.Id)

Opini : Program Makan Bergizi Gratis (MBG) sudah dijalankan selama satu tahun lebih semenjak kepemimpinan Presiden Prabowo Subianto, walaupun program ini belum merata akan tetapi dana yang sudah di keluarkan tidak sedikit, bahkan cukup fantastis.

Bukan saja anggaran untuk memastikan ketersediaan bahan dan penyajian menu, tetapi para pekerja di SPPG juga harus diupah dan gaji, mereka bahkan melebihi gaji honorer. Wajar saja, karena anggaran untuk prgram MBG ini mencapai triliunan. Mulai dari Rp 71 triliun di tahun 2025 dan melonjak tinggi di tahun 2026 menjadi Rp 335 triliun (kompas.com, 19 Jan 2026).

Namun dari mulai adanya program ini berjalan, berbagai pro kontra terus mengemuka di masyarakat. pasalnya, MBG ini dinilai tidak menjadi kebutuhan mendasar anak-anak sekolah.

Disamping itu kwalitas gizi pada makanan yang disediakan oleh SPPG terkadang jauh kwalitasnya dibandingkan dengan gizi makanan anak-anak yang disediakan oleh orang tua mereka dirumah.

Selain itu, MBG yang merupakan program unggulan Presiden Prabowo Subianto itu bisa dibilang salah sasaran, karena yang disasar bukan hanya anak-anak dari keluarga kurang mampu, tapi termasuk anak-anak dari keluarga golongan menengah keatas yang tidak membutuhkan Makan Bergizi Gratis.

Masyarakat berharap dana MBG ini bisa diprogramkan untuk pendidikan gratis di beberapa jenjang, mengingat anggaran yang begitu tinggi dan alokasi anggaran pendidikan sebesar 769 triliun sepertiganya untuk MBG (news.ddt.co.id, 25 Jan 2026).

Sebab, buat apa pemenuhan gizi, jika pemenuhan kebutuhan dasar pendidikan dan kesehatan tidak terpenuhi. Percuma memperbaiki gizi jika anak-anak terancam putus sekolah karena biaya pendidikan cukup mahal, sehingga keluarga yang tergolong kurang mampu tidak bisa melanjutkan sekolah ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi.

Tidak hanya itu, menu MBG yang setiap hari di suguhkan terkadang tidak sesuai standar gizi yang di butuhkan anak-anak. Mengingat adanya program ini ada karena masalah stunting dan malnutrisi yang tinggi di Indonesia.

Anak-anak disuguhkan menu mie, susu kemasan yang mengandung gula tinggi, buah yang tak layak makan karena busuk, bahkan sampai ayam yang dihinggapi belatung. Alhasil anak-anak banyak yang keracunan akibat menyantap MBG. Mirisnya lagi jika menu MBG itu berupa snack atau makanan ringan, tidak ada sama sekali gizi yang siswa butuhkan, semua berbahan tepung, serta gula yang tinggi.

Desakan pemberhentian program MBG akhirnya menggema, mulai dari organisasi sipil, seperti KPAI dan ICW sampai masyarakat biasa. Bahkan Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia, meminta agar pemerintah menghentikan sementara MBG sebab banyaknya kasus siswa yang tumbang karena keracunan.

Pemerintah harusnya melakukan evaluasi menyeluruh, menyiapkan payung hukum untuk memperbaiki tata kelola MBG dan lain-lain, nampak bahwa program ini seperti terburu-buru tanpa ada kesiapan (kompas.id, 17 Okt 2025).

Ada juga masukan agar MBG ini digantikan dengan penerimaan uang per-hari oleh orang tua wali murid, karena mereka akan berusaha memastikan kebutuhan gizi anak-anak dengan anggaran yang diberikan, mulai dari protein, karbo dan kalsium. Namun masukan tersebut ditolak dengan alasan program ini adalah wujud dari janji presiden saat kampanye.

