RadarCyberNusantara.Id | – Siapa bilang guru cuma kuat di kelas dan mahasiswi cuma jago di kampus? Color Run 2026, Minggu pagi, jadi saksi adu kuat dua perempuan Lampung beda generasi dan profesi.
Wibian Fiza, seorang guru dari Kabupaten Pesawaran, dan Dea Sany Afrita, mahasiswi UIN Raden Intan Lampung, kompak menuntaskan lomba. Keduanya berpose bangga di depan pilar Gedung Balai Keratun sambil memamerkan medali finisher. Minggu (21/6/2026).
Wibian tampil dengan hijab hitam dan jersey putih Telkomsel nomor dada 6558. Di sampingnya, Dea percaya diri dengan training merah maroon. Senyum tipis keduanya menyembunyikan lelah setelah menaklukkan terik Bandar Lampung.
Kolaborasi guru dan mahasiswi ini curi perhatian. “Alhamdulillah finis bareng Dea. Capek tapi nagih. Murid-murid di Pesawaran harus lihat, gurunya juga bisa sehat,” kata Wibian sambil mengatur napas.
Dea yang masih mahasiswi UIN Raden Intan tak kalah semangat. “Bangga banget lari bareng Bu Wibian dari Pesawaran. Beliau bukti umur bukan halangan. Aku yang muda malah keteteran,” ujarnya sambil tertawa.
Wibian mengaku rutin jaga stamina di sela mengajar. Dea pun sama, lari pagi jadi ritual wajib sebelum ke kampus UIN.
Duet Wibian-Dea jadi potret perempuan Lampung masa kini, aktif, sehat, dan kolaboratif. Satu mengajar di Pesawaran, satu menimba ilmu di UIN Raden Intan, tapi kompak bawa nama baik daerah.
Color Run 2026 diikuti ribuan peserta se-Lampung. Ajang ini bukan sekadar lomba lari, tapi pesta rakyat yang satukan semua kalangan guru, mahasiswi, PNS, sampai emak-emak.
Medali di leher Wibian dan Dea hari ini bicara banyak. Ini soal pembuktian. Guru Pesawaran dan mahasiswi UIN Raden Intan juga bisa adu kuat di lintasan, bukan cuma di ruang kelas.
Penulis: Davi
Tidak ada komentar