Hardiknas 2026: Menguatkan Partisipasi Semesta di Tengah Disrupsi Pendidikan

waktu baca 5 menit
Sabtu, 2 Mei 2026 15:43 3 Admin RCN

Penulis: Dr. Yunada Arpan, SH., SE., MM,(Dosen STIE Gentiaras Bandar Lampung)

 

Hari Pendidikan Nasional tahun 2026 ini, pemerintah mengusung tema “Menguatkan Partisipasi Semesta Mewujudkan Pendidikan Bermutu untuk Semua.” Tema ini bukan sekadar slogan, melainkan seruan kolektif bahwa pendidikan tidak bisa lagi dipikul oleh negara semata, tetapi membutuhkan keterlibatan seluruh elemen bangsa.

Sejak era Ki Hajar Dewantara, pendidikan telah dimaknai sebagai proses memerdekakan manusia. Namun, dalam realitas kekinian, makna tersebut semakin kompleks. Dunia berubah cepat, teknologi berkembang pesat, dan globalisasi menghadirkan kompetisi tanpa batas. Pendidikan tidak lagi cukup berfungsi sebagai sarana transfer ilmu, melainkan harus menjadi ruang pembentukan karakter, kreativitas, dan daya adaptasi.

Fenomena global menunjukkan bahwa pendidikan sedang berada dalam fase transformasi besar. UNESCO menekankan pentingnya pendidikan yang inklusif, adaptif, dan berorientasi masa depan. Namun, tantangan terbesar tetap pada ketimpangan akses dan kualitas. Di satu sisi, teknologi membuka peluang belajar tanpa batas. Di sisi lain, kesenjangan digital justru memperlebar jurang antara mereka yang memiliki akses dan yang tidak.

Indonesia tidak terlepas dari dinamika tersebut. Akses pendidikan memang semakin luas, tetapi kualitas masih menjadi persoalan mendasar. Hasil evaluasi internasional seperti Programme for International Student Assessment menunjukkan bahwa kemampuan literasi dan numerasi peserta didik Indonesia masih perlu ditingkatkan. Ini mengindikasikan bahwa sistem pendidikan belum sepenuhnya efektif dalam membangun kompetensi dasar.

Permasalahan pendidikan di Indonesia bersifat multidimensional. Pertama, kualitas dan distribusi guru yang belum merata. Guru sebagai “jantung pendidikan” masih menghadapi berbagai keterbatasan, baik dari segi kompetensi, kesejahteraan, maupun akses pelatihan berkelanjutan. Kedua, kurikulum yang sering berubah tanpa diikuti kesiapan implementasi di lapangan. Ketiga, kesenjangan fasilitas antara daerah perkotaan dan wilayah terpencil.

Selain itu, persoalan pendanaan juga menjadi isu krusial. Meskipun alokasi anggaran pendidikan telah mencapai 20% dari APBN, efektivitas penggunaannya masih perlu dievaluasi. Sebagian besar anggaran terserap untuk belanja rutin, sementara investasi pada peningkatan kualitas pembelajaran belum optimal. Tanpa tata kelola yang baik, besarnya anggaran tidak serta-merta berbanding lurus dengan kualitas hasil pendidikan.

Di tengah berbagai tantangan tersebut, kemajuan teknologi menghadirkan peluang sekaligus ancaman. Kehadiran Artificial Intelligence telah mengubah cara manusia belajar. Proses pembelajaran kini dapat dilakukan secara personal, fleksibel, dan berbasis data. Namun, di sisi lain, muncul risiko ketergantungan teknologi, menurunnya kemampuan berpikir kritis, serta persoalan etika seperti plagiarisme dan bias algoritma.

Dalam konteks ini, pendidikan harus kembali pada esensinya sebagai proses pembentukan manusia seutuhnya. Seperti yang dikatakan Albert Einstein, “belajar adalah pengalaman yang dimulai sejak lahir dan berakhir ketika kita meninggal.” Pandangan ini menegaskan bahwa pendidikan bukan sekadar aktivitas formal di sekolah, melainkan proses sepanjang hayat yang melibatkan pengalaman hidup secara menyeluruh.

