RadarCyberNusantara.Id | Dua potret dalam satu bingkai. Satu lautan putih, satu lautan hitam. Tapi ombaknya sama: SEAVORA 44.
Pagi itu, halaman SMPN 2 Tulang Bawang Barat dipenuhi barisan seragam putih-abu. Rapi, bersih, wajah-wajah polos menatap kamera. Tiga jam kemudian, halaman yang sama berubah. Hitam-hitam bertuliskan SEAVORA 44, tangan disilang di dada, tatapan tajam. Garang.
Ini bukan sekadar foto angkatan. Ini adalah manifesto. Pernyataan sikap dari 274 siswa-siswi angkatan ke-44 SMPN 2 Tubaba yang akan lulus tahun 2026.
*Dua Wajah, Satu Jiwa*
“Foto putih-putih itu cerminan tiga tahun lalu. Kalian datang sebagai anak-anak. Polos. Kami didik, kami marahi, kami sayangi,” ucap Plt. Kepala SMPN 2 Tubaba, Ibu Dewi Sartika, saat ditemui usai sesi foto. Minggu (10/5/2026).
“Foto yang hitam itu cerminan kalian hari ini. SEAVORA. Sea Of Victory & Aura. Lautan kemenangan dan aura 44. Kalian sudah tumbuh jadi hiu-hiu muda yang siap mengarungi samudera kehidupan.” ungkap PLT bangga.
Nama SEAVORA 44 bukan tanpa makna. Spanduk biru bergambar ombak dan hiu yang terbentang di depan mereka adalah janji. Janji bahwa angkatan ini menolak jadi buih yang hilang. Mereka memilih jadi ombak yang mengukir karang.
*Pelajaran di Balik Seragam*
Tiga tahun di SMPN 2 Tubaba bukan cuma soal rumus Matematika atau tahun kemerdekaan. Ada pelajaran yang tak tertulis di rapor.
“Pagi kalian belajar jadi siswa teladan. Siang kalian belajar jadi keluarga. Di kelas kalian diajari berhitung. Di kantin kalian belajar berbagi. Di lapangan kalian belajar jatuh dan bangkit lagi. Di ruang BK kalian belajar minta maaf.” tutur PLT kepala sekolah.
Itulah SEAVORA. Bukan angkatan paling pintar, mungkin. Tapi mereka angkatan yang paling tahu arti kata ‘bersama’. Hitam-hitam mereka bukan simbol kenakalan. Itu simbol solidaritas. Tangan disilang di dada bukan tanda menantang. Itu tanda “Kami satu. Jangan usik satu, kami semua maju.”
*Pukul 14.00: Lautan SEAVORA Menggila di Lapangan*
Jika foto jam 10.00 tadi garang, maka pukul 14.00 nanti lautan SEAVORA 44 akan pecah jadi tawa.
Satu unit Damkar Tubaba dijadwalkan masuk ke lapangan SMPN 2 Tubaba. Bukan karena ada kebakaran. Tapi karena ada tradisi. Ada upacara pamit yang tak resmi, tapi paling ditunggu ‘siraman air perpisahan’.
Hitam-hitam SEAVORA 44 akan berdiri di tengah lapangan. Guru-guru, termasuk wali kelas dan Ibu Dewi Sartika, berdiri di pinggir. Tidak untuk marah. Tapi untuk ikut basah.
Begitu sirine meraung dan air pertama muncrat dari selang Damkar, halaman sekolah akan berubah jadi lautan sungguhan. Akan ada teriak histeris, ada yang lari-lari sambil tertawa lepas, ada yang sengaja buka tangan menerima “berkah” terakhir dari almamater.
“Ini pelajaran terakhir dari kami,” kata salah satu wali kelas sambil senyum. “Bahwa hidup itu harus berani basah. Berani kotor. Setelah ini kalian akan hadapi banyak ‘siraman’ yang lebih keras. Tapi ingat, kalian pernah tertawa paling lepas di sini, bersama kami.” imbuh salah satu dewen guru.
Momen pukul 14.00 itu bukan hura-hura. Itu “penyucian tradisi”. Simbol bahwa setelah ini, kalian bersih dari masa SMP dan siap melangkah. Setelah kering nanti, mereka resmi jadi alumni. Resmi jadi hiu yang siap dilepas ke samudera. Dan guru-guru yang ikut basah adalah saksi “kami lepas kalian bukan dengan air mata, tapi dengan tawa”.
*Pesan Terakhir dari Dewan Guru*
Sebelum melepas, Ibu Dewi Sartika mewakili seluruh dewan guru SMPN 2 Tubaba juga menitipkan suara hati.
“Pertama, izinkan kami mengucapkan terima kasih. Terima kasih kepada anak-anak SEAVORA 44. Terima kasih sudah mau dididik, mau dimarahi, mau dibentuk. Kalian adalah kebanggaan kami. Terima kasih juga kepada Bapak Ibu wali murid. Kepercayaan panjenengan menitipkan anak kepada kami adalah amanah besar yang kami jaga tiga tahun ini.”
