RadarCyberNusantara.Id | Bau menyengat menusuk hidung sebelum mata menangkap pemandangan itu. Di sebuah lahan kosong, tumpukan kantong plastik warna-warni menggunung tak beraturan. Sampah rumah tangga, sisa makanan, hingga limbah bercampur jadi satu, membentang panjang di tepi jalan tanah. Rabu (20/5/2026)
Lokasi ini bukan di pinggiran kota. Tepat di belakang rumah dinas Ketua DPRD Lampung Utara, tumpukan sampah itu berdiri kontras dengan rumah megah berhalaman hijau. Yang lebih ironis, hanya beberapa meter dari sana berdiri RS Umum Kotabumi. Tempat orang mencari kesembuhan, kini bersanding dengan sumber penyakit.
Warga sekitar mengaku sudah lama resah. “Setiap sore baunya makin kuat. Lalat juga banyak. Anak-anak sering main di sekitar sini, takutnya kena penyakit,” ujar seorang warga yang melintas, meminta namanya tak disebutkan.
Bukan hanya satu titik. Tumpukan kedua ditemukan di Kotabumi Ilir, tak jauh dari Jembatan Kali Umban. Di sana, sampah juga menumpuk di bahu jalan. Air kali yang mengalir di bawahnya perlahan berubah warna, terbawa limbah yang hanyut saat hujan turun.
Pemandangan ini menjadi tamparan keras. Di pusat kota, di area yang seharusnya menjadi wajah pemerintahan dan pelayanan kesehatan, justru muncul potret buruk tata kelola sampah.
Sampah yang dibiarkan menumpuk bukan sekadar merusak pemandangan. Ia mengundang penyakit, mencemari air, dan menurunkan kualitas hidup warga.
Warga berharap pemerintah segera turun tangan sebelum tumpukan ini bertambah tinggi dan dampaknya makin meluas.
Karena kota yang bersih bukan hanya tanggung jawab petugas. Tapi ketika titik kotor justru muncul di depan mata pengambil kebijakan, publik berhak bertanya: sampai kapan?
Opini: Kebersihan Kota Dimulai dari Rasa Malu dan Tanggung Jawab Bersama
Masalah sampah di Kotabumi bukan hal baru. Tapi ketika tumpukan itu muncul tepat di belakang rumah dinas pimpinan DPRD dan bersanding dengan rumah sakit, persoalannya naik level. Ini bukan lagi soal tumpukan plastik, tapi soal gagalnya sistem dan hilangnya rasa malu kolektif.
Kebersihan kota tidak bisa hanya dibebankan pada petugas kebersihan. Mereka butuh sistem yang jalan, jadwal angkut yang pasti, sanksi bagi pembuang sampah sembarangan, dan fasilitas TPS yang memadai.
Tapi pemerintah juga tidak bisa jalan sendiri. Selama warga masih menganggap jalan kosong dan bahu jembatan sebagai tempat pembuangan, selama itu pula Kotabumi akan terus kalah oleh sampahnya sendiri.
Kota yang bersih dimulai dari dua hal sederhana, pejabat yang merasa malu ketika kotanya kotor, dan warga yang merasa punya tanggung jawab menjaga lingkungannya. Kalau keduanya hilang, maka yang tersisa hanya tumpukan masalah yang makin menggunung.(Dv)
Tidak ada komentar