Sekolah Tanpa Nahkoda: Ketika PLT Kepala Sekolah Menjadi Normal Baru

waktu baca 5 menit
Senin, 29 Jun 2026 12:25 29 Admin RCN

Oleh: Pinnur Selalau (Pemerhati Pendidikan Lampung)

Bandar Lampung : Ada sesuatu yang ganjil dalam wajah pendidikan di Kota Bandar Lampung hingga hari ini. Banyak sekolah berdiri megah, ruang kelas terisi, guru hadir mengajar, murid belajar seperti biasa.

Tetapi di ruang paling menentukan arah sekolah, kursi kepala sekolah, sering kali tidak benar-benar terisi. Yang ada hanyalah PLT. Pelaksana tugas. Sementara. Masalahnya, “sementara” kini berubah menjadi terlalu lama.

Fenomena ini bukan lagi kasus sporadis. Ia telah menjelma menjadi pola. Di Kota Bandar Lampung, sekolah dipimpin oleh PLT berbulan-bulan, bahkan bertahun-tahun. Tanpa kejelasan. Tanpa kepastian. Tanpa arah yang benar-benar kokoh.

Sekolah berjalan. Tetapi tidak benar-benar dipimpin. Kepemimpinan yang Menggantung.

Kepala sekolah bukan sekadar jabatan administratif. Ia adalah pusat kendali. Ia penentu visi, pengarah budaya, pengambil keputusan strategis, dan simbol otoritas tertinggi di lingkungan sekolah.

Ketika jabatan itu hanya diisi oleh PLT, maka sejak awal sudah ada batas yang tidak terlihat, tetapi sangat terasa.

PLT tahu dirinya hanya sementara.
Guru tahu pemimpinnya hanya sementara.
Bahkan siswa dan masyarakat pun tahu, nahkoda sekolah mereka bukan nahkoda definitif.

Akibatnya, kepemimpinan berjalan setengah hati.Bukan karena orangnya tidak mampu. Tetapi karena sistemnya tidak memberi kepastian.

Tidak semua PLT berani mengambil keputusan besar. Tidak semua merasa memiliki legitimasi kuat. Tidak sedikit yang memilih bermain aman: menjalankan rutinitas, bukan menciptakan perubahan.

Sekolah pun terjebak dalam stagnasi yang sunyi. Tidak mundur.  Tetapi juga tidak maju.  normalisasi Ketidakpastian.

Yang lebih berbahaya, kondisi ini perlahan dianggap biasa.  Inilah yang paling mengkhawatirkan.

Ketika ketidakpastian menjadi normal, maka kemunduran tinggal menunggu waktu.

Bayangkan sebuah kapal yang berlayar tanpa kapten definitif. Mungkin kapal itu masih bisa bergerak. Mesin tetap menyala. Awak tetap bekerja.

Tetapi ke mana arah kapal itu sebenarnya?
Siapa yang bertanggung jawab penuh atas tujuan jangka panjangnya?
Sekolah tanpa kepala sekolah definitif adalah kapal tanpa nahkoda sejati.
Ia bergerak, tetapi kehilangan kepemimpinan strategis.

Bukan Sekadar Masalah Administrasi

Sebagian pihak mungkin menganggap ini hanya soal teknis birokrasi. Sekadar keterlambatan pengangkatan. Sekadar menunggu proses.

Tetapi dampaknya jauh lebih dalam.

Sekolah adalah institusi yang membentuk masa depan bangsa. Setiap keputusan kepala sekolah memengaruhi:

kualitas guru
budaya belajar
disiplin siswa
arah pengembangan sekolah

Ketika posisi ini dibiarkan kosong secara definitif, maka yang kosong bukan hanya jabatan.Yang kosong adalah kepemimpinan.
Yang kosong adalah arah.Yang kosong adalah masa depan yang seharusnya dirancang hari ini.

Luka di Tubuh Profesionalisme

Selama ini, pemerintah melalui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi terus menggaungkan pentingnya profesionalisme kepala sekolah. Kepala sekolah disebut sebagai pemimpin pembelajaran, bukan sekadar administrator.

Namun bagaimana profesionalisme bisa tumbuh jika banyak sekolah dipimpin oleh pejabat sementara?

