RadarCyberNusantara.Id | – Senin pagi, 22 Juni 2026. Matahari belum tinggi, tapi teras SDN Karang Rejo II, Kecamatan Muara Sungkai sudah hidup. Cat dindingnya kuning cerah berpadu hijau di bagian bawah, seperti menyambut siapa pun yang datang.
Di atas meja yang ditutup taplak batik hitam-kuning, selembar formulir pendaftaran tergelar. Seorang ayah berjaket hoodie coklat menunduk, tangannya serius menggoreskan pulpen. Di sebelahnya, menempel di meja, seorang gadis kecil berbaju denim ikut menimbrung. Tangannya yang mungil memegang pulpen warna-warni, seolah ikut tanda tangan.
Di hadapan mereka, tiga guru perempuan dengan seragam khaki tersenyum. Satu berjilbab coklat susu dengan kacamata, telaten menjelaskan. Yang berjilbab kuning keemasan tertawa kecil melihat tingkah si anak. Satu lagi di ujung meja, ikut sumringah.
Nggak ada ketegangan. Yang ada cuma obrolan pelan, senyum, dan harapan.
Ini bukan sekadar adegan mengisi formulir PPDB. Ini adalah hari pertama seorang anak secara resmi memulai “petualangan barunya”.
Hari itu, SDN Karang Rejo II membuka pintu untuk Tahun Ajaran 2026/2027. Dan pintu itu langsung disambut 13 calon siswa . Tiga belas calon siswa tercatat di hari pertama. Angka yang bagi Bu Patemi bukan cuma statistik.
“Setiap anak yang datang, itu amanah. Apalagi pas lihat anaknya ikut pegang pulpen kayak di foto itu. Rasanya… ini tugas kami bukan cuma ngajar, tapi ngejaga mimpi mereka,” tutur Patemi kepsek sekolah tersebut.
Perhatikan lagi foto itu. Si ayah rela membungkuk di meja pendek. Sepatunya dilepas rapi di bawah. Anaknya nggak takut, malah nyaman bertopang dagu di meja pendaftaran. Para guru nggak duduk kaku di balik meja, tapi ikut mencondongkan badan, menyapa, membuat percakapan.
Teras sekolah dengan cat kuning-hijau itu hari ini berubah fungsi. Bukan lagi sekadar lorong. Ia jadi ruang transisi, dari rumah ke sekolah, dari anak rumahan menjadi calon murid.
“Tahun ini kami memang mau beda. Pendaftaran harus jadi kenangan pertama yang manis. Makanya kami gelar di teras, terbuka, biar nggak ada sekat antara guru dan wali murid,” tambah Bu Patemi.
Tiga belas nama yang masuk hari pertama itu kini jadi angkatan pembuka. Mungkin salah satunya si gadis kecil berbaju denim tadi. Mungkin kelak dia akan ingat, pertama kali “sekolah” adalah saat ia iseng coret-coret di formulir pendaftaran, ditemani tawa bu guru.
Pendaftaran masih dibuka sampai Sabtu, 27 Juni 2026. Syaratnya pun dibuat tak memberatkan, KK, Akta, KTP orang tua, ijazah TK, dan pas foto. “Biar energi orang tua fokus buat nyiapin mental anak, bukan pusing urus berkas,” seloroh Bu Patemi.
Tanggal 13 Juli 2026 nanti, teras ini akan lebih ramai. Tiga belas anak itu, plus teman-teman barunya, akan masuk kelas dengan seragam merah-putih. Memulai hari pertama mereka yang sesungguhnya.
Tapi untuk hari ini, ceritanya cukup satu, di teras kuning-hijau itu, sebuah pulpen kecil sudah ikut menandatangani masa depan.
Penulis: Davi
Tidak ada komentar