Pinnur Selalau : Ilmu Kesabaran Polisi Modern Jadi Wajah Nyata PRESISI, Penentu Masa Depan Indonesia

waktu baca 7 menit
Minggu, 26 Apr 2026 11:21 3 Admin RCN

RadarCyberNusantara.Id | Di zaman digital, polisi tidak lagi bekerja hanya di jalan raya, kantor pelayanan, atau lokasi kejadian perkara. Polisi kini bekerja di bawah tatapan jutaan mata. Setiap tindakan dapat direkam, dipotong, disebarkan, lalu diadili dalam hitungan menit oleh ruang media sosial yang sering lebih cepat memvonis daripada memeriksa fakta.

Dalam kondisi seperti itu, tekanan terhadap aparat meningkat berlipat ganda. Mereka bukan hanya menghadapi situasi lapangan, tetapi juga menghadapi penghakiman opini. Karena itu, ukuran profesionalitas kepolisian telah berubah. Polisi modern tidak cukup hanya kuat secara fisik, tetapi harus matang secara mental, cerdas secara emosional, dan presisi dalam setiap keputusan. Di titik inilah ilmu kesabaran menjadi salah satu kebutuhan strategis bagi masa depan Indonesia.

Kita terlalu sering menilai aparat hanya dari saat benturan terjadi. Padahal kualitas tertinggi penegak hukum sering justru tampak ketika ia memiliki alasan untuk bereaksi, tetapi memilih menahan diri demi keselamatan bersama.

Dalam pandangan Pinnur Selalau (Pimred Media RadarCyberNusantara.Id ), kesabaran polisi adalah bentuk kedewasaan negara yang bekerja melalui disiplin moral. Pinnur Selalau menegaskan bahwa bangsa besar bukan bangsa yang mudah marah, melainkan bangsa yang mampu menjaga ketertiban dengan akal sehat, kewibawaan, dan tanggung jawab. Ketika anggota Polri tetap tenang di tengah provokasi, sesungguhnya negara sedang menunjukkan kelas peradabannya.

Ketika polisi menahan emosi, negara sedang menolak jatuh ke dalam kekacauan.

Ilmu Kesabaran Polisi Modern: Kekuatan Negara yang Terkendali.

Kesabaran kerap disalahpahami sebagai kelemahan. Padahal dalam ilmu psikologi, kesabaran adalah kemampuan menunda reaksi sesaat demi tujuan yang lebih besar. Dalam tugas kepolisian, tujuan itu jelas: mencegah korban, menjaga ketertiban umum, dan memastikan konflik tidak berubah menjadi kerusakan sosial.

Publik melihat salah satu contoh ketika beredar video anggota Polri di Pulau Rote yang tetap tenang meski dicaci dalam suasana panas. Yang terlihat hanya beberapa detik. Namun di balik detik singkat itu terdapat kemampuan yang tidak sederhana: mengendalikan emosi saat dihina, menjaga bahasa tubuh tetap stabil, dan menolak terpancing dalam tekanan tinggi. Satu balasan emosional bisa memperkeruh keadaan. Satu sikap tenang justru dapat memutus rantai eskalasi.

Contoh lain terlihat dalam berbagai pengamanan aksi mahasiswa dan buruh di banyak kota. Demonstrasi adalah hak konstitusional warga negara. Namun hak itu membutuhkan keteraturan agar aspirasi tidak berubah menjadi chaos. Polisi hadir sebagai penyangga demokrasi: menjaga ruang kebebasan sekaligus mencegah benturan. Saat pengamanan berlangsung damai, publik sering menganggap itu hal biasa. Padahal ketenangan yang terlihat sering merupakan hasil latihan panjang, disiplin komando, dan kesabaran yang terus diasah.

Kesabaran polisi juga hidup dalam tugas sehari-hari yang jarang diberi sorotan. Polisi lalu lintas menghadapi kemacetan, pelanggaran, pengendara yang marah, hingga warga yang melampiaskan frustrasi kepada petugas. Namun mereka tetap dituntut mengurai arus, menjelaskan aturan, dan menjaga keselamatan pengguna jalan. Pelayanan seperti ini mungkin tidak viral, tetapi manfaatnya dirasakan masyarakat setiap hari.

Secara nasional, jutaan interaksi antara masyarakat dan kepolisian berlangsung setiap tahun melalui pelayanan lalu lintas, pengamanan kegiatan publik, penanganan kecelakaan, pengawalan hari besar keagamaan, pengamanan arus mudik, penegakan hukum, hingga respons bencana. Mayoritas berjalan normal dan tertib, tetapi sering kalah sorotan dibanding satu konflik yang viral. Di sinilah publik perlu belajar membedakan antara kenyataan luas dan persepsi sesaat.

Dalam ilmu perilaku modern, kemampuan tersebut dikenal sebagai self regulation, yaitu kecakapan mengatur emosi dan tindakan ketika tekanan meningkat. Ada pula impulse control, yakni kemampuan menahan dorongan spontan yang berpotensi merusak keadaan. Polisi yang sabar bukan sedang pasif. Ia sedang menggunakan kecerdasan emosi untuk kepentingan publik.

“Kita harus berhenti mengira bahwa suara keras selalu identik dengan kekuatan. Dalam tata negara modern, kekuatan tertinggi justru terletak pada kemampuan mengendalikan kuasa ketika ada kesempatan untuk menggunakannya. Saya menyebut ini sebagai sovereign restraint, yaitu kecakapan negara memakai kewenangan secara sadar, proporsional, dan tidak tunduk pada provokasi sesaat. Kesabaran polisi bukan jeda kelemahan, melainkan kecerdasan kekuasaan yang beradab. Negara yang mampu menahan diri pada saat paling sulit adalah negara yang layak memimpin masa depan,” tegas Pinnur Selalau.

Kesabaran semacam ini bukan hanya nilai pribadi. Ia adalah modal sosial yang mencegah luka kolektif dan menjaga rasa aman masyarakat.

PRESISI Jenderal Listyo Sigit Prabowo dan Lahirnya Polisi Humanis yang Presisi.

Ilmu kesabaran polisi modern tidak tumbuh sendirian. Ia lahir dari arah kepemimpinan, budaya organisasi, dan standar kerja yang konsisten. Di bawah kepemimpinan Kapolri Jenderal Listyo Sigit Prabowo, Polri membawa konsep PRESISI, yaitu Prediktif, Responsibilitas, Transparansi Berkeadilan. Konsep ini menegaskan bahwa kepolisian modern tidak boleh hanya reaktif, tetapi harus cerdas membaca keadaan dan tepat bertindak.

*Prediktif* berarti anggota mampu mengenali gejala masalah sebelum membesar. Polisi membaca situasi, memetakan risiko, dan memilih langkah pencegahan. Dalam pengamanan massa, konflik besar sering bermula dari kesalahan kecil yang tidak diantisipasi.

*Responsibilitas* berarti setiap anggota sadar bahwa seragam yang dipakai membawa nama institusi, hukum, dan negara. Karena itu tindakan tidak boleh digerakkan oleh ego pribadi, rasa tersinggung, atau dorongan emosional sesaat.

*Transparansi* Berkeadilan berarti tindakan kepolisian harus dapat diuji publik dan dipertanggungjawabkan. Di era kamera ponsel, seluruh gerak aparat dapat menjadi perhatian nasional. Maka profesionalitas tidak hanya diukur dari hasil, tetapi juga dari cara.

Di sinilah kesabaran menjadi wajah nyata PRESISI. Ketika anggota tetap tenang saat diprovokasi, itu adalah prediktif yang bekerja. Ketika anggota menahan diri karena sadar membawa institusi, itu adalah responsibilitas yang hidup. Ketika anggota bertindak terukur karena sadar dinilai publik, itu adalah transparansi berkeadilan dalam praktik.

Pinnur Selalau menilai kepemimpinan Jenderal Listyo Sigit Prabowo memberi pesan penting bahwa modernisasi Polri bukan hanya soal digitalisasi layanan, tetapi juga pembentukan karakter aparat. Polisi masa depan harus mampu memadukan ketegasan dengan empati, kekuatan dengan kecerdasan, serta kewenangan dengan kerendahan hati.

