RadarCyberNusantara.Id | — Awan kelabu menggantung rendah di atas kebun Juanto pagi itu. Gerimis belum turun, tapi payung ungu sudah mengembang. Bukan untuk berteduh dari hujan. Tapi jadi properti foto di antara barisan pohon pisang dan bedengan melon. Selasa (5/5/2026)
Di tengahnya, 7 orang berseragam khaki berdiri rapat. Di tangan mereka, melon kuning keemasan, besar-besar, hasil tanah yang tak pernah disentuh pupuk kimia. Jempol mereka teracung. Senyum mereka lebar.
Yang jongkok di depan, topi rimba dan kaus abu basah oleh keringat, Juanto. Staf Kecamatan Abung Surakarta. Pemilik “pemberontakan” terhadap pupuk kimia.
Di tengah barisan, Sekretaris Daerah Lampung Utara, Dra. Intji Indriati, M.H., menggenggam melon dengan dua tangan. Di sebelahnya, Camat Abung Surakarta Drs. M. Nur., M.M., ikut tersenyum sambil memegang buah yang sama.
“Hasilnya luar biasa, melonnya manis dan segar,” kata Intji usai mencicipi. Kalimat itu keluar di bawah langit mendung, di antara bau tanah basah dan daun pisang.
Tak ada seremoni potong pita. Yang ada hanya jempol, tawa, dan buah yang dibelah di lokasi. Bukti paling jujur dari tanah.
Juanto tak punya gelar pertanian. Ia staf kecamatan. Tapi kebunnya jadi tamparan halus untuk logika “tak ada pupuk kimia, tak ada panen”.
Setetes pun pupuk kimia tak ia tuang. Kompos, pupuk kandang, dan ketelatenan jadi pupuknya. Hasilnya? Melon yang bikin Sekda acungkan jempol.
“Pertanian berkualitas tidak harus bergantung pada pupuk kimia yang harganya terus merangkak naik,” tegas Intji.
Camat M. Nur menambahkan, ini “kreativitas aparatur”. Tapi bagi petani yang lihat foto ini, pesannya jelas, kalau staf kecamatan bisa, kenapa kita tidak?
Foto ini bicara lebih keras dari sambutan. Payung ungu itu, pohon pisang di belakang, tanah mulsa yang basah, dan 7 jempol yang teracung, semua bilang bahwa pertanian organik itu nyata, dekat, dan hasilnya bisa dipegang.
Pemerintah daerah ingin tawa di bawah mendung ini menular. Menjadi pemicu desa-desa lain di Abung Surakarta. Menjadikan organik sebagai pilar ketahanan pangan. Ramah lingkungan, tak bergantung subsidi, dan untungnya tinggal di petani.
Jika pola Juanto menyebar, maka Abung Surakarta tak cuma panen melon. Tapi panen kemandirian.
Dan foto ini? Jadi bukti bahwa revolusi kadang dimulai dari kebun belakang kantor, dengan segenggam melon dan jempol yang teracung di bawah langit mendung. (Davi)
Tidak ada komentar