RadarCyberNusantara.Id | Kadang percakapan paling penting tidak terjadi di ruang rapat ber-AC, ia terjadi di atas meja makan, di antara uap nasi hangat dan gelas es teh yang mengembun.
Malam ini RM Mbok Wito Pahoman jadi saksi, empat orang duduk di satu meja panjang untuk melepas lelah setelah hari yang panjang. Tidak ada podium, tidak ada mikrofon, yang ada hanya piring berisi lauk, obrolan ringan, dan tawa yang pecah tanpa sengaja.
Di sisi kanan, Darmawan, S.H., M.H., Ketua DPD PWRI Lampung, duduk santai dengan kemeja biru, tatapannya tenang. Di organisasi ia biasa bersuara lantang membela profesi wartawan, tapi di meja ini ia lebih banyak mendengar sambil sesekali mengangguk dan mengangkat jempol.
Di depannya, Pinnur Selalau, Pimpinan Redaksi radarcybernusantara.id mengacungkan jempol ke kamera. Kaos hitamnya sederhana, tapi semangatnya tidak. Ia bukan hanya pemimpin redaksi, ia juga pemerhati pendidikan di Lampung, topik yang selalu membuat matanya berbinar bahkan saat sedang makan.
Di sebelahnya, seorang sahabat dengan kemeja hitam ikut mengangkat jempol, dan di ujung meja seorang calon advokat berjilbab krem duduk sambil tersenyum, didepannya seorang advokat muda yang masih lajang. Empat orang dengan latar belakang berbeda, tapi satu frekuensi, yaitu peduli pada Lampung.
Meja makan itu berubah jadi ruang diskusi tidak resmi, dari obrolan tentang berita yang viral hari ini, merembet ke kondisi sekolah di pelosok yang kekurangan guru, tentang gedung sekolah yang membutuhkan perbaikan. Dari canda soal pindang patin dan sop iga yang pedasnya pas, beralih ke rencana kegiatan yang bisa menyatukan pegiat pers dan pemerhati pendidikan.
Di tengah meja, tanaman kecil dalam vas kaca jadi penyeimbang, hijau dan tenang, mengingatkan bahwa di balik semua kerja keras butuh jeda untuk menyegarkan pikiran.
Inilah kekuatan kebersamaan, tidak perlu acara besar dan sambutan panjang, cukup satu meja, satu waktu, dan satu tujuan yang sama, ingin Lampung lebih baik.
Makan malam itu akan selesai, piring akan kosong dan gelas akan habis, tapi percakapan malam itu tidak berhenti di sana. Ia akan jadi ide, jadi langkah, jadi gerakan kecil yang suatu hari bisa berdampak besar.
Karena perubahan besar sering dimulai dari hal sederhana, orang-orang yang mau duduk bersama, makan bersama, dan berdiskusi tanpa sekat. Di RM Mbok Wito malam itu, empat orang itu sedang melakukan hal itu.
Penulis : Davi rcn.id
Tidak ada komentar