Perpustakaan Jangan Sampai Jadi Museum Sunyi

waktu baca 5 menit
Jumat, 15 Mei 2026 12:20 3 Admin RCN

Oleh: Drs. Dahlin, M.Pd (Kadis Perpustakaan dan Kearsipan Kabupaten Lampung Barat)

Bangsa Indonesia memperingati Hari Perpustakaan Nasional setiap tanggal 17 Mei bertepatan dengan berdirinya Perpustakaan Nasional Republik Indonesia pada 17 Mei 1980. Momentum ini menuntut refleksi yang lebih dalam apakah perpustakaan masih relevan di era serba instan, atau justru semakin penting sebagai penyangga peradaban?

Di tengah derasnya arus digital dan kecerdasan buatan (AI), perpustakaan menghadapi ancaman yang perlahan mulai nyata, ia semakin ditinggalkan. Ketika masyarakat lebih memilih layar gawai daripada lembar buku, perpustakaan pelan-pelan kehilangan denyutnya. Jika keadaan ini dibiarkan, bukan tidak mungkin kelak perpustakaan hanya menjadi “museum sunyi” megah bangunannya, tetapi sepi pengunjung dan kehilangan makna di tengah masyarakat.
Kekhawatiran itu bukan tanpa alasan.

Dalam beberapa tahun terakhir, cara masyarakat mencari informasi berubah sangat cepat. Internet, media sosial, dan mesin pencari membuat semua informasi terasa tersedia dalam hitungan detik. Orang kini lebih sering bertanya kepada Google atau AI dibanding membuka buku atau datang ke perpustakaan.
Masalahnya, informasi yang cepat belum tentu benar dan mendalam. Kita hidup di zaman ketika informasi melimpah, tetapi pemahaman justru sering dangkal. Banyak orang membaca sekilas, lalu merasa sudah mengetahui semuanya. Padahal, budaya membaca yang baik bukan hanya soal cepat memperoleh informasi, tetapi juga memahami, berpikir kritis, dan menarik makna dari apa yang dibaca.

Di sinilah perpustakaan sebenarnya tetap penting. Perpustakaan bukan sekadar tempat menyimpan buku, melainkan ruang belajar, ruang berpikir, dan ruang menjaga akal sehat publik. Karena itu, keberadaan Perpustakaan Nasional Republik Indonesia menjadi sangat strategis di tengah perubahan zaman hari ini.
Pada tahun 2026, Perpustakaan Nasional Republik Indonesia memasuki usia ke-46 dengan tema “46 Tahun Merawat Pustaka, Memartabatkan Bangsa.”

Tