Korupsi Disektor Pendidikan Melukai Dua Kali: Merusak Kualitas Hari Ini, Merampas Masa Depan Hari Esok

waktu baca 3 menit
Rabu, 1 Jul 2026 13:17 20 Admin RCN

RadarCyberNusantara.Id | Korupsi di sektor pendidikan sering dianggap sekadar “bocornya anggaran.” Tapi sejatinya, dampaknya jauh lebih dalam. Ia bukan hanya merusak laporan keuangan negara, melainkan juga merusak kualitas pendidikan, bahkan masa depan generasi muda.

Banyak kasus korupsi pendidikan berawal dari proyek infrastruktur: pembangunan sekolah, pengadaan buku, hingga distribusi sarana belajar. Setiap rupiah yang digelapkan, sejatinya adalah kursi kosong di ruang kelas, dinding retak yang nyaris roboh, atau buku pelajaran yang tidak pernah sampai ke tangan murid.

“Korupsi pendidikan itu bukan sekadar angka. Itu berarti anak-anak harus belajar di kelas bocor, tanpa fasilitas, tanpa dukungan. Korupsi menciptakan ketidakadilan yang paling nyata di depan mata,” tegas Pinnur Selalau, Pemerhati Pendidikan Lampung.

Hilangnya Kesempatan Belajar

Dana yang semestinya dialokasikan untuk beasiswa sering bocor ke kantong pribadi. Akibatnya, ribuan siswa dari keluarga miskin kehilangan kesempatan untuk melanjutkan sekolah.

Anak-anak berbakat terpaksa berhenti belajar bukan karena kurang kemampuan, tetapi karena pejabat rakus mengambil hak mereka. Inilah bentuk kejahatan yang merampas masa depan tanpa suara.

Korupsi pendidikan tidak hanya merusak fasilitas, tapi juga mental. Murid diajarkan kejujuran di kelas, tetapi melihat pejabat pendidikan masuk ruang sidang.

“Generasi muda belajar dari teladan. Kalau yang mereka lihat adalah pemimpin pendidikan yang korup, mereka akan menganggap itu hal biasa. Inilah yang paling berbahaya: normalisasi korupsi sejak dini,” ujar Pinnur Selalau.

Integritas yang seharusnya ditanamkan justru terkikis. Pendidikan berubah dari ladang nilai menjadi ladang hipokrisi.

Lingkaran Setan Kualitas SDM

Korupsi membuat kualitas pendidikan merosot. Kualitas pendidikan yang buruk melahirkan SDM yang lemah. SDM yang lemah lebih mudah dimanipulasi, sehingga lingkaran korupsi semakin kuat.

“Korupsi di pendidikan itu seperti bom waktu. Ia menciptakan generasi lemah yang tidak punya daya saing, lalu bangsa ini akan kalah dalam percaturan global. Jadi dampaknya bukan hanya pada murid hari ini, tapi pada nasib bangsa puluhan tahun ke depan,” jelas Pinnur Selalau.

Apa yang Harus Dilakukan?

Menurut Pinnur Selalau, ada empat langkah yang mutlak:

1. Transparansi total, setiap rupiah anggaran pendidikan harus bisa diakses publik.
2. Teladan integritaspemimpin pendidikan harus berani hidup sederhana dan terbuka.
3. Pendidikan anti-korupsi sejak dinibukan hanya teori, tapi lewat praktik nyata.
4. Pengawasan ketatmelibatkan masyarakat, guru, bahkan murid untuk ikut mengawasi.

Korupsi di pendidikan adalah kejahatan yang melukai dua kali: merusak kualitas hari ini, dan merampas masa depan besok.

Sekolah boleh berdiri megah, kurikulum boleh berganti, tapi jika korupsi terus bercokol, generasi muda hanya akan mewarisi puing-puing harapan.

Pertanyaan getirnya: apakah kita mau terus mencetak generasi cerdas di atas fondasi rapuh korupsi, atau berani membersihkan pendidikan agar benar-benar jadi rumah lahirnya negarawan?

Bandar Lampung: 1 Agustus 2026.
Editor : Elsa Azizah S.H.
Author : RadarCyberNusantara.Id.

 

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA

Dapatkan Berita Pilihan Di Whatsapp Untuk Anda.

 

X
error: Content is protected !!