RadarCyberNusantara.Id | Irigasi gantung di T15, Desa Bandar Anom, Kecamatan Rawajitu Selatan, Kabupaten Mesuji, gagal saat uji coba pasca perbaikan. Padahal perbaikan itu disebut dilakukan oleh pihak BBWS untuk menuntaskan masalah kebocoran.
Menurut keterangan warga, perbaikan sudah dilakukan. Namun hasilnya jauh dari harapan. Saat uji coba dengan mengalirkan air ke dalam saluran, air tidak tertahan dan banyak titik yang bocor. Ujicoba tersebut dilakukan pada hari saptu 23 mei 2026.
“Banyak titik yang bocor, baik dari dinding irigasi maupun dari lantainya. Perbaikannya gagal total,” ujar salah satu warga. Minggu (24/5/2026).
Uji coba tersebut disebut langsung dipimpin oleh Kepala BBWS Elroy. Meski begitu, kondisi di lapangan menunjukkan perbaikan belum menyelesaikan masalah. Air tetap merembes keluar, struktur masih terlihat retak dan tidak kokoh.
Di tengah kegagalan itu, warga menyoroti satu hal yang dianggap janggal, ketebalan dinding irigasi yang hanya 3,12 cm berdasarkan pengukuran sebelumnya yang dilakukan seorang warga setempat.
“Wajar nggak bangunan puluhan miliar cuma tebal 3 cm? Bisa jadi ini yang bikin bangunan nggak bertahan lama, bahkan belum digunakan sudah rusak parah,” kata warga.
Kecurigaan ini muncul karena secara teknis, dinding setipis itu dinilai tidak mampu menahan tekanan air dan beban jangka panjang. Banyak warga menduga ketebalan di bawah standar inilah penyebab utama bangunan cepat rusak dan gagal saat uji coba.
“Ini kejanggalan yang nyata. Kalau dari awal konstruksinya tidak sesuai spesifikasi, wajar kalau perbaikan berulang kali tetap gagal,” ujar warga lain.
Kegagalan ini menambah kekhawatiran, terutama di tengah program swasembada pangan nasional. Bangunan yang seharusnya mengalirkan air untuk sawah justru tidak layak digunakan.
“Bangunan dialokasikan untuk kepentingan masyarakat, tapi tidak bisa berfungsi. Kalau begini terus, program swasembada pangan hanya jadi slogan,” kata warga.
Kondisi ini memicu keresahan. Warga menilai, jika perbaikan saja gagal, maka ada dugaan kuat masalahnya ada pada mutu konstruksi awal dan pengawasan proyek.
Kegagalan berulang membuat desakan audit tidak bisa dihindarkan lagi. Warga mendesak pihak berwenang segera melakukan pemeriksaan menyeluruh terhadap proyek irigasi gantung tersebut.
“Masyarakat curiga pada saat pembangunan dilakukan banyak penyimpangan anggaran. Kecurigaan itu wajar, karena kami yang menyaksikan langsung, bangunan belum sempat digunakan sudah rusak parah,” ujar warga.
Warga berharap BBWS dan instansi terkait tidak hanya melakukan perbaikan berulang tanpa evaluasi mutu. Mereka meminta audit independen dibuka ke publik, mulai dari dokumen kontrak, RAB, hasil uji mutu beton, hingga kesesuaian ketebalan dinding dengan spesifikasi teknis.
Jangan sampai bangunan ini jadi mubasir. Masyarakat menanti tindakan nyata dan proses audit dari pihak berwenang.
Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan resmi lanjutan dari pihak BBWS Lampung.
Media ini tetap membuka ruang bagi pihak terkait untuk memberikan klarifikasi, hak jawab, maupun keterangan resmi terkait pemberitaan di atas. Sesuai Undang-Undang Nomor 40 Tahun 1999 tentang Pers, kami siap memuat hak jawab dan koreksi secara berimbang dan proporsional.
Apabila ada pihak yang merasa dirugikan atau memiliki data dan penjelasan berbeda, silakan hubungi redaksi melalui kontak resmi yang tertera. Setiap informasi dan klarifikasi yang masuk akan kami verifikasi dan publikasikan sebagai bagian dari prinsip jurnalisme berimbang. (Dv)
Tidak ada komentar