Masalahnya adalah banyak makanan yang tersisa sebab para siswa tidak suka dan tidak sesuai selera mereka, akhirnya terbuang ke sampah. Padahal itu semua dibeli dengan duit, seolah-olah menghamburkan uang demi program populis yang tidak ada sama sekali kemanfaatannya kepada generasi.

Alih-alih menyelesaikan malnutrisi, program ini justru menambah problem baru yang harusnya tidak terjadi, terbukti dengan adanya kasus keracunan di berbagai wilayah yang berbeda-beda. MBG tidak mampu menyelesaikan problem gizi buruk atau malnutrisi sebab akar persoalannya terletak pada kegagalan negara dalam mewujudkan kesejahteraan.

Indonesia yang menganut sistem kapitalisme telah menciptakan kesenjangan yang jauh dari masyarakat, akibatnya kemiskinan semakin bertambah parah, lapangan pekerjaan yang sulit, yang menyebabkan kebutuhan masyarakat terancam dan akhirnya tidak mampu membeli apa yang dibutuhkan oleh nutrisi tubuh.

Misalnya harga daging yang mahal, harga buah yang melonjak tinggi. Mirisnya masyarakat hanya diberi solusi makan keong sebagai pengganti daging.

Sementara itu, pendidikan dan kesehatan pun semakin berbiaya tinggi, istilah orang miskin dilarang sekolah dan sakit itu benar-benar nyata.

Sebenarnya yang dibutuhkan generasi hari ini bukan hanya makan gratis, tapi juga pendidikan gratis. Agar tidak ada anak yang memilih bunuh diri akibat tak mempu membeli buku dan pulpen, seperti yang terjadi di NTT beberapa waktu yang lalu.

Serta butuh makan gratis agar tidak ada anak yang jualan tisu di jalan, jadi manusia silver di lampu merah, demi membeli beras untuk menyambung hidup, namun mirisnya ia justru meregang nyawa akibat terlindas alat berat di jalan saat mencari rupiah demi sesuap nasi.

Kapitalisme hanya menyuguhkan solusi tambal sulam, yang justru tidak akan pernah menyelesaikan persoalan, sebab sistem inilah yang menimbulkan kerusakan parah pada tatanan kehidupan masyarakat dalam berbagai aspek, termasuk menjamurnya kemiskinan.

Bahkan adanya program yang diberlakukan hanya menguntungkan sebagian orang, seperti proyek MBG yang dijadikan sebagai proyek untuk mencari keuntungan sebesar-besarnya, terlihat dari kualitas dan kuantitas makanan yang disajikan kepada siswa.

Selain itu juga,tidak nampak seperti yang digaungkan pemerintah bahwa, program MBG akan mampu menggerakkan ekonomi masyarakat, menghidupkan UMKM, karena SPPG dalam belanja kebutuhan MBG melalui pedagang grosiran dan distributor bukan melalui UMKM atau petani, peternak, dan nelayan secara langsung.

Belum lagi persoalan dapur SPPG, dimana pemilik dapur SPPG hanya orang-orang tertentu, yakni para pejabat baik eksekutif, legislatif maupun yudikatif, atau keluarga dan kerabat para pejabat, sehingga pemerataan dan keadilan ekonomi yang diharapkan tidak terpenuhi.

Jika problemnya pada malnutrisi dan stunting, harusnya pemerintah melihat dari sudut pandang akar persoalan yang terjadi. Bukan malah membuat program populis bahkan memicu problem baru, akan tetapi hal ini sudah niscaya dalam sistem kapitalisme yang tidak mampu memberikan solusi fundamental. Selama satu tahun program MBG berjalan, malnutrisi dan masalah stunting bukan menurun justru makin bertambah.

Bandar Lampung : 22 Februari 2026.
Editor : Elsa S.H.
Author : RadarCyberNusantara.Id.

 

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA

Dapatkan Berita Pilihan Di Whatsapp Untuk Anda.

 

X
error: Content is protected !!