Lebih jauh, Nelson Mandela pernah menyatakan bahwa “pendidikan adalah senjata paling ampuh untuk mengubah dunia.” Kutipan ini menegaskan bahwa pendidikan memiliki kekuatan transformatif yang luar biasa. Namun, kekuatan tersebut hanya akan terwujud jika pendidikan dikelola secara serius, inklusif, dan berkeadilan.

Dalam praktiknya, proses belajar tidak selalu berjalan mulus. Kegagalan dan rintangan merupakan bagian dari perjalanan pendidikan. Justru dari kegagalan itulah lahir ketekunan dan daya juang. Pendidikan yang baik bukan yang menghindarkan peserta didik dari kesalahan, melainkan yang membimbing mereka untuk belajar dari kesalahan tersebut

Untuk itu, pembenahan pendidikan harus dilakukan secara menyeluruh dari hulu hingga hilir. Pada jenjang pendidikan dasar, penguatan literasi, numerasi, dan karakter harus menjadi prioritas utama. Guru perlu didukung dengan pelatihan yang berkelanjutan serta metode pembelajaran yang kontekstual dan menyenangkan.

Pada jenjang pendidikan menengah, kurikulum harus lebih fleksibel dan relevan dengan kebutuhan zaman. Pendidikan vokasi perlu diperkuat agar selaras dengan dunia kerja. Kolaborasi antara sekolah dan industri menjadi kunci dalam menciptakan lulusan yang siap menghadapi tantangan global.

Sementara itu, pada jenjang pendidikan tinggi, perguruan tinggi harus bertransformasi menjadi pusat inovasi dan riset. Kampus tidak boleh hanya menjadi tempat mencetak ijazah, tetapi harus mampu menghasilkan gagasan dan solusi bagi persoalan bangsa. Kolaborasi internasional, peningkatan kualitas dosen, serta penguatan budaya akademik menjadi faktor penting.

Namun, semua upaya tersebut tidak akan berhasil tanpa partisipasi semesta. Tema Hardiknas 2026 menegaskan bahwa pendidikan adalah tanggung jawab bersama. Pemerintah, guru, orang tua, dunia usaha, dan masyarakat harus bersinergi dalam menciptakan ekosistem pendidikan yang berkualitas. Pendidikan tidak bisa lagi dipandang sebagai urusan sektor tertentu, melainkan sebagai investasi kolektif untuk masa depan bangsa.

Lebih dari itu, pendidikan juga harus membentuk manusia yang tidak hanya cerdas secara intelektual, tetapi juga matang secara emosional dan sosial. Penguasaan ilmu pengetahuan harus diimbangi dengan akhlak dan tanggung jawab moral. Tanpa itu, kemajuan teknologi justru berpotensi menjadi bumerang.

Akhirnya, Hari Pendidikan Nasional harus dimaknai sebagai momentum untuk memperkuat komitmen bersama. Pendidikan bukan sekadar proses akademik, melainkan perjalanan hidup yang membentuk jati diri manusia. Ia tidak dibatasi oleh ruang kelas, tetapi berlangsung sepanjang hayat baik di rumah, di tempat kerja, dan di tengah masyarakat.

Hardiknas 2026 adalah panggilan untuk bergerak bersama. Menguatkan partisipasi semesta bukan hanya tugas pemerintah, tetapi tanggung jawab kita semua. Dengan kolaborasi, inovasi, dan komitmen yang kuat, pendidikan Indonesia dapat menjadi fondasi kokoh dalam menghadapi tantangan global dan mewujudkan masa depan yang lebih adil, maju, dan beradab.

Bandar Lampung : 02 Mei 2026.
Editor : Elsa Azizah S.H.
Author : RadarCyberNusantara.Id

 

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA

Dapatkan Berita Pilihan Di Whatsapp Untuk Anda.

 

X
error: Content is protected !!