Oleh : Pinnur Selalau (Jurnalis dan Pemerhati Pendidikan)
Hari Pendidikan Nasional yang diperingati setiap tanggal 2 Mei bukan sekadar agenda tahunan yang diwarnai upacara dan slogan-slogan inspiratif. Ia lahir dari sejarah panjang perjuangan bangsa dalam membebaskan diri dari belenggu kebodohan dan penindasan. Tanggal tersebut dipilih untuk mengenang kelahiran Ki Hadjar Dewantara, yang memiliki nama asli Raden Mas Suryadi Suryaningrat. Beliau adalah sosok visioner yang tidak hanya melawan penjajahan Belanda melalui tulisan dan pemikiran, tetapi juga melalui gerakan pendidikan yang membangkitkan kesadaran nasional.
Pada masa kolonial, pendidikan menjadi barang mewah yang hanya dapat diakses oleh kalangan tertentu. Ki Hadjar Dewantara melihat ketimpangan ini sebagai ancaman besar bagi masa depan bangsa. Melalui pendirian Taman Siswa, ia membuka akses pendidikan bagi rakyat pribumi, menanamkan nilai kebangsaan, kemandirian, dan keberanian berpikir. Pendidikan, dalam pandangannya, bukan sekadar transfer ilmu, melainkan proses memanusiakan manusia.
Pemikiran beliau yang terkenal, “Ing Ngarso Sung Tuladha, Ing Madyo Mangun Karso, Tut Wuri Handayani,” bukan hanya semboyan, melainkan filosofi mendalam tentang peran pendidik. Di depan, seorang guru harus menjadi teladan; di tengah, ia membangun semangat; dan di belakang, ia memberi dorongan. Nilai-nilai ini melampaui zaman dan tetap relevan hingga kini. Namun, dalam realitas kehidupan modern, terasa bahwa makna dari ajaran tersebut perlahan memudar.
Pendidikan hari ini sering kali terjebak dalam rutinitas administratif dan orientasi hasil semata. Guru dibebani tuntutan formalitas, sementara peserta didik lebih diarahkan pada pencapaian angka daripada pembentukan karakter. Orang tua pun kerap menyerahkan sepenuhnya tanggung jawab pendidikan kepada sekolah, tanpa keterlibatan aktif dalam proses pembentukan kepribadian anak. Di sisi lain, kebijakan pendidikan yang berubah-ubah menambah kompleksitas persoalan yang ada.
Refleksi Hari Pendidikan Nasional tahun 2026 seharusnya menjadi momentum untuk melihat kembali arah dan tujuan pendidikan kita. Sudah saatnya semua pihak orang tua, guru, masyarakat, dan pemerintah bersinergi secara nyata. Pendidikan bukan tanggung jawab satu pihak saja, melainkan kerja bersama yang memerlukan komitmen, kejujuran, dan kesungguhan. Saling menyalahkan dan mencari pembenaran diri hanya akan memperburuk keadaan.
Permasalahan pendidikan di Indonesia saat ini memang sangat kompleks, ibarat mengurai benang basah yang kusut dan sulit dipisahkan. Ada persoalan kualitas guru, kesenjangan fasilitas, ketimpangan akses, hingga konflik kepentingan dalam pengambilan kebijakan. Namun, kesulitan tersebut tidak boleh menjadi alasan untuk menyerah. Justru di sinilah dibutuhkan keberanian untuk melakukan perubahan yang mendasar dan berkelanjutan.
Semangat Hari Pendidikan Nasional hendaknya tidak berhenti pada seremoni belaka. Spanduk dengan tema indah dan pidato penuh retorika tidak akan berarti tanpa implementasi nyata. Esensi pendidikan adalah membentuk manusia yang berkarakter, berintegritas, dan memiliki kepedulian sosial. Jika nilai-nilai ini terus diabaikan, maka pendidikan hanya akan melahirkan generasi yang cerdas secara intelektual, tetapi rapuh secara moral.
Guru, Orang Tua, dan Masa Depan Pendidikan
Pendidikan bukan hanya urusan negara, tetapi juga tanggung jawab semua elemen bangsa. Hari Pendidikan Nasional adalah momen yang tepat untuk memberikan penghormatan tertinggi kepada guru – pahlawan tanpa tanda jasa – yang telah membentuk karakter dan intelektualitas anak bangsa di tengah berbagai keterbatasan.
Namun, keluarga juga harus menjadi aktor utama. Orang tua perlu menjadi guru pertama dan utama di rumah. Jika orang tua hanya menyerahkan anak sepenuhnya pada sekolah, maka upaya mencerdaskan kehidupan bangsa akan berjalan pincang.
Akhirnya, refleksi ini mengajak kita semua untuk kembali pada ruh pendidikan yang sejati. Meneladani semangat Ki Hadjar Dewantara, mari kita hidupkan kembali nilai-nilai luhur dalam dunia pendidikan. Dengan kesadaran bersama dan langkah nyata, harapan akan pendidikan yang lebih baik bukanlah sesuatu yang mustahil.
Dirgahayu Hari Pendidikan Nasional. Mari kita kawal masa depan pendidikan Indonesia agar tidak terus berada di persimpangan jalan. Pendidikan yang berkualitas, adil, dan berkesinambungan adalah satu-satunya jalan menuju Indonesia yang benar-benar maju dan berdaulat dalam kecerdasan.
Bandar Lampung : 2 Mei 2026.
Editor : Elza Azizah S.H.
Author : RadarCyberNusantara.Id.
Tidak ada komentar