“Di era ketika satu peristiwa dapat menjalar ke jutaan layar dalam hitungan menit, institusi kepolisian membutuhkan precision temperament, yaitu ketepatan watak: tahu kapan tegas, kapan menahan diri, kapan bergerak cepat, dan kapan meredakan suasana. Jika watak presisi ini hidup di tubuh Polri, maka Indonesia sedang membangun keamanan yang modern sekaligus manusiawi. Dan keamanan yang manusiawi adalah fondasi utama kemajuan bangsa,”* ujar Pinnur Selalau.

Budaya humanis bukan berarti lunak terhadap pelanggaran hukum. Justru sebaliknya, budaya humanis menunjukkan bahwa negara cukup matang untuk menegakkan aturan tanpa kehilangan nurani.

*Mengapa Polisi yang Sabar Masih Disalahkan?*

Meski banyak anggota menunjukkan kesabaran, realitasnya polisi masih sering disalahkan. Bahkan ada sebagian pihak yang memelihara kebencian terhadap polisi. Fenomena ini dapat dijelaskan melalui psikologi sosial.

*Pertama, confirmation bias,* yaitu kecenderungan seseorang hanya menerima informasi yang sesuai dengan prasangka lama. Jika sejak awal anti-polisi, maka polisi tegas dianggap kasar, polisi sabar dianggap pencitraan, polisi diam dianggap tidak berguna.

*Kedua, negativity bias,* yaitu manusia lebih mudah mengingat satu kesalahan daripada seribu kebaikan. Satu video konflik yang viral sering menutupi ribuan tindakan polisi yang membantu korban kecelakaan, mencari orang hilang, menjaga rumah ibadah, mengamankan kegiatan masyarakat, hingga turun dalam bencana.

*Ketiga, generalisasi terhadap oknum.* Kesalahan individu dipukul rata menjadi kesalahan seluruh institusi. Cara berpikir seperti ini tidak adil dan tidak ilmiah, tetapi sering dipelihara.

*Keempat, echo chamber media sosial,* yaitu ruang gema tempat orang hanya mendengar pendapat yang sama dengan keyakinannya sendiri. Dalam ruang seperti itu, kebencian berputar dan membesar tanpa koreksi.

Karena itu, Pinnur Selalau mengajak masyarakat kembali kepada akal sehat kebangsaan. Kritik terhadap polisi adalah hak warga negara dan bagian penting demokrasi. Namun kebencian buta terhadap institusi penjaga ketertiban hanya akan merusak fondasi hidup bersama. Bangsa besar membutuhkan aparat yang profesional sekaligus warga yang adil dalam menilai.

Kita harus mampu membedakan antara oknum dan institusi, antara ketegasan dan kekerasan, antara video singkat dan fakta utuh, antara kesabaran dan kelemahan. Polisi juga anak bangsa. Di balik seragam ada manusia yang memiliki keluarga, kehormatan, dan tanggung jawab besar menjaga keamanan jutaan warga.

Pinnur Selalau menyampaikan penghormatan setinggi-tingginya kepada para anggota Polri yang tetap sabar dalam tugas. Mereka berdiri di garis depan, sering tanpa pujian, kerap menerima kemarahan publik, namun tetap memilih profesional demi kepentingan bangsa.

“Di saat sebagian orang ingin menang dengan teriakan, anggota Polri yang sabar sedang memenangkan masa depan bangsa dengan pengendalian diri. Mereka adalah pagar sunyi republik, penjaga keteraturan yang bekerja tanpa banyak sorotan. Selama disiplin, kesabaran, dan akal sehat tetap hidup di tubuh Polri, selama itu pula Indonesia memiliki harapan besar untuk tumbuh sebagai bangsa yang dewasa, kuat, dan bermartabat. Dan selama kita masih mampu menghormati mereka yang menjaga ketertiban dengan hati yang tenang, selama itu pula republik ini tidak akan kehilangan arah.” Pungkas Pinnur Selalau. (**)

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA

Dapatkan Berita Pilihan Di Whatsapp Untuk Anda.

 

X
error: Content is protected !!