Melabuh Kenangan, Mengarung Masa Depan: Ketika Angkatan Seavora 44 Melepas Jangkar di SMPN 2 Tulang Bawang Barat

waktu baca 4 menit
Kamis, 21 Mei 2026 17:46 42 Admin RCN

RadarCyberNusantara.Id | Di bawah lengkungan kain biru dan putih yang menjuntai seperti ombak, layar LED raksasa menyala keemasan, “Pelepasan Siswa Siswi Kelas IX SMPN 2 Tulang Bawang Barat Melabuh Kenangan, Mengarung Masa Depan”.

Lapangan SMPN 2 Tulang Bawang Barat di Jl. Jendral Sudirman, Murni Jaya, Tumijajar, berubah menjadi panggung perpisahan yang megah sekaligus haru. Di bawah tenda yang dihias draping biru-putih berumbai benang perak, Angkatan Seavora 44 siap melepas jangkar. Kamis (21/5/2026)

Ratusan wali murid datang dari berbagai pelosok Tumijajar. Ada yang batik, ada yang mengenakan kebaya, ada juga yang hadir dengan seragam dinas dari berbagai instansi. Di antara mereka, wajah-wajah haru bercampur bangga menyaksikan anak-anaknya melangkah ke jenjang berikutnya. Kehadiran mereka adalah bukti bahwa pelepasan ini milik seluruh keluarga besar SMPN 2 Tulbar.

Seavora 44: Nama yang Lahir dari Laut dan Keberanian

Nama Seavora bukan dipilih asal. Gabungan dari sea dan vora, yang berarti laut dan keberanian untuk menerjang. Angka 44 melekat sebagai identitas angkatan ke-44 SMPN 2 Tulang Bawang Barat.

“Seavora itu kami. Lautan itu masa depan. Kami siap,” ujar salah satu siswa di spot foto, sambil memeluk erat ibunya.

Tema itu dipertegas dengan tagar #PendidikanRamahUntukSemua dan logo Kemendikdasmen RAMAH yang terpampang di layar panggung, menandakan pelepasan ini bagian dari visi pendidikan yang inklusif.

Orkestra Perpisahan yang Penuh Makna

Di balik kemegahan tenda biru-putih, ada kerja senyap yang jarang terlihat. Di meja absensi, anggota OSIS berseragam abu-abu putih duduk tegak sejak pagi. Tangan mereka tak berhenti mencatat. Di atas meja terhampar taplak tenun motif Lampung, sentuhan lokal yang diam-diam membanggakan.

Sepuluh meter dari sana, tim sound system duduk lesehan di selasar gedung. Mixer, kabel, dan laptop berantakan di atas meja kayu. Mereka ngopi, makan gorengan, tapi mata tak lepas dari layar. Merekalah yang memastikan suara Ibu Dewi Sartika, terdengar jelas saat ia naik podium kayu di depan layar megah itu.

Ibu Dewi tampil anggun dalam tunik batik sage hijau motif Kawung dan parang dengan sentuhan abu-abu kebiruan. Jilbab taupe dan bros mutiara menambah kesan tenang dan berwibawa.

“Anak-anakku Seavora 44, hari ini kalian melabuh kenangan. Tiga tahun kalian simpan di sini, pelajaran, tawa, jatuh bangun, dan persahabatan yang nggak akan terganti. Tapi ingat, melabuh bukan berhenti. Mengarung artinya kalian harus berani, lautan SMA, SMK, dan masa depan sudah menunggu, jaga nama baik almamater, jaga sikap, jaga mimpi kalian,” ucap Dewi Sartika, Plt Kepala Sekolah, suaranya pelan tapi tegas.

Di bangku tamu, dewan guru berseragam batik earthy senada duduk kompak. Bisik-bisik terakhir terdengar: “Jaga sikap ya di SMA. Jangan lupa kabar-kabar.”

Pesan dari Dinas Pendidikan Tubaba

Hadir mewakili Dinas Pendidikan Kabupaten Tulang Bawang Barat, Kadis Pendidikan menyampaikan kesan dan harapannya untuk angkatan ini.

“Kami bangga melihat SMPN 2 Tubaba bisa menggelar pelepasan yang bukan hanya megah, tapi juga sarat nilai. Tema ‘Melabuh Kenangan, Mengarung Masa Depan’ itu tepat. Pendidikan bukan sekadar angka di rapor, tapi soal karakter dan keberanian,” ujarnya.

Kepada anak-anak Seavora 44, dirinya menitipkan pesan, teruslah belajar, jangan takut mencoba hal baru. Jaga nama baik sekolah dan orang tua. Dan kepada para guru serta orang tua, mari terus kita kawal generasi ini agar tumbuh jadi anak Tubaba yang cerdas, berakhlak, dan siap bersaing dengan kemampuan dan prestasi.

Haru, Budaya, dan Tawa yang Pecah Bersama

Lalu musik gamelan pelan mengalun, siswi kelas 8 melangkah masuk dengan kostum tapis biru, baju putih bordir, dan selendang hitam bermotif emas. Tari Mandi Langikh dibawakan dengan gerak lembut dan senyum percaya diri. Ini pernyataan bahwa Seavora 44 tidak hanya dilepas dengan modernitas, tapi juga dengan akar budaya Lampung yang kuat.

Di dalam tenda, suasana mencapai puncaknya. Ratusan kursi penuh sesak. Orang tua memeluk anaknya erat. Siswa menggenggam buket mawar artifisial dan gulungan piagam kenang-kenangan sambil menahan air mata. Kamera HP menyala tanpa henti.

Dan ketika balon hiu merah tiba-tiba melayang di atas kepala, tawa pecah. Di tengah haru, ada tawa. Di tengah perpisahan, ada perayaan.

Kapal-Kapal Kecil Siap Berlayar

Ketika acara usai, lapangan perlahan kosong. Tenda mulai dibongkar, spot foto SEAVORA sepi, buket sudah berpindah tangan. Tapi satu hal tertinggal, yaitu identitas.

Angkatan Seavora 44 tidak hanya lulus, mereka pulang membawa nama. Nama yang mengingatkan bahwa mereka adalah anak-anak laut, yang lahir dari SMPN 2 Tulang Bawang Barat, ditempa tiga tahun dengan ilmu, disiplin, dan cinta budaya.

Selamat jalan, Seavora 44. Jaga nama baik almamater, dunia menunggumu untuk berlayar. Dan ingat, di bawah tenda biru-putih ini, kenanganmu sudah dilabuhkan.

Penulis : Davi rcn.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA

Dapatkan Berita Pilihan Di Whatsapp Untuk Anda.

 

X
error: Content is protected !!