Oleh: Bambang Nopriyadi, Pemerhati Pendidikan Lampung
Ada paradoks dalam pendidikan kita hari ini. Kita ingin generasi unggul, sekolah berprestasi, dan SDM yang mampu bersaing global. Kita dorong siswa ikut OSN, olahraga, seni, penelitian, dan berbagai ajang talenta. Ketika medali dibawa pulang, nama sekolah harum dan daerah ikut bangga.
Tapi kita sering lupa, siapa yang bekerja di balik prestasi itu?
Ada guru yang menemukan potensinya, pembina yang melatih sepulang sekolah, kepala sekolah yang memberi dukungan, orang tua yang mengorbankan waktu, dan siswa itu sendiri yang berjuang keras. Medali bukan hanya milik anak yang di podium. Medali adalah hasil kerja sebuah ekosistem.
*Pendidikan Jangan Hanya Dilihat dari Hasil Akhir*
Kita terbiasa menilai pendidikan dari angka, nilai asesmen, jumlah piala, peringkat sekolah. Itu penting, tapi tidak cukup.
Seorang juara tidak lahir tiba-tiba. Di baliknya ada latihan panjang, proses mencoba dan gagal, evaluasi berulang, dan pendampingan yang kadang dilakukan di luar jam reguler.
Yang kita butuhkan bukan model reaktif, lomba diumumkan baru cari siswa, baru cari pembina. Yang kita butuhkan adalah sistem berkelanjutan, identifikasi talenta – pemetaan potensi – pembinaan – pendampingan – kompetisi – evaluasi.
Dengan begitu, prestasi bukan target tahunan, melainkan budaya sekolah.
*Guru Pembina dan Tata Kelola yang Sehat*
Di balik foto piala, ada guru pembina yang bekerja dalam diam. Ia menyusun strategi, melakukan simulasi, memberi motivasi saat siswa gagal. Ia adalah mentor dan pengembang talenta.
Karena itu, kerja pembinaan harus mendapat kepastian tugas, dukungan fasilitas, penghargaan profesional, dan mekanisme pembiayaan yang jelas sesuai regulasi. Bukan berarti semua harus dibayar, tapi harus dihargai secara kelembagaan.
Terkait Dana BOSP, harus proporsional. BOSP bukan dana yang bisa dipakai sesuka hati, tapi juga bukan untuk ditakuti selama direncanakan dan dipertanggungjawabkan secara transparan. Sekolah harus bisa menjawab, dana untuk apa, dasar kebijakannya apa, manfaatnya untuk peserta didik apa. Karena uang pendidikan adalah uang publik.
Jangan sampai sekolah serba salah, dituntut berprestasi, tapi ragu menggunakan anggaran untuk pembinaan.
*Membangun Ekosistem, Bukan Sekadar Program*
Kita juga harus jujur, kondisi sekolah kita berbeda-beda. Sekolah di kota besar berbeda dengan di wilayah terpencil. Keadilan bukan berarti perlakuan sama persis, tapi dukungan yang sesuai kebutuhan agar semua punya kesempatan bermutu.
Transformasi kurikulum, digitalisasi, dan AI juga penting. Tapi ingat, kurikulum tidak mengajar, guru yang mengajar. Dokumen boleh berubah, aplikasi boleh berganti, tapi perubahan baru bermakna ketika terjadi di ruang kelas. Guru butuh waktu, pelatihan relevan, komunitas belajar, dan kepercayaan profesional. Teknologi adalah alat, empati dan keteladanan tetap milik manusia.
Dan yang paling humanis, pendidikan bukan hanya untuk juara. Tidak semua anak akan juara OSN. Tapi semua anak berhak mendapat pendidikan bermutu. Tugas kita menemukan kekuatan masing-masing anak. Orang tua pun perlu berubah, bukan hanya bertanya “berapa nilainya?”, tapi “apa kekuatannya dan apa yang bisa kita kerjakan bersama?”.
*PENUTUP: Pendidikan Bermutu Adalah Kerja Bersama*
Pada akhirnya, untuk membangun ekosistem itu kita perlu mengembangkan kompetensi guru, memperkuat kepemimpinan sekolah, memastikan pembiayaan yang akuntabel, menyediakan fasilitas yang memadai, serta menciptakan kebijakan yang konsisten dan berkelanjutan.
Sebab prestasi tidak lahir hanya dari sebuah perlombaan.
Prestasi lahir dari proses.
Mutu tidak lahir dari sebuah slogan.
Mutu lahir dari budaya.
Transformasi tidak lahir dari perubahan dokumen.
Transformasi lahir dari perubahan praktik.
Dan pendidikan bermutu tidak lahir dari kerja satu pihak.
Pendidikan bermutu lahir dari ekosistem yang bekerja bersama.
Maka pesan untuk seluruh pemangku kepentingan pendidikan Indonesia adalah:
Jangan hanya membangun sekolah yang menghasilkan juara. Bangunlah sistem pendidikan yang memberikan kesempatan kepada setiap anak untuk menemukan potensinya, memberikan ruang kepada setiap guru untuk berkembang, memberikan dukungan kepada setiap sekolah untuk bertransformasi, dan memastikan setiap rupiah pendidikan dipergunakan secara bertanggung jawab untuk kepentingan peserta didik.
Karena pada akhirnya, ukuran keberhasilan pendidikan bukan hanya berapa banyak piala yang dipajang di lemari sekolah, tetapi berapa banyak kehidupan anak yang berhasil kita ubah menjadi lebih berpengetahuan, berkarakter, mandiri, dan memiliki masa depan.
Jangan hanya hitung medali.
Hitung juga prosesnya.
Hargai manusianya.
Bangun ekosistemnya.
Dan pastikan pendidikan Indonesia benar-benar hadir untuk setiap anak.
Lampung Utara: 24 September 2026
Editor: Davi
Author : RadarCyberNusantara.Id
Tidak ada komentar