RadarCyberNusantara.Id | – Diaula SMAN 1 Tumijajar hati itu berubah jadi panggung penuh cahaya. Ukiran biru emas melengkung di latar, bunga merah tertata rapi di bibir panggung, dan layar LED raksasa menyala, Perpisahan dan Pelepasan Siswa/i Kelas XII TA 2025/2026.
Di bangku penonton, ratusan orang tua, guru, dan siswa kelas X-XI duduk berdesakan. Di luar, terik Lampung Tubaba tak mampu mengalahkan panasnya suasana.
Musik berhenti. Sorak sorai mereda.
Di tengah panggung, Farid Ahnaf Athallah berdiri sendiri. Kelas XII.9. Asal Bandar Abung. Lahir 21 Januari 2009. Tiga tahun namanya tercatat di papan absensi SMAN 1 Tumijajar. Hari itu, namanya dipanggil untuk prosesi sungkem.
Pelan-pelan Farid melangkah. Ia menunduk, meraih tangan gurunya. Bibirnya menyentuh punggung tangan itu. Tidak ada kata. Hanya diam yang lebih panjang dari pidato mana pun.
“Tiga tahun rasanya cepat banget,” gumamnya nanti, saat ditanya teman. “Dari MPLS yang bingung, sampai sekarang… nggak nyangka udah mau pisah.” gumam Farid dalam sesi sungkem.
Di layar belakangnya, motto angkatan menyala, Keberuntungan Berpihak pada yang Berani. Di bawahnya, tagline A Farewell of Eternal Bonds seperti pengingat bahwa perpisahan ini bukan garis akhir. Ia cuma jeda.
Kepala SMAN 1 Tumijajar dalam sambutannya menyebut angkatan 2026 sebagai “angkatan yang tangguh”. Mereka melewati masa transisi pasca-pandemi, adaptasi kurikulum baru, dan tekanan ujian yang tak pernah ringan.
“Anak-anak ini bukan hanya lulus. Mereka tumbuh,” katanya.
Di barisan penonton, beberapa ibu menutup mulut. Ada yang sudah mengusap air mata sejak nama anaknya disebut. Di sisi panggung, gitar dan sound system masih diam. Mereka menunggu giliran mengiringi tangis, tawa, dan lagu perpisahan yang pasti akan dinyanyikan malam ini.
Farid bukan satu-satunya. Setelah dia, puluhan siswa lain naik bergantian. Tiap jabat tangan, tiap sungkem, punya cerita berbeda. Tapi di momen itu, semua cerita menyatu jadi satu rasa, beratnya melepaskan, dan besarnya harapan.
Acara berlanjut dengan persembahan seni dari adik kelas, pembacaan kesan-pesan, dan penyerahan kenang-kenangan. Tapi untuk banyak orang, momen Farid tadi yang paling diingat.
Sederhana. Tidak ada confetti. Tidak ada pidato panjang. Hanya seorang anak yang menunduk, berterima kasih dengan cara yang paling tua dan paling jujur.
SMAN 1 Tumijajar hari itu tidak sekadar melepas siswa. Ia melepas harapan, bahwa anak-anak yang turun dari panggung itu akan berani melangkah keluar, membawa nama baik almamater, dan suatu hari pulang membawa cerita.
Farid sudah memulai. Sungkem terakhirnya bukan sekadar adat. Itu janji. (Dv)
Dilihat: 3
Rekomendasi
Tidak ada komentar