“Kedua, kami juga manusia biasa. Kami mohon maaf setulus-tulusnya. Maaf jika selama tiga tahun ini, dalam membimbing, ada kata kami yang menyakiti hati anak-anak. Ada sikap kami yang membuat kalian kecewa. Maaf kepada Bapak Ibu wali murid jika didikan kami belum sempurna. Niat kami cuma satu, melihat anak-anak ini sukses. Jika ada cara kami yang salah, mohon dimaafkan.”
“Percayalah, setiap marah kami, ada doa di dalamnya. Setiap nilai jelek yang kami beri, ada harapan agar kalian belajar lagi.” kata Dewi Sartika seraya meneteskan air mata.
*Suara dari Rumah: Syukur, Bangga, dan Doa Wali Murid*
Di balik hiu-hiu SEAVORA 44 yang gagah, ada doa orang tua yang tak putus. Lewat perwakilan wali murid, mereka menitipkan suara hati:
“Pertama, kami bersyukur kepada Allah SWT. Tiga tahun lalu kami titipkan anak-anak kami dalam keadaan polos. Hari ini kami melihat mereka pulang membawa akhlak, membawa ilmu, membawa mimpi. Itu semua karena tangan dingin Bapak Ibu Dewan Guru SMPN 2 Tubaba.”
“Kedua, kami bangga. Bangga bukan karena nilai di rapor. Tapi bangga karena anak kami pulang ke rumah cerita tentang guru yang peduli. Tentang guru yang marah tapi demi kebaikan. Terima kasih, Bapak Ibu Guru. Jasa kalian tak akan mampu kami balas dengan apa pun.”
“Ketiga, dari hati yang paling dalam, kami mohon maaf. Maaf jika selama tiga tahun ini anak-anak kami sering membuat Bapak Ibu kesal, capek, bahkan marah. Mereka anak-anak. Kadang bandel, kadang lalai. Terima kasih sudah tidak menyerah. Terima kasih sudah sabar mendidik mereka seperti anak sendiri.”
“Terakhir, kami wali murid angkatan SEAVORA 44 menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya untuk seluruh dewan guru. Kalian adalah pahlawan tanpa tanda jasa yang sesungguhnya.”
“Maka izinkan kami menutup dengan doa, Ya Allah, jagalah guru-guru kami. Beri mereka kesehatan, kelapangan rezeki, dan kesabaran yang tak putus untuk mendidik generasi selanjutnya. Dan untuk anak-anak kami, hiu-hiu SEAVORA 44, Ya Allah, mudahkanlah langkah mereka. Jadikan mereka anak yang sholeh, berilmu, berakhlak, dan sukses dunia akhirat. Lindungi mereka di samudera kehidupan yang akan mereka arungi. Aamiin ya Rabbal ‘alamin.”
*Pesan di Gerbang Perpisahan*
Lulus 2026 berarti mereka akan berlayar. Ada yang ke SMA favorit di kota, ada yang ke SMK, ada yang mungkin langsung bekerja membantu orang tua. Lautan di depan mereka tak selalu biru. Akan ada badai. Akan ada ombak yang mencoba menenggelamkan.
Untuk itu, dewan guru SMPN 2 Tubaba menitipkan 3 pesan lewat Ibu Dewi Sartika:
1. *Jadilah Hiu, Bukan Ikan Teri* “Hiu tidak takut laut dalam. Hiu berenang sendiri kalau perlu. Jangan jadi ikan teri yang hanya ikut arus. Punya prinsip. Punya arah. Mau jadi apoteker, montir, polisi, atau petani sukses, jalanin dengan kepala tegak. Jangan malu dengan mimpimu.”
2. *Aura 44 Adalah Akhlak* “Nama angkatan kalian ada kata ‘Aura’. Aura terbaik bukan dari baju mahal. Tapi dari adab. Kemana pun kalian pergi, bawa nama baik orang tua dan almamater. Jaga lisan. Jaga tangan. Jadilah manusia yang kalau datang, orang senang. Kalau pergi, orang kehilangan.”
3. *Pulanglah Jika Lelah* “Samudera itu luas. Kalau nanti kalian tersesat, kalau badai terlalu kencang, ingat, pintu SMPN 2 Tubaba selalu terbuka. Guru-gurumu tetap di sini. Kami mungkin galak dulu, tapi kami bangga selamanya. Pulanglah kalau lelah. Ceritakan kemenanganmu.”
*Bukan Perpisahan*
Di akhir sesi foto, tak ada air mata. Hanya ada teriakan lantang “SEAVORA!” yang memecah siang Tubaba. Dan pukul 14.00 nanti, teriakan itu akan bercampur suara air dan tawa. Karena mereka tahu, ini bukan perpisahan. Ini upacara pemberangkatan.
Putih Biru itu adalah masa lalu yang membentuk mereka. Hitam-hitam itu adalah masa depan yang akan mereka taklukkan. Basah-basah pukul 14.00 itu adalah restu. Maaf dan doa dari guru serta orang tua itu adalah bekal.
Dan SMPN 2 Tubaba? Akan tetap di sini, menjadi mercusuar. Menunggu kabar bahwa hiu-hiu SEAVORA 44 telah berhasil menaklukkan samuderanya masing-masing.
Selamat berlayar, anak-anak. Ombak boleh besar, tapi kalian adalah SEAVORA 44. Lautan Kemenangan.
Penulis : Davi
Dilihat: 0
Rekomendasi
Tidak ada komentar