Diduga Jadi Sarang Peredaran Narkoba, Lapas Rajabasa Kembali Jadi Sorotan Publik, Dirjen Lapas Diminta Copot Kalapas

waktu baca 3 menit
Rabu, 12 Agu 2026 12:04 1 Admin RCN

RadarCyberNusantara.Id | Sejatinya Lapas (Lembaga Pemasyarakatan) adalah tempat untuk membina para warga binaan agar bila nantinya kembali ke masyarakat menjadi manusia yang lebih baik. Tapi nama baik Lapas kembali tercoreng dengan adanya dugaan peredaran narkoba secara terstruktur yang melibatkan pihak luar, oknum sipir, dan warga binaan.

Isu mengenai Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) yang disinyalir menjadi tempat pengendalian atau sarang peredaran narkoba masih menjadi tantangan besar. Meskipun fungsi utamanya adalah tempat pembinaan, berbagai kasus kerap mengungkap keterlibatan oknum atau jaringan luar yang memanfaatkan Lapas.

Hal itu seperti yang diduga terjadi di Lapas Kelas 1 Bandar Lampung, dimana topeng integritas Lembaga Pemasyarakatan Kelas I Bandar Lampung akhirnya roboh total. Fakta mengejutkan membuktikan: Jeruji besi di sana hanya hiasan bagi penjahat berduit, sementara hukum dan keamanan dijual belikan secara terang-terangan.

Kasus pengendalian jaringan narkoba dari dalam sel yang viral lewat bukti video call ‘Jawa’ dan ‘Bramsyah’ bukan sekadar kelalaian. Ini adalah sistem bisnis kejahatan yang berjalan rapi dan dilindungi. Ribuan suara netizen dan kesaksian mantan narapidana membuktikan, Lapas Rajabasa sudah lama berubah fungsi menjadi kerajaan para bandar, bukan tempat perbaikan perilaku.

KEBENARAN DARI DALAM, TAK BISA DIBUNGKAM LAGI

Komentar jujur warganet menjadi bukti paling kuat yang tak bisa dibantah:

“Lapas Rajabasa itu istana bagi koruptor dan napi besar. Kalau punya uang, hidup mewah di dalam, lebih enak dari di luar!” — Mario Fendra

“Saya dengar langsung dari mantan penghuni: Semuanya ada harganya. Mau pakai HP? Bayar. Mau makan enak? Bayar. Mau berobat? Bayar. Kalau miskin? Diperlakukan seperti sampah, bukan manusia. Ini bukan dugaan, ini fakta yang sudah berjalan bertahun-tahun!” — Tomi Siregar

“Bukan rahasia lagi, narkoba justru lebih gampang didapat di dalam penjara daripada di jalanan.” — erwiind_474

“HP bebas dipakai, saya sendiri pernah mengalaminya. Yang paling keparat justru aparatnya, merekalah yang jadi bandar pelindung!” — Fadly S

GRAK: IKE RAHMAWATI HARUS DICOPOT SEKARANG, DAN DISELIDIKI JUGA!

Koordinator GRAK Lampung, Chaidir, meledak marah.
“Jangan lagi bilang ini kelalaian! Ini KERJA SAMA TERORGANISIR! Bagaimana mungkin barang selundupan, uang, dan alat komunikasi masuk tanpa izin petugas? Bagaimana mereka bisa mengatur jaringan sampai ke luar provinsi? Pasti ada yang menjaga dan membiarkan!” serunya, Rabu (12/08/2026).

Ia menyoroti kemunafikan Kalapas Ike Rahmawati yang baru saja berpidato tinggi soal kewaspadaan dan integritas.
“Bicaranya setinggi langit, tapi kinerjanya serendah tanah. Dia tahu, atau dia sengaja tutup mata? Bagaimanapun juga, dia TIDAK LAYAK memimpin. Copot sekarang juga sebelum makin banyak kerusakan!” tegas Chaidir.

MODUS JELAS: SETOR UANG, BEBAS BERBUAT

Penelusuran awak media membongkar alur kotornya. Orang kepercayaan bernama Oci bebas masuk membawa uang setoran dan paket sabu dalam jumlah besar. Dua bandar itu leluasa menelepon, video call, bahkan memamerkan tumpukan barang haram seolah tidak ada yang mengawasi.

ketika di konfirmasi Sikap pihak Lapas semakin menguatkan dugaan bersalah. Meminta bukti lalu DIAM SERIBU BAHASA. Menghindar bukan jawaban, itu adalah pengakuan bisu bahwa ada sesuatu yang ditutupi rapat-rapat.

Kesimpulan rakyat sudah bulat:
Lapas Rajabasa bukan lagi milik negara, tapi sudah menjadi milik uang dan kekuasaan. Hukum di sana tumpul ke atas, tajam ke bawah. Sampai kapan kita diam melihat pajak rakyat dipakai untuk menggaji orang yang melindungi penjahat? | Tim.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA

Dapatkan Berita Pilihan Di Whatsapp Untuk Anda.

 

X
error: Content is protected !!