Hanya Bermodal KTA: Ngaku Wartawan Tapi Tak Bisa Menulis Berita

waktu baca 3 menit
Senin, 14 Sep 2026 22:40 3 Admin Elsa

RadarCyberNusantara.Id | Ditengah menjamurnya media online dan media massa lainnya, serta masifnya pembentukan organisasi wartawan, ada satu hal yang sungguh memprihatinkan dan layak direnungkan bersama: semakin banyak yang mengaku sebagai wartawan, namun semakin sedikit yang mampu membuktikannya lewat tulisan yang layak dibaca. Ada yang menyandang nama organisasi, tampil di acara resmi, berfoto di samping pejabat, namun ketika diminta menghasilkan karya, tak satu pun tulisan bermutu mampu disajikan. Yang diandalkan bukanlah ketajaman pena, kedalaman riset, atau kesetiaan pada fakta — melainkan sekadar Kartu Tanda Anggota yang digenggam erat, seolah selembar kertas itu sudah cukup menjadi jaminan keabsahan seorang jurnalis.

Padahal, jurnalisme bukanlah soal identitas yang tertera di kartu. Ia bukan tentang lambang organisasi yang ditempel di dada, bukan pula tentang siapa yang lebih dulu disapa di ruang kerja dinas atau kantor bupati, walikota atau gubernur. Jurnalisme adalah soal tanggung jawab yang tertuang dalam setiap baris tulisan, kebenaran yang dijunjung tinggi, dan manfaat yang dirasakan masyarakat luas. Seseorang boleh memegang seratus kartu keanggotaan sekaligus, tetapi jika ia tak mampu menyampaikan fakta secara jujur, akurat, dan berimbang — maka ia belum layak disebut wartawan.

Belakangan ini, makin banyak yang masuk ke dunia ini dengan pemahaman yang keliru. Mereka berpikir bahwa bermodal KTA sudah cukup untuk berkeliling, memperoleh perlakuan istimewa, bahkan menganggap diri setara dengan mereka yang telah bertahun-tahun menggeluti dunia tulis-menulis. Mereka lupa: KTA hanyalah tanda pendaftaran, bukan bukti kemampuan. Kartu itu tidak akan menulis berita, tidak akan mengoreksi fakta, dan tidak akan menjaga kepercayaan masyarakat. Yang membedakan wartawan sungguhan bukan kartu yang digenggam, melainkan karya yang dihasilkan. Dan yang menjaga kehormatan profesi ini bukanlah kedekatan dengan siapa pun, melainkan kesetiaan pada Kode Etik Jurnalistik serta UU No. 40 Tahun 1999 tentang Pers.

Menjadi wartawan berarti memahami bahwa tugas utama kita bukan sekadar hadir lalu pulang, melainkan menyampaikan informasi yang benar, mengawal kebijakan, mengedukasi publik, dan menjadi jembatan yang kokoh antara rakyat dan penyelenggara negara. Kita bukan pelengkap foto di acara resmi, bukan pula pengantar ucapan belaka. Kita adalah saksi sekaligus suara bagi mereka yang berhak tahu. Jika tidak ada satu pun tulisan yang bermanfaat dihasilkan, maka seberapa rapi pun penampilan, seberapa megah pun nama organisasi yang dipakai — semua itu hanyalah topeng.

Profesi ini tidak mengenal gelar berdasarkan kartu. Pengakuan tidak diminta, melainkan diperjuangkan. Pengakuan itu lahir ketika masyarakat merasa berita yang disampaikan bermanfaat, jujur, dan dapat dipercaya. Ketika seseorang hanya mengandalkan KTA tanpa kemampuan menulis, tanpa pemahaman kode etik, tanpa kepekaan terhadap kepentingan publik — ia tidak hanya merugikan dirinya sendiri, tetapi juga mencemari nama baik seluruh insan pers yang bekerja sungguh-sungguh.

Kepada siapa pun yang mengaku sebagai wartawan, mari kita tanya pada diri sendiri: apa yang telah kita tinggalkan setelah kita pergi? Apakah tulisan yang mengubah keadaan, atau sekadar jejak yang segera terlupakan? Rakyat tidak membaca kartu kita. Mereka membaca karya kita. Jika tidak ada karya yang layak, maka sehebat apa pun keanggotaan yang dipamerkan, pada akhirnya hanya akan menjadi nama yang hilang ditelan waktu.

Seorang wartawan atau jurnalis akan dihargai dan dihormati karena karya tulisnya, bukan karena KTA, bukan karena koneksi, bukan karena penampilan.Seorang wartawan akan di kenang karena jejak digital karya tulisnya, bukan karena kegagahan atau keberaniannya.

Jangan biarkan KTA menjadi satu-satunya bukti keberadaan kita. Biarlah tulisan kita yang berbicara. Biarlah fakta yang menjadi tameng kita. Dan biarlah kepercayaan masyarakat menjadi penghargaan tertinggi yang kita perjuangkan — bukan dengan cara meminta, melainkan dengan karya yang tulus, jujur, dan abadi. (Penulis “Pinnur Selalau)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA

Dapatkan Berita Pilihan Di Whatsapp Untuk Anda.

 

X
error: Content is protected !!