Profesionalisme membutuhkan kepastian.
Profesionalisme membutuhkan legitimasi.
Profesionalisme membutuhkan kepercayaan penuh. Status PLT, betapapun baik niatnya, tetap membawa bayang-bayang ketidakpastian.

Ini adalah kontradiksi yang nyata.
Di satu sisi berbicara profesionalisme.
Di sisi lain membiarkan kepemimpinan sementara yang berlarut-larut.

Membuka Ruang Kecurigaan

Ketika jabatan definitif terlalu lama kosong, publik mulai bertanya.Mengapa belum diisi? Apakah tidak ada kandidat?
Ataukah ada hal lain di baliknya?

Pertanyaan ini wajar. Karena dalam birokrasi, kekosongan jabatan yang terlalu lama sering menimbulkan spekulasi.

Ombudsman Republik Indonesia berulang kali mengingatkan bahwa jabatan sementara yang berkepanjangan berpotensi menimbulkan maladministrasi.

Dalam konteks sekolah, ini bukan sekadar persoalan prosedur. Ini soal kepercayaan.
Sekali kepercayaan publik retak, memperbaikinya jauh lebih sulit daripada menjaganya sejak awal.

Guru Bekerja dalam Bayang-Bayang Ketidakpastian.

Guru adalah pihak yang paling dekat dengan realitas ini.Mereka datang setiap hari. Mengajar. Membimbing. Mendidik.
Tetapi mereka juga tahu, pemimpin mereka belum definitif. Ini menciptakan ruang hampa psikologis. Tidak semua guru merasa yakin untuk melangkah jauh.Tidak semua berani berinovasi penuh.

Karena mereka tahu, kepemimpinan bisa berubah sewaktu-waktu.
Dan setiap pergantian kepemimpinan selalu membawa arah baru.

Ketidakpastian adalah musuh inovasi.
Ketidakpastian adalah musuh kemajuan.
Pendidikan Tidak Bisa Dipimpin Secara Sementara

Ada satu pertanyaan sederhana yang perlu dijawab dengan jujur:

Mengapa jabatan sepenting kepala sekolah dibiarkan sementara terlalu lama?
Apakah pendidikan bukan prioritas?
Ataukah kita sudah terlalu terbiasa dengan budaya menunda?

Kita tidak sedang membicarakan jabatan biasa. Kita sedang membicarakan pemimpin lembaga yang membentuk generasi masa depan.

Setiap hari tanpa kepala sekolah definitif adalah hari yang hilang untuk kepemimpinan yang utuh.
Setiap bulan tanpa kepastian adalah bulan yang terbuang untuk kemajuan yang seharusnya bisa dirancang. Setiap tahun dengan status PLT adalah tahun yang menggerus kualitas secara perlahan.

Negara Tidak Boleh Absen.
Negara tidak boleh hadir setengah-setengah dalam pendidikan.Negara tidak boleh membiarkan sekolah berjalan dengan kepemimpinan sementara terlalu lama.

Negara harus hadir dengan kepastian.
Dengan keberanian mengambil keputusan.
Dengan keseriusan menempatkan orang terbaik sebagai kepala sekolah definitif.

Bukan nanti.
Bukan menunggu.
Tetapi sekarang.

Mengembalikan Nahkoda ke Kapalnya.
Sekolah membutuhkan pemimpin yang benar-benar memimpin.
Bukan sekadar pelaksana tugas. Bukan sekadar pengisi kekosongan.

Tetapi nahkoda.

Nahkoda yang punya visi.
Nahkoda yang punya legitimasi.
Nahkoda yang punya keberanian membawa perubahan.

Jika kita serius ingin memperbaiki pendidikan, maka perbaiki dulu kepemimpinannya.
Karena pendidikan yang kuat tidak lahir dari kepemimpinan sementara.Ia lahir dari kepemimpinan yang pasti.

Dan hari ini, terlalu banyak sekolah kita yang masih berlayar tanpa nahkoda.

Bandar Lampung : 29 Juni 2026.
Editor : Elsa Azizah S.H.
Author : RadarCyberNusantara.Id.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA

Dapatkan Berita Pilihan Di Whatsapp Untuk Anda.

 

X
error: Content is protected !!