Pustakawan Menjaga Peradaban, Ketika AI Menguasai Informasi

waktu baca 4 menit
Sabtu, 11 Jul 2026 12:59 33 Admin RCN

Drs. Dahlin, M.Pd (Kadis Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Lampung Barat)

“Perpustakaan adalah jantung peradaban.”

Ungkapan itu mungkin terdengar klasik. Namun, justru di tengah ledakan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI), maknanya semakin terasa. Ketika mesin mampu menghasilkan jutaan informasi hanya dalam hitungan detik, muncul pertanyaan yang jauh lebih penting yakni siapa yang memastikan bahwa informasi itu benar, bermakna, dan bermanfaat bagi manusia?

Di sinilah profesi pustakawan menemukan kembali relevansinya. Hari Pustakawan Indonesia yang diperingati setiap 7 Juli seharusnya tidak berhenti sebagai seremoni tahunan. Momentum ini semestinya menjadi pengingat bahwa di balik derasnya arus digital, bangsa tetap membutuhkan penjaga literasi, pengawal pengetahuan, dan penuntun masyarakat agar tidak tersesat dalam banjir informasi.

Sekarang ini, persoalan kita bukan lagi kekurangan informasi. Sebaliknya, kita justru dibanjiri informasi dari berbagai arah. Media sosial, mesin pencari, dan AI generatif menyajikan jawaban hampir untuk semua pertanyaan. Namun semakin mudah memperoleh informasi, semakin sulit pula membedakan mana fakta, mana opini, mana ilmu pengetahuan, dan mana sekadar manipulasi digital.

Fenomena ini dikenal sebagai information overload. Dalam situasi seperti itu, kemampuan berpikir kritis menjadi jauh lebih penting dibanding sekadar kemampuan mencari informasi. Sayangnya, profesi pustakawan masih sering dipersepsikan secara sempit. Banyak orang masih membayangkan pustakawan sebagai penjaga rak buku atau petugas administrasi peminjaman koleksi. Pandangan tersebut sudah lama tidak sesuai dengan perkembangan zaman.

Pustakawan abad ke-21 adalah kurator informasi, pendidik literasi, sekaligus navigator pengetahuan. Mereka membantu masyarakat menemukan sumber yang kredibel, memahami konteks informasi, serta membangun kebiasaan berpikir kritis. Peran ini menjadi semakin penting ketika AI mampu menghasilkan tulisan, gambar, bahkan analisis yang tampak meyakinkan, tetapi tidak selalu akurat.

AI memang luar biasa. Dalam beberapa detik, teknologi ini dapat merangkum ribuan halaman, menerjemahkan berbagai bahasa, bahkan membantu menyusun laporan ilmiah. Namun AI bekerja berdasarkan pola data yang dipelajarinya. AI tidak memiliki tanggung jawab moral. AI tidak memiliki kebijaksanaan. AI juga tidak mampu mempertimbangkan dampak sosial dari informasi yang dihasilkannya.

Sejarawan teknologi Yuval Noah Harari lewat buku Sapiens, ia menganalisis sejarah peradaban manusia serta dampak kritis teknologi modern terutama AI terhadap masa depan umat manusia, pernah mengingatkan bahwa ancaman terbesar era digital bukan kekurangan informasi, melainkan kemampuan manusia membedakan fakta dari manipulasi.

Peringatan tersebut terasa semakin relevan hari ini. Karena itu, masa depan bukanlah pertarungan antara AI dan pustakawan. Masa depan adalah kolaborasi antara kecerdasan buatan dan kecerdasan manusia.

AI dapat mempercepat pencarian data, membantu klasifikasi koleksi digital, hingga mendukung analisis literatur. Namun keputusan akademik, etika informasi, dan pendidikan literasi tetap membutuhkan manusia yang memiliki integritas dan empati. Di sinilah pustakawan memainkan peran yang tidak dapat digantikan mesin.

Banyak negara telah membuktikan hal tersebut. Finlandia mengembangkan perpustakaan sebagai ruang belajar, pusat inovasi, sekaligus tempat masyarakat mengembangkan keterampilan digital. Singapura menjadikan perpustakaan bagian dari strategi pembangunan sumber daya manusia melalui layanan digital yang terintegrasi. Jepang menguatkan perpustakaan sekolah dan perguruan tinggi sebagai fondasi budaya riset nasional.

Mereka memahami bahwa investasi terbesar bukan hanya pada gedung perpustakaan, melainkan pada manusia yang menghidupkannya. Indonesia tentu memiliki modal yang tidak kecil. Jaringan perpustakaan telah tersebar mulai dari sekolah, perguruan tinggi, desa, hingga pemerintah daerah. Transformasi digital juga mulai berkembang melalui berbagai layanan perpustakaan elektronik.

Namun tantangan terbesar bangsa ini sesungguhnya bukan kekurangan perpustakaan ataupun buku. Tantangan kita adalah budaya membaca yang belum tumbuh kuat. Kita hidup pada zaman ketika masyarakat lebih senang membaca potongan informasi daripada membaca secara utuh. Konten berdurasi satu menit sering kali lebih menarik daripada buku setebal dua ratus halaman. Akibatnya, masyarakat semakin cepat mengetahui sesuatu, tetapi belum tentu semakin dalam memahaminya.

Di sinilah pustakawan perlu tampil sebagai pendidik literasi digital. Mereka bukan sekadar menyediakan koleksi bacaan, tetapi juga mengajarkan cara mencari referensi yang valid, menggunakan informasi secara etis, memahami hak cipta, serta membangun kemampuan berpikir kritis agar masyarakat tidak mudah terjebak hoaks maupun disinformasi.

Momentum Hari Pustakawan Indonesia 2026 juga perlu menjadi titik awal transformasi profesi. Pemerintah perlu memperkuat peningkatan kompetensi pustakawan di bidang teknologi informasi, kecerdasan buatan, manajemen data, hingga komunikasi publik. Perpustakaan harus berkembang menjadi ruang kolaborasi, laboratorium kreativitas, dan pusat pembelajaran sepanjang hayat.

Di saat yang sama, sekolah dan perguruan tinggi perlu memberi ruang yang lebih besar bagi pustakawan untuk terlibat dalam penelitian, pengabdian kepada masyarakat, dan penguatan budaya akademik. Pustakawan tidak boleh lagi diposisikan sebagai pelengkap administrasi, melainkan sebagai bagian penting dari ekosistem ilmu pengetahuan.

Pada akhirnya, kemajuan sebuah bangsa tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan teknologi yang dimilikinya. Bangsa yang benar-benar maju adalah bangsa yang mampu menggunakan teknologi dengan bijaksana. AI boleh menjadi mesin yang menghasilkan jawaban. Namun pustakawanlah yang membantu manusia menemukan makna di balik jawaban itu.

Karena sesungguhnya, perpustakaan bukan sekadar tempat menyimpan buku. Ia adalah ruang tempat nalar dipelihara, budaya diwariskan, dan masa depan dibangun. Selama masih ada pustakawan yang menjaga nyala literasi, harapan untuk melahirkan generasi yang cerdas, kritis, dan beradab akan selalu tetap hidup. (**)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA

Dapatkan Berita Pilihan Di Whatsapp Untuk Anda.

 

X
error: Content is protected !!