RadarCyberNusantara.Id | Kalau mau cari pahlawan tanpa jubah, lihat ke deretan ini.
Di dua foto ini, berdiri dan duduk para guru perempuan SMPN 2 Tulang Bawang Barat. Seragam batik cokelat senada, jilbab abu-abu rapi, senyum yang tidak dibuat-buat. Di belakang mereka dinding hijau sekolah, tenda biru-putih, dan kesibukan hari pelepasan yang baru saja selesai.
Mereka tidak sedang di panggung, tapi merekalah yang menyiapkan panggung itu untuk anak-anaknya.
Lihat wajah-wajahnya, ada yang tertawa lebar sampai matanya menyipit, ada yang menutup mulut malu-malu saat difoto, ada yang mengacungkan jempol dan ada yang melambaikan tangan ke kamera. Tidak ada yang kaku, karena kebersamaan mereka sudah cair, ditempa oleh ruang guru yang sempit, rapat yang panjang, dan tugas yang tidak pernah habis.
Di balik jilbab abu-abu itu ada 24 jam yang tidak pernah cukup, pagi jam 6 sudah di sekolah untuk piket, siang menahan lapar karena rapat wali kelas molor. Sore masih mengecek tumpukan tugas sambil membalas chat wali murid, malamnya, menyiapkan materi untuk besok.
Tapi anehnya, saat disuruh foto bersama, yang keluar bukan lelah. Yang keluar adalah senyum.
Itu senyum orang yang tahu kerjaannya ada arti. Mereka tahu, anak yang dulu tidak bisa membaca lancar, sekarang sudah bisa pidato di panggung. Mereka tahu, anak yang dulu pemalu, sekarang berani mengacungkan tangan jadi MC pelepasan. Mereka tahu, semua omelan, semua tugas tambahan, semua “kamu bisa lebih baik” itu akhirnya terbayar.
Warna batik cokelat di baju mereka bukan kebetulan, cokelat itu warna tanah. Kokoh, membumi, jadi pijakan. Begitu juga guru SMPN 2 Tubaba, mereka jadi tanah tempat ratusan siswa lainnya, menumbuhkan akar sebelum terbang.
Di foto bawah, satu bapak guru berdiri di pinggir. Memberi aba-aba. Itu tandanya, di sekolah ini tidak ada “guru perempuan” atau “guru laki-laki”. Yang ada hanya satu, tim. Tim yang kompak mengantar anak-anak Tubaba melangkah lebih jauh.
Hari ini mungkin mereka hanya jadi barisan di pinggir tenda. Besok, saat alumni SMPN 2 Tubaba jadi dokter, guru, polisi, pengusaha, merekalah yang akan disebut pertama, “Dulu saya diajar Bu… Pak…”
Guru tidak butuh sorotan, tapi setiap kali SMPN 2 Tulang Bawang Barat mencetak anak hebat, di situlah wajah mereka bersinar.
Terima kasih, Ibu dan Bapak Guru. Kalian bukan hanya mengajar pelajaran. Kalian mengajarkan kami hidup.
Penulis : Davi rcn.id
Dilihat: 17
Rekomendasi
Tidak ada komentar