Oleh: Pinnur Selalau (Pimred Media RadarCyberNusantara. Id)
Penghargaan seharusnya jadi cermin untuk mengukur seberapa jauh pemerintah melayani rakyat. Sayangnya, cermin itu kini berubah jadi topeng. Banyak kepala daerah yang lebih sibuk mengejar Piagam atau Piala daripada membereskan persoalan dasar warganya.
1. Penghargaan Tidak Sama Dengan Kinerja Nyata
Lihat daftar penghargaan hari ini: WTP, Top Leader Award lah , Kota Layak Anak. Kedengarannya hebat. Tapi cek lapangannya. Kemiskinan belum ada solusi, Jalan provinsi atau Kabupaten masih bergelombang dan ditambal tambal. Puskesmas kekurangan obat dan tenaga. Pengangguran makin banyak. Banjir langganan tiap musim hujan datang tanpa solusi jangka panjang. Piala masuk lemari kantor, sementara layanan publik jalannya pelan. Artinya, parameter penilaian lebih banyak menilai administrasi dan presentasi, bukan dampak nyata ke warga.
2. Kepercayaan Publik Ikut Terkikis
Warga sekarang melek. Mereka baca berita Penghargaan didapatkan oleh “Bupati/Walikota Terinovatif” atau “Kepala Daerah Peduli Rakyat”. Tapi tiap hujan, rumah mereka tetap kebanjiran. Tiap sakit, mereka tetap antre berjam-jam di RS. Lama-lama simbol kehilangan makna. Yang tumbuh bukan kebanggaan, tapi apatisme. Jarak antara gembar-gembor di media dan kenyataan di lapangan terlalu lebar. Kalau ini dibiarkan, rakyat nggak akan percaya lagi sama kata “prestasi”.
3. Energi Birokrasi Salah Sasaran
Masalahnya bukan di Piagam atau pialanya, tapi di energinya. SKPD, camat, sampai lurah disibukkan bikin laporan, video profil, data lomba, dan menjamu tim penilai. Waktu dan anggaran habis di situ. Padahal kalau energi yang sama dipakai untuk memangkas birokrasi izin usaha, menata sampah kota, atau serius menangani stunting, hasilnya langsung dirasakan ibu di dapur, anak di sekolah. Prestasi sejati itu sederhana: hidup warga jadi lebih mudah.
Lalu Penghargaan Seperti Apa Yang Relevan?
Penghargaan yang pantas itu yang jurinya rakyat sendiri. Bukan panitia pemberi penghargaan atau juri. Indikatornya juga sederhana: angka kemiskinan turun, antrean RS berkurang, Jalan-jalan mulus, banjir bisa ditangani, anak putus sekolah makin sedikit. Pengangguran berkurang. Lapangan pekerjaan tersedia. Kalau 3T kepake: tepat sasaran, tepat guna, tepat waktu, piala akan datang sendiri tanpa dikejar.
Penutup
Piala atau Piagam boleh ada, tapi jadikan bonus, bukan tujuan. Pemimpin yang hebat nggak butuh panggung untuk membuktikan kerja. Cukup lihat senyum warga yang hidupnya berubah. Karena pada akhirnya, juri paling jujur bukan lembaga pemberi award, tapi rakyat yang tiap hari merasakan kebijakan itu.
Bandar Lampung : 12 Juni 2026.
Tidak ada komentar