RadarCyberNusantara.Id| Transformasi digital yang semakin cepat membawa perubahan besar dalam pola belajar anak. Namun di tengah kemudahan akses informasi, pendidikan karakter dinilai tetap menjadi fondasi utama untuk menyiapkan generasi masa depan yang tangguh secara moral dan sosial.
Ketua Dewan Pimpinan Daerah Persatuan Wartawan Republik Indonesia (DPD PWRI) Provinsi Lampung, Darmawan S.H.,M.H., menegaskan bahwa tantangan pendidikan saat ini tidak hanya memastikan anak cakap secara akademik, tetapi juga mampu tumbuh dengan karakter kuat di tengah derasnya arus informasi digital.
Hal tersebut disampaikan Darmawan yang juga berprofesi sebagai Advokat tersebut, dalam rangka menyambut Tahun Ajaran Baru 2026-2027. Menurutnya, Generasi Alpha hidup dalam lingkungan yang sangat dekat dengan teknologi, sehingga proses pendidikan harus mampu menyeimbangkan kecakapan digital dengan penguatan nilai kemanusiaan.
“Anak-anak hari ini hidup di era digital. Informasi bisa mereka akses hanya lewat satu sentuhan layar. Tetapi karakter, empati, disiplin, dan nilai kemanusiaan tetap harus dibangun melalui pendidikan dan keteladanan,” ujar Darmawan, Minggu (17/05/2026).
Ia menjelaskan, akses informasi yang cepat memberi banyak peluang bagi anak untuk belajar lebih luas, tetapi juga menghadirkan tantangan baru berupa menurunnya interaksi sosial langsung, berkurangnya ketahanan emosional, serta lemahnya filter terhadap informasi yang tidak sesuai usia.
Dalam konteks itu, Darmawan menilai peran guru semakin strategis. Guru tidak lagi hanya berfungsi sebagai pengajar, melainkan penuntun yang membantu anak memahami nilai, membangun etika, dan membentuk cara berpikir yang sehat.
“Informasi bisa dicari di internet, tetapi karakter tidak bisa diunduh. Di sinilah pentingnya peran guru dan orang tua,” kata Darmawan.
Menurutnya, pendidikan karakter menjadi kebutuhan mendesak karena anak-anak saat ini tumbuh di ruang digital yang sangat terbuka. Tanpa pendampingan yang tepat, perkembangan teknologi berpotensi menggeser nilai empati, disiplin, dan tanggung jawab sosial.
Ia juga menekankan bahwa keteladanan harus menjadi bagian utama dalam pendidikan. Anak belajar bukan hanya dari materi, tetapi dari perilaku yang mereka lihat setiap hari, baik di rumah maupun di sekolah.
Karena itu, Darmawan mendorong sekolah dan keluarga membangun ekosistem pendidikan yang saling mendukung. Guru didorong terus meningkatkan kapasitas agar adaptif terhadap metode pembelajaran modern, sementara keluarga perlu menghadirkan ruang pengasuhan yang sehat dan komunikatif.
Bagi Provinsi Lampung, penguatan karakter dipandang sebagai bagian dari pembangunan sumber daya manusia jangka panjang. Generasi yang unggul tidak hanya ditentukan oleh kemampuan akademik dan penguasaan teknologi, tetapi juga oleh integritas, kepedulian sosial, serta kemampuan menjaga nilai kebangsaan di tengah perubahan zaman.
“Kita yakin dan percaya, dibawah kepemimpinan Gubernur Lampung Rahmat Mirzani Djausal, Pendidikan di provinsi Lampung, bukan hanya akan unggul secara akademik namun juga mampu mencetak generasi muda yang mempunyai moral, empati, kritis, kepedulian sosial yang tinggi serta memiliki integritas yang kuat.” Pungkas Darmawan.
Pendidikan etika dan moral adalah proses pembentukan karakter yang menanamkan nilai-nilai kebaikan, tanggung jawab, dan kesadaran sosial. Ini membekali individu agar tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga berintegritas, berempati, dan mampu mengambil keputusan secara bermartabat dalam kehidupan bermasyarakat. | Red.
Tidak ada komentar