Lubang di Jalan Provinsi Tubaba Tewaskan Ayah Muda, Warga Turun Tangan Perbaiki Jalan Karena Kecewa Pemkab Diam

waktu baca 4 menit
Kamis, 28 Mei 2026 19:34 7 Admin RCN

RadarCyberNusantara. Id | Malam itu seharusnya jadi perjalanan pulang biasa bagi Karim dan keluarganya. Tapi sebuah lubang di Jalan Utama Panaragan Jaya mengubahnya jadi tragedi. Satu nyawa melayang, tiga lainnya terluka. Kini, warga Tubaba tak lagi menunggu. Mereka turun ke jalan, membawa cangkul dan semen, memperbaiki sendiri jalan yang seharusnya jadi tanggung jawab pemerintah.

Suara rem mendadak dan dentuman keras memecah kesunyian malam di Jalan Utama Panaragan Jaya, Tulangbawang Tengah, Rabu 27 Mei 2026 sekitar pukul 19.29 WIB.

Seorang warga yang hendak berangkat kerja, langsung berhenti saat melihat pemandangan itu. Di tengah jalan, satu keluarga terkapar di atas aspal. Motor bebek yang mereka tumpangi tergeletak tak jauh dari tubuh mereka. Tepat di depan motor itu, menganga lubang besar yang tampak seperti perangkap di kegelapan malam.

Korbannya adalah Karim, 37 tahun, warga Gunung Katun Malai, Kecamatan Tulangbawang Udik. Malam itu ia pulang bersama istri dan dua anak kecilnya. Diduga, ban depan motor menghantam lubang yang tak terlihat, membuat kendaraan oleng dan terjatuh keras.

Karim meninggal di lokasi kejadian. Istri dan kedua anaknya yang masih balita mengalami luka-luka dan segera dilarikan ke rumah sakit terdekat. Kini mereka harus menjalani perawatan sambil menanggung duka kehilangan kepala keluarga.

Foto dari ruang perawatan menunjukkan istri dan anak korban terbaring lemah dengan perban dan infus menempel di tubuh kecil mereka. Sementara di luar, lubang penyebab kecelakaan itu masih ada. Aspal mengelupas, kerikil berserakan, dan air menggenang menutupi kedalamannya setiap kali hujan turun.

Jalan Provinsi, Luka Warga

Ruas jalan tempat kecelakaan terjadi bukanlah jalan desa terpencil. Ini adalah jalan provinsi yang menjadi urat nadi mobilitas warga Tulangbawang Tengah. Namun kondisinya sudah bertahun-tahun dibiarkan rusak parah.

“Lubangnya banyak dan dalam. Malam hari gelap, nggak kelihatan sama sekali. Kami yang tiap hari lewat sini sudah pasrah,” kata saksi mata yang pertama kali menolong korban.

Warga menyebut kecelakaan seperti ini bukan yang pertama. Jalan berlubang di Tubaba sudah berkali-kali merenggut korban. Tapi perbaikan yang datang hanya tambal sulam. Tak sampai satu musim hujan, jalan kembali berlubang.

Gotong Royong Karena Kecewa

Hari ini, pemandangan berbeda terlihat di titik yang sama. Sejumlah warga bahu-membahu menutup lubang jalan dengan semen dan batu. Ada yang mencampur adukan, ada yang mengangkut material, ada yang hanya berdiri menjaga agar pengendara hati-hati.

Mereka melakukannya bukan karena punya anggaran. Tapi karena sudah kecewa. Kecewa karena setelah satu nyawa melayang, tak ada tanda-tanda perbaikan datang dari pemerintah.

“Kami capek nunggu. Kalau nunggu pemkab, nggak tahu kapan. Sementara tiap hari ada motor lewat, ada anak sekolah. Takut kejadian lagi,” ujar salah satu warga yang ikut gotong royong.

Aksi warga ini bukan bentuk kemandirian, tapi bentuk protes diam-diam. Ketika jalan provinsi rusak parah dan nyawa sudah melayang, masyarakat dipaksa mengambil alih tanggung jawab yang bukan miliknya.

Ketika Infrastruktur Menjadi Soal Nyawa

Tragedi Karim memaksa kita melihat ulang arti infrastruktur. Jalan bukan hanya soal kenyamanan, tapi soal hak dasar warga untuk pulang dengan selamat.

Sebagai jalan provinsi, tanggung jawab perbaikan ada di tangan pemerintah provinsi Lampung. Ketika lubang dibiarkan, risiko kecelakaan berpindah ke pengguna jalan. Dan kali ini, risikonya dibayar dengan nyawa.

Gotong royong warga memang patut diapresiasi. Tapi ini juga tamparan keras bagi pemerintah. Masa iya, perbaikan jalan provinsi harus menunggu inisiatif warga yang urunan beli semen? Di mana fungsi anggaran pemeliharaan jalan yang tiap tahun dialokasikan?

Keluarga Karim kini kehilangan penopang utama. Dua anak kecil itu harus tumbuh tanpa sosok ayah. Sang istri harus merawat luka fisik, luka batin, sekaligus memikirkan masa depan tanpa penghasilan tetap.

Warga Tubaba tidak meminta yang muluk-muluk. Mereka hanya ingin jalan diperbaiki sebelum ada korban berikutnya. Aspal yang rata, penerangan yang cukup, dan rambu peringatan di titik rawan itu saja sudah cukup untuk menyelamatkan nyawa.

Hingga berita ini diturunkan, pihak berwenang masih melakukan pendataan dan penyelidikan penyebab kecelakaan. Tapi bagi warga, jawabannya sudah jelas terlihat di tengah jalan, lubang besar yang dibiarkan terlalu lama. Kebijakan bisa menunggu. Tapi nyawa tidak.

Penulis: Davi

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA

Dapatkan Berita Pilihan Di Whatsapp Untuk Anda.

 

X
error: Content is protected !!