Wartawan di Kotak-Kotakkan: Ketika Solidaritas Tergantikan oleh Kepentingan

waktu baca 3 menit
Sabtu, 3 Okt 2026 14:21 2 Admin RCN

Oleh: Pinnur Selalau. (Pengurus DPD PWRI Lampung)

RadarCyberNusantara.Id | Di era digital yang serba terkoneksi ini, seharusnya dunia Jurnalistik bisa menjadi ruang yang lebih inklusif, tempat para wartawan atau jurnalis saling merangkul, bertukar ide, dan tumbuh bersama. Namun, realitanya justru sering kali berbeda. Alih-alih membangun jembatan, banyak komunitas wartawan justru membangun tembok—mengotak-ngotakkan diri berdasarkan kelompok, organisasi, atau kepentingan tertentu. Yang lebih ironis, solidaritas sesama wartawan perlahan terkikis, digantikan oleh mentalitas “kami vs mereka“.

Tak bisa dimungkiri, komunitas wartawan memiliki peran penting dalam memajukan literasi. Mereka menjadi wadah diskusi, tempat berbagi karya. Bahkan menjadi sarana untuk mendapatkan peluang ekonomi. Namun, ketika komunitas hanya berfungsi sebagai “klub eksklusif” yang hanya mengenal dan merangkul anggota dalam lingkaran mereka sendiri, maka esensi kebersamaan dalam dunia pers pun memudar.

Pernahkah Anda melihat seorang jurnalis di luar komunitas tertentu diabaikan hanya karena bukan “bagian dari mereka”? Atau seorang wartawan yang karyanya dianggap tidak “cukup bergengsi” karena tidak berasal dari organisasi ternama? Ini adalah gejala yang memprihatinkan. Jurnalistik seharusnya tentang kebebasan berekspresi, bukan tentang seberapa kuat jaringan kita dalam suatu grup.

Duit di Balik Layar: Ketika Kepentingan Ekonomi Mengalahkan Idealisme

Salah satu faktor yang memperparah fenomena ini adalah motif ekonomi. Banyak komunitas atau grup wartawan yang sejatinya lebih fokus pada proyek, pendanaan, atau popularitas ketimbang membangun ekosistem wartawan yang sehat. Tidak ada yang salah dengan mencari nafkah dari media—wartawan juga butuh makan, tetapi ketika uang menjadi satu-satunya tujuan maka yang terjadi adalah persaingan tidak sehat dan pengabaian terhadap mereka yang dianggap “tidak menguntungkan”.

Bayangkan, seorang jurnalis berbakat dari media kecil mungkin kesulitan menembus komunitas media besar yang sudah mapan. Bukan karena karyanya buruk, tapi karena ia tidak punya “koneksi” atau “branding” yang dianggap menjual. Akhirnya, yang terjadi adalah kesenjangan: wartawan yang sudah punya nama semakin dielu-elukan, sementara yang lain tetap terpinggirkan.

Solidaritas yang Hilang: Bisakah Kita Kembali ke Khittah Media?

Media lahir dari keragaman. Setiap jurnalis punya suara unik, setiap karya punya nilai. Jika kita terus mengkotak-kotakkan diri, maka kita justru membunuh roh media itu sendiri. Lalu, bagaimana solusinya?

Pertama, komunitas harus lebih terbuka. Alih-alih hanya fokus pada internal grup, mengapa tidak menjalin kolaborasi dengan jurnalis dari latar belakang berbeda?

Kedua, kurangi mentalitas “kita vs mereka”. Seorang jurnalis dari komunitas A bukanlah rival bagi jurnalis dari komunitas B—kita semua adalah bagian dari dunia pers yang sama.

Ketiga, kembalikan media sebagai medium kebersamaan, bukan sekadar ajang mencari keuntungan.

Jika dunia pers terus dibiarkan terpecah belah oleh sekat-sekat artifisial maka kita hanya akan melahirkan generasi jurnalis yang pandai berpolitik komunitas, tetapi miskin solidaritas, padahal pers sejatinya adalah tentang manusia—tentang karya, tentang empati, tentang kebersamaan.

Mari kita ingat lagi mengapa kita mencintai Pers: bukan untuk bersaing, tapi untuk bersatu. Bukan untuk menguasai, tapi untuk memahami. Jadi, hal terpenting adalah Pers bukan milik satu kelompok saja, melainkan milik semua orang yang berani kritis, berpikir, dan menulis.

Nah, lain kali ketika Anda bertemu seorang jurnalis di luar komunitas Anda, cobalah menyapa. Siapa tahu, dari situ lahir kolaborasi indah yang tak terduga. Lagi pula, bukankah Pers yang baik selalu dimulai dari kebersamaan—bukan dari tembok tinggi yang kita bangun sendiri?

Pers tanpa solidaritas ibarat kendaraan tanpa arah—masih bisa berjalan, tapi tak pernah mencapai tujuan.

Bandar Lampung : 3 Oktober 2026.
Editor : Elsa Azizah S.H.
Author : RadarCyberNusantara.Id.

 

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA

Dapatkan Berita Pilihan Di Whatsapp Untuk Anda.

 

Close Welcome Bar
error: Content is protected !!