RadarCyberNusantara.Id | – Di tengah khidmatnya persiapan seluruh elemen bangsa menyambut Hari Ulang Tahun (HUT) ke-81 Kemerdekaan Republik Indonesia, sebuah insiden mencederai nilai-nilai kebangsaan. Aksi penurunan bendera Merah Putih serta perusakan lambang negara Garuda Pancasila oleh sekelompok oknum pemuda di Banda Aceh, menuai reaksi keras dari berbagai organisasi kemasyarakatan.
Ketua Umum Gerakan Cinta Prabowo (GCP), H. Kurniawan, yang akrab disapa Bang Iwan, mengecam keras tindakan anarkis yang merendahkan kehormatan simbol negara tersebut. Pernyataan resmi ini disampaikan Bang Iwan dalam keterangan tertulisnya kepada media pada Senin, 17 Agustus 2026.
“Saat seluruh rakyat Indonesia tengah bersiap merayakan hari bersejarah Proklamasi Kemerdekaan 17 Agustus 1945 dengan rasa cinta tanah air yang mendalam, kita justru disuguhkan tindakan sekelompok pemuda di wilayah paling barat Indonesia yang tidak menghargai pengorbanan para pahlawan. Apapun dalil atau alasan di baliknya, perusakan lambang negara Garuda Pancasila dan penurunan bendera Merah Putih adalah tindakan mencederai rasa persatuan yang sangat menyakitkan hati rakyat,” tegas Bang Iwan.
Menurut informasi yang dihimpun, peristiwa tersebut terjadi di tengah dinamika peringatan Hari Damai Aceh. Sekelompok massa dilaporkan mencopot ornamen lambang Garuda Pancasila di Pendopo Gubernur Aceh, melakukan tindakan tidak hormat di jalanan, serta mengganti bendera Merah Putih dengan bendera lain.

Menanggapi situasi tersebut, Bang Iwan meminta jajaran pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan aparat penegak hukum untuk segera mengambil langkah hukum yang tegas dan terukur. Menurutnya, tindakan ini penting sebagai bentuk pembelajaran publik (aspek edukasi hukum) agar tidak ada lagi pihak yang berani mengabaikan marwah dan kehormatan konstitusi negara.
“Ini menyangkut marwah, kehormatan, dan harga diri bangsa. Siapapun tidak boleh melakukan pelecehan terhadap simbol yang dilindungi undang-undang. Pemerintah harus hadir memberikan kepastian hukum dan edukasi bahwa kritik atau penyampaian aspirasi tidak boleh kebablasan hingga merusak simbol kedaulatan negara,” lanjut Ketua Umum GCP tersebut.
Rekomendasi Evaluasi Kurikulum Sejarah Nasional
Lebih lanjut, Bang Iwan memberikan pandangan edukatif mengenai akar permasalahan moralitas remaja saat ini. Beliau menekankan perlunya evaluasi mendalam pada sektor pendidikan nasional jika insiden tersebut didasari oleh ketidaktahuan generasi muda terhadap sejarah NKRI.
“Jika mereka melakukan hal itu karena murni tidak tahu atau tidak memahami esensi simbol negara, maka ada hal besar yang harus dievaluasi dalam dunia pendidikan kita. Pemerintah perlu meninjau kembali kurikulum sekolah, terutama terkait penguatan pelajaran sejarah perjuangan bangsa dan pendidikan pancasila,” urainya.
Namun, Bang Iwan mengingatkan jika tindakan tersebut terbukti dilakukan dengan kesengajaan dan niat ideologis tertentu, maka hal tersebut merupakan sinyal bahaya yang harus dihentikan agar tidak meluas.
Seruan Menahan Diri dan Solusi Bijak
Menutup pernyataannya, tokoh pemuda nasional ini mengimbau kepada seluruh masyarakat Indonesia dan seluruh pihak terkait untuk tetap tenang, menjaga kondusivitas, serta tidak terprovokasi oleh potongan video yang beredar di media sosial.
“Sudah saatnya semua pihak untuk menahan diri. Mari kita serahkan penanganan ini kepada aparat berwenang. Kita butuh evaluasi yang jujur, transparan, dan kepala dingin guna mendapatkan solusi yang bijak demi keutuhan NKRI dan kedamaian yang berkelanjutan,” pungkas Bang Iwan.
Oleh: Editor RBL
Tidak ada komentar