RadarCyberNusantara.Id | – Setahun lalu mereka dipindah dengan janji “sebentar lagi berjualan di pasar modern”. Hari ini, yang mereka dapat hanya lapak reyot, omzet yang mati, dan kerangka besi yang tak bergerak.
Itulah nasib ratusan pedagang Pasar Dekon Kotabumi. Revitalisasi yang digembar-gemborkan sebagai kebangkitan ekonomi rakyat kecil, kini berubah jadi beban yang menggantung. Progres mandek di 30 persen. Target selesai terus diundur. Dan ketika ditanya “kapan?”, jawabannya hanya diam.
Di balik proyek pasar modern, tersembunyi suara-suara pedagang yang pelan-pelan kehilangan harapan. Pendapatan anjlok dari ratusan ribu jadi puluhan ribu per hari, beberapa dar pedagang bahkan sudah gulung tikar, pasar belum jadi, tapi hidup mereka sudah tergerus.
Dulu, Pemerintah Kabupaten Lampung Utara bersama pengembang optimis, pasar Dekon akan jadi ikon baru perdagangan modern di Kotabumi. Pedagang pun rela direlokasi ke tempat penampungan sementara, mereka percaya, sebentar lagi bisa kembali berjualan di tempat yang layak, bersih, dan ramai. Tapi waktu berjalan. Janji itu menguap.
Di tempat relokasi, fasilitas minim, pembeli malas datang. “Dulu sehari bisa dapat 500 ribu, sekarang 50 ribu pun susah,” keluh salah satu pedagang. Omzet merosot drastis, beberapa pedagang bahkan mulai terkulai.
Yang lebih menyakitkan, tak ada rilis resmi dari pengembang, kapan selesai? Bagaimana progresnya? Berapa anggaran yang sudah terserap? Semua pertanyaan itu dijawab dengan diam.
Kondisi di lapangan makin memperparah keresahan. Material bangunan pernah menimpa kios relokasi pedagang dan rumah warga. Beruntung tidak ada korban jiwa, tapi peristiwa itu membuka mata, pengawasan proyek lemah, keselamatan diabaikan.
“Kalau ini terjadi di proyek swasta, mungkin sudah disegel. Tapi ini proyek pemerintah. Harusnya lebih ketat,” ujar seorang warga yang rumahnya terdampak.
Pasar Dekon bukan sekadar deretan kios dan semen. Di sana ada ratusan keluarga yang menggantungkan hidup, ada ibu yang menabung untuk sekolah anaknya, ada bapak yang membayar kontrakan dari hasil jualan sayur dan baju.
Ketika proyek mangkrak, yang rugi bukan pejabat, bukan juga pengembang. Yang paling terpukul adalah pedagang kecil yang dipaksa bertahan di tempat sementara, tanpa kepastian kapan bisa pulang.
Pasar ini sumber hidup ratusan keluarga, Mereka hanya meminta tiga hal sederhana, transparansi progres dan anggaran, kepastian waktu penyelesaian, dan pengawasan yang ketat dan tegas.
*Menagih Peran Pemerintah*
Publik kini bertanya, di mana peran Pemerintah Daerah? Pemerintah hadir saat seremoni penandatanganan kerja sama, berfoto dengan senyum lebar, menyampaikan janji besar tentang “pasar modern”. Tapi ketika masyarakat mengeluh, ketika proyek mandek, pemerintah seperti menghilang. Kalau revitalisasi ini memang untuk rakyat, maka rakyat berhak tahu, transparansi bukan kemewahan. Itu hak.
Pemerintah daerah dituntut lebih tegas, jangan biarkan pengembang jalan sendiri tanpa target jelas. Jangan biarkan ratusan pedagang menjadi korban dari proyek yang jalan di tempat.
Karena jika pasar ini mati, yang mati bukan bangunan. Yang mati adalah denyut ekonomi masyarakat kecil di Kotabumi. Rakyat butuh tindakan, bukan alasan. Sampai kapan Pasar Dekon akan terus jadi janji yang tak kunjung ditepati?
Penulis : Davi rcn.id
Tidak ada komentar