RadarCyberNusantara.Id | Pengelolaan Dana BOS SMKN 1 Tulang Bawang Tengah senilai Rp4,46 miliar tahun 2024-2025 diduga sarat penyimpangan. Akumulasi data resmi menunjukkan pola belanja janggal, administrasi sekolah menghabiskan Rp1.328.343.700 dalam dua tahun, sementara pengembangan profesi guru hanya Rp39.400.000. Kamis (30/4/2026).
Ironisnya, perpustakaan yang tahap 1 tahun 2025 hanya habiskan Rp58.100.000, tiba-tiba loncat jadi Rp177.596.000 di tahap 2. Honor guru 2024 tembus Rp608.664.000, tapi langganan daya & jasa tak jelas peruntukannya menguras Rp340.981.200 selama dua tahun. Belum lagi pemeliharaan sapras Rp608.754.200 dan bursa kerja/PKL Rp323.047.600 belum diketahui rincian kegiatan.
Pertanyaannya, mengapa anggaran habis pakai dan administrasi membengkak hingga 29,7% dari total BOS Rp4,46 miliar, sementara mutu guru hanya dapat 0,88%? Apakah ini modus mark-up atau kegiatan fiktif untuk menguras uang negara?
Dugaan makin kuat karena sekolah yang dipimpin Titis Sungkowo selama hampir 20 tahun ini juga disebut memungut sumbangan siswa Rp600 ribu–Rp1 juta per orang, padahal BOS jelas melarang pungutan.
Saat dikonfirmasi, kepala sekolah gaib. “Pak Kepala Sekolah tidak ada. Saya tidak tahu ke mana,” kata Adi Irawan, satpam sekolah, Rabu (29/4/2026). Upaya konfirmasi via telepon/WhatsApp ke nomor pribadi kepsek juga bungkam.
Anehnya, atas saran Kacabdin Wilayah V Hartati untuk menemui KTU Dayu Dahlia, wartawan justru disodori amplop berisi uang pecahan Rp50 ribu total diduga Rp1 juta. “Ini titipan dari kepsek, untuk rekan-rekan media beli bensin,” kata Dayu sambil menyodorkan amplop yang langsung ditolak wartawan. Rabu (29/4/2026)
Untuk apa uang itu? Apakah ini upaya penyuapan agar dugaan penyimpangan Rp4,46 miliar tidak diberitakan? Patut diduga demikian. Sebab saat ditanya soal BOS, Dayu justru mengaku tak tahu siapa bendahara sekolah sejak 2017.
“Sejak 2017 sampai 2026 saya tidak mengetahui siapa bendahara sekolah, dan terkait program juga tidak mengetahui,” akunya.
Bagaimana mungkin KTU tidak tahu bendahara dan program, tapi bisa menyalurkan “titipan uang” dari kepsek? Apakah struktur keuangan sekolah sengaja dibuat remang-remang untuk memuluskan dugaan korupsi?
Hingga berita ini naik, Titis Sungkowo tetap bungkam. Sikap tertutup plus dugaan percobaan suap ke wartawan ini kian menguatkan indikasi bobroknya tata kelola BOS Rp4,46 miliar di SMKN 1 TBT. APH wajib turun, sebab jika administrasi Rp1,32 miliar saja tak jelas, ke mana larinya uang rakyat untuk pendidikan? (Red)
Dilihat: 19
Rekomendasi
Tidak ada komentar