Menilik Nasib Ruang Kelas yang Terabaikan di Kabupaten Lampung Barat

waktu baca 4 menit
Rabu, 14 Okt 2026 09:58 25 Admin RCN

Penulis: Pinnur Selalau (Pemerhati Pendidikan, Putra Asli Lampung Barat)

RadarCyberNusantara.Id | Kondisi sarana dan prasarana SMAN 1 Batu Brak yang 66% ruang kelasnya rusak berat merupakan cerminan nyata bahwa komitmen pemerintah terhadap pemerataan kualitas SDM di wilayah Lampung Barat masih setengah hati, di mana sekolah di daerah penyangga seperti Batu Brak dibiarkan bertahan dengan status akreditasi C tanpa intervensi revitalisasi yang berarti.

SMAN 1 Batu Brak yang beralamat di Pekon Balak, Kecamatan Batu Brak, Kabupaten Lampung Barat adalah salah satu SMA Negeri di kawasan Sekala Brak. Namun ironisnya, sekolah yang seharusnya menjadi pusat pengembangan SDM unggul di wilayah barat Lampung ini justru tercatat memiliki akreditasi C dengan kondisi infrastruktur yang memprihatinkan.

Kerusakan sarana yang hampir total ini secara langsung mematikan cita-cita peningkatan kualitas SDM. Bagaimana mungkin siswa SMAN 1 Batu Brak dituntut bersaing dalam Seleksi Nasional Berbasis Tes (SNBT) dan memiliki kompetensi abad 21, jika mereka harus belajar di ruang kelas yang tidak layak, tanpa laboratorium yang berfungsi, dan perpustakaan yang rusak? Kondisi ini menciptakan ketimpangan yang sistematis. Siswa di Bandar Lampung belajar dengan _smart classroom_, sementara siswa di Batu Brak harus berjuang dengan ruang kelas yang nyaris roboh. Ini bukan lagi sekadar masalah teknis bangunan, melainkan masalah keadilan pendidikan.

Oleh karena itu, kondisi SMAN 1 Batu Brak adalah bukti paling konkret bahwa komitmen pemerintah, baik Pemerintah Provinsi Lampung sebagai penanggung jawab SMA/SMK maupun Pemerintah Pusat, masih setengah hati. Program revitalisasi nasional yang pada tahun 2025 menargetkan 13.763 sekolah dengan anggaran Rp16,9 triliun belum menyentuh SMAN 1 Batu Brak yang nyaris roboh. Negara hadir dengan jargon Indonesia Emas 2045, namun abai memastikan fondasi paling dasarnya: ruang kelas yang aman dan layak di ujung Barat Lampung. Jika pemerintah serius membangun SDM, maka perbaikan total SMAN 1 Batu Brak harus menjadi prioritas, bukan sekadar menunggu giliran.

Nasib ruang kelas di pelosok nusantara sering kali luput dari perhatian publik dan pemangku kebijakan karena letaknya yang jauh dari hiruk-pikuk pusat kekuasaan dan media. Banyak gedung sekolah yang sudah berdiri puluhan tahun tanpa pernah mendapatkan sentuhan perbaikan hingga kondisinya kini sangat membahayakan keselamatan jiwa para siswa.

Pemandangan dinding yang retak, plafon jebol, serta atap yang nyaris runtuh masih menjadi realita harian yang pahit bagi anak-anak yang sedang berjuang menuntut ilmu. Terabaikannya fasilitas ini merupakan bentuk kegagalan sistem pengawasan infrastruktur yang seharusnya mampu menjangkau setiap satuan pendidikan secara adil dan merata. Kita perlu menilik kembali prioritas pembangunan kita agar sekolah-sekolah di ujung negeri tidak lagi menjadi anak tiri dalam anggaran pendidikan nasional yang melimpah.

Ketidakakuratan data dalam sistem informasi sarana prasarana sekolah sering kali menjadi penyebab utama terabaikannya sekolah-sekolah rusak di wilayah yang terisolasi secara komunikasi. Laporan yang disampaikan dari tingkat daerah menuju pusat terkadang tidak mencerminkan kondisi riil di lapangan akibat adanya kendala birokrasi atau upaya menutup-nutupi kelemahan kinerja.

Akibatnya, alokasi anggaran renovasi sering kali salah sasaran dan lebih banyak terserap oleh sekolah-sekolah yang secara fisik masih tergolong layak huni di kota. Pemerintah perlu melakukan audit independen dan verifikasi faktual secara langsung guna memastikan tidak ada lagi sekolah yang tertinggal dalam peta pembenahan infrastruktur. Transparansi data adalah kunci untuk mengembalikan hak anak-anak pelosok dalam mendapatkan ruang belajar yang representatif dan memberikan rasa aman yang utuh.

Secara psikologis, belajar di ruang kelas yang terabaikan dapat menurunkan martabat dan motivasi siswa karena mereka merasa tidak dihargai oleh negara sebagai warga negara yang setara. Lingkungan fisik yang kumuh dan rusak mengirimkan pesan negatif bahwa pendidikan di wilayah tersebut bukanlah prioritas yang dianggap penting bagi kemajuan bangsa.

Guru-guru yang bertugas di pelosok juga mengalami beban mental tambahan karena harus selalu waspada terhadap potensi bencana fisik bangunan saat menjalankan tugas mulianya. Rehabilitasi sekolah di pelosok nusantara bukan hanya soal semen dan batu bata, melainkan soal pemulihan kehormatan dan semangat juang anak-anak bangsa yang paling gigih. Kita memiliki hutang sejarah untuk segera membenahi setiap sudut ruang kelas yang pernah kita lupakan demi kejayaan Indonesia di masa depan yang akan datang.

Sebagai kesimpulan, menilik nasib ruang kelas yang terabaikan adalah panggilan moral bagi setiap individu yang memiliki nurani dan kepedulian terhadap keadilan pendidikan nasional. Kita tidak boleh bangga dengan kemajuan teknologi di kota besar selama masih ada adik-adik, anak-anak kita yang harus bertaruh nyawa di bawah atap sekolah yang keropos dan bocor.

Target nol sekolah rusak 2026 harus benar-benar menyentuh wilayah paling luar dan terjauh agar makna kemerdekaan belajar dapat dirasakan oleh seluruh rakyat secara nyata. Mari kita suarakan aspirasi para pendidik dan siswa di pelosok agar jeritan mereka terdengar sampai ke meja para pengambil keputusan di pusat ibu kota negara. Dengan perhatian yang tulus dan tindakan yang cepat, kita dapat mengubah ruang kelas yang terabaikan menjadi tempat lahirnya pemimpin-pemimpin hebat bagi bangsa ini di kemudian hari.

Bandar Lampung : 14 Oktober 2026.
Editor : Elsa Azizah S.H.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA

Dapatkan Berita Pilihan Di Whatsapp Untuk Anda.

 

Close Welcome Bar
error: Content is protected !!