RadarCyberNusantara.Id | Tokoh budaya Jawa Barat, Cepot, melontarkan kritik satir yang menggelitik sekaligus menyentuh nurani publik. Dengan gaya khas yang lugas dan penuh sindiran, Cepot mengingatkan agar euforia terhadap berbagai program bantuan pemerintah tidak sampai menghapus sejarah panjang pengorbanan jutaan orang tua yang selama ini menjadi penopang utama kehidupan anak-anak mereka.
Menurut Cepot, belakangan muncul narasi yang dinilai berlebihan, seolah-olah anak-anak Indonesia baru dapat menikmati makanan bergizi setelah hadirnya Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Narasi semacam itu, kata dia, tidak hanya keliru, tetapi juga berpotensi mengerdilkan perjuangan para ayah dan ibu yang bertahun-tahun bekerja tanpa sorotan kamera.
“Jangan sampai narasinya berubah, seolah-olah yang selama ini bikin anak kenyang itu bukan orang tuanya,” tegas Cepot.
Dengan nada satir, Cepot menggambarkan kenyataan yang telah berlangsung puluhan tahun. Sebelum matahari terbit, jutaan ibu sudah berada di dapur menyiapkan bekal dan sarapan. Di saat yang sama, para ayah telah berangkat mencari nafkah, menghadapi panas, hujan, bahkan risiko pekerjaan demi memastikan dapur tetap mengepul.
“Masa sekarang kesannya anak-anak baru bisa makan setelah negara datang membawa kotak nasi?” sindirnya.
Bagi Cepot, negara memang memiliki kewajiban menghadirkan kebijakan yang meningkatkan kualitas gizi masyarakat. Namun, kehadiran program pemerintah seharusnya menjadi pelengkap dan penguat, bukan membangun kesan seolah seluruh jasa orang tua dapat tergantikan oleh satu program.
“Kalau negara membantu, tentu patut diapresiasi. Tapi jangan sampai bantuan berubah menjadi panggung yang membuat perjuangan orang tua seakan hilang dari cerita,” ujarnya.
Cepot juga mengingatkan bahwa harga diri keluarga tidak boleh terkikis oleh narasi yang menempatkan negara sebagai satu-satunya penyelamat. Selama puluhan tahun, jutaan keluarga Indonesia telah membesarkan anak-anak mereka dengan segala keterbatasan, tanpa meminta tepuk tangan ataupun pengakuan.
Menurutnya, penghormatan kepada orang tua merupakan fondasi budaya bangsa yang tidak boleh luntur. Program sosial boleh berganti, kebijakan boleh berubah, tetapi kasih sayang, pengorbanan, dan kerja keras seorang ayah serta seorang ibu tetap menjadi pilar utama yang membentuk masa depan anak-anak Indonesia.
“Negara datang membantu itu baik. Tapi jangan sampai sejarah ditulis seolah yang pertama kali memberi makan anak Indonesia adalah negara. Sebab jauh sebelum itu, ada tangan ibu yang memasak dan ada keringat ayah yang mencari nafkah,” tutup Cepot.
Pernyataan satir tersebut menjadi pengingat bahwa keberhasilan pembangunan tidak semestinya dibangun dengan mengaburkan peran keluarga. Sebaliknya, setiap kebijakan publik seyogianya memperkuat martabat orang tua sebagai pendidik dan penopang utama kehidupan anak, sementara negara hadir sebagai mitra yang melengkapi, bukan menggantikan.
#SorotanPublik
Tidak ada komentar