Jalan Kubangan di Way Abung Tiga: Saat Roda Singkong Beradu dengan Lubang dan Nasib

waktu baca 3 menit
Selasa, 28 Apr 2026 09:58 15 Admin Elsa

RadarCyberNusantara.Id | – Jam setengah lima pagi. Langit masih gelap, tapi mesin truk diesel 4 silinder itu sudah batuk-batuk. Suparman (bukan nama sebenarnya), menepuk dashboard truk tuanya. “Bismillah, yuk,” bisiknya.

Bak belakang penuh singkong. 7 ton. Upahnya tak seberapa untuk puluhan kilometer ke pabrik. Jika selamat sampai, uang yang ia bawa pulang bahkan tak sampai separuh upah kotor setelah dipotong solar. Jika sial, ia bisa tekor jutaan buat derek dan bengkel.

Taruhan Suparman pagi ini bukan di meja judi. Taruhannya adalah 3 kilometer jalan kubangan di Way Abung Tiga.

Lubang yang Menganga, Nyawa yang Dipertaruhkan. Di titik ini, tepatnya dedesa Pungguk lama, truk Suparman oleng. Roda kiri depan masuk lubang sedalam betis orang dewasa. Bak miring. Singkong tumpah sebagian. Ia banting setir, mesin meraung. Beruntung tak terguling.

“Ini udah biasa, Mas,” katanya sambil ngelap keringat, Selasa (29/4/2026). “Yang gak biasa itu kalau sebulan gak ada kawan yang terbalik.”

Catatan warga:

6 bulan terakhir, belasan kecelakaan tunggal terjadi di ruas ini. Korbannya selalu sama: sopir pick-up jagung, truk singkong, truk sawit. Polanya juga sama. Menghindari lubang, lalu selip ke bahu jalan yang amblas. Atau nekat terjang kubangan, lalu as roda patah karena beban berat.

Herman, sopir pick-up jagung, menunjukkan foto di HP-nya. Mobilnya ringsek di parit bulan lalu. “Biaya derek sama perbaikan kaki-kaki habis jutaan. Gara-gara lubang yang ketutup air hujan. Gak kelihatan,” ujarnya. Penghasilan sebulan habis buat benerin mobil.

Jalan Nadi yang Nyaris Putus. Jalan ini nadi. Setiap hari, ratusan ton singkong, jagung, dan sawit dari petani Way Abung Tiga mengalir lewat sini. Dari kebun ke pasar, dari pasar ke perut kota.

Tapi nadi itu kini menganga. Di musim hujan, aspalnya hilang, berganti kubangan lumpur sepanjang 3 km. Lubang-lubang selebar kap mobil dengan kedalaman 20 sampai 40 cm. Sopir menyebutnya “ranjau”.

Dampaknya berantai. Perjalanan yang harusnya 30 menit jadi 1 jam lebih. Solar boros. Ban cepat gundul. Per, shockbreaker, tie-rod jadi langganan bengkel. “Ongkos angkut segitu-gitu aja, tapi ongkos perbaikan naik terus,” keluh Suparman.

Salah Siapa? ODOL, Hujan, atau Tambal Sulam?

Para sopir tak menutup mata. Truk-truk ODOL sawit dari kebun perusahaan juga lewat sini. Tonasenya berlebih. Jalan kabupaten, bebannya jalan provinsi.

Perbaikan pun seadanya. “Ditimbun tanah sama batu sabun. Kena hujan dua kali, amblas lagi. Kayak ngasih perban ke orang patah tulang,” kata seorang sopir lain yang minta namanya disamarkan.

Mereka tak minta jalan tol. “Kami cuma minta rata. Gak ada kubangan. Biar gak ada lagi kawan yang masuk RS gara-gara kejar setoran tapi malah kejeblos,” tegas Suparman sambil menatap bak truknya yang kini kosong. Singkongnya sudah pindah ke gudang. Ia selamat hari ini.

Besok, ia dan ratusan sopir lain akan bertaruh lagi. Mengadu roda dengan lubang, mengadu nasib dengan jalan. Di Way Abung Tiga, penghasilan kecil itu dibayar dengan nyawa yang digantung di antara setir dan kubangan. (Dv)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA

Dapatkan Berita Pilihan Di Whatsapp Untuk Anda.

 

X
error: Content is protected !!