Oleh: Pinnur Selalau (Pemerhati Pendidikan Lampung)
Pendidikan dasar adalah fondasi. PAUD, TK, SD, SMP di Bandar Lampung seharusnya jadi tempat paling aman untuk tumbuhnya SDM unggul. Tapi 3 persoalan ini masih jadi ganjalan besar di bawah kepemimpinan Plt Kepala Dinas Pendidikan Kota Bandar Lampung.
1. Kualitas Guru dan Murid Jalan di Tempat
Kita sering dengar jargon “Merdeka Belajar”. Realitanya, banyak guru SD-SMP masih mengajar dengan metode ceramah. Pelatihan yang digelar Disdik cenderung seremonial: datang, foto, pulang, sertifikat. Pendampingan di kelas nyaris tidak ada.
Dampaknya ke anak didik. Hasil Asesmen Nasional 3 tahun terakhir menunjukkan literasi dan numerasi siswa SMP Bandar Lampung stagnan di bawah rata-rata provinsi. Anak lulus, tapi kemampuan baca-tulis-berhitung dasar masih lemah.
Pendidikan tanpa guru berkualitas ibarat kapal tanpa nahkoda. Disdik perlu geser dari kuantitas pelatihan ke kualitas pendampingan. Model “guru mentor ke guru” harus jalan, bukan cuma seminar di hotel.
2. Dana BOS: Antara Aturan dan Realita
BOS dan BOSDA tiap tahun digelontorkan miliaran. Aturannya jelas: untuk operasional, buku, dan peningkatan mutu. Tapi di lapangan ceritanya beda. Komite sekolah sering cuma tanda tangan RKAS tanpa dilibatkan. Mading transparansi BOS banyak yang kosong atau update setahun sekali.
Akibatnya, guru masih nombok beli ATK dan kuota. Sementara pengadaan barang “fisik” lebih mudah diserap. Ini bukan tuduhan, tapi pola yang berulang dan rawan.
Kalau Disdik serius, publikasikan realisasi BOS semua SD-SMP negeri di website resmi tiap triwulan. Libatkan orang tua dan pengawas. Tanpa transparansi, “tepat sasaran” akan terus jadi wacana.
3. Kepsek Rangkap Jabatan: Sekolah Tanpa Nahkoda
Ini yang paling krusial. Masih banyak ditemukan 1 kepala sekolah definitif/PLT memegang 2 bahkan 3 sekolah, lintas jenjang SD dan SMP. Alasannya klasik: kekurangan SDM kepsek.
Padahal Permendikbud jelas: kepsek adalah manajer pembelajaran. Bagaimana bisa supervisi guru, urus siswa bermasalah, dan bangun budaya mutu kalau waktunya habis di jalan antar sekolah? Sekolah yang ditinggal kepsek ibarat kapal tanpa kapten.
Kebijakan rangkap jabatan harus dihentikan. Daripada 1 kepsek untuk 3 sekolah, lebih baik percepat seleksi kepsek definitif yang transparan. Guru senior bisa ditunjuk jadi PLH harian. Mutu manajemen sekolah tidak bisa dikompromi.
Penutup
Pak Plt Kadisdik, kami percaya niat baik Bapak untuk memajukan pendidikan. Tapi niat baik tanpa pembenahan 3 PR ini akan membuat anggaran pendidikan kita mubazir.
Anak-anak Bandar Lampung tidak bisa menunggu. Mereka butuh guru yang kompeten hari ini, BOS yang jujur hari ini, dan kepsek yang hadir di sekolahnya hari ini.
Kami, warga dan orang tua murid, siap jadi mitra kritis. Karena kritik bukan untuk menjatuhkan, tapi untuk mengingatkan: tujuan kita sama, mencerdaskan anak bangsa.
Bandar Lampung, 9 Juni 2026.
Tidak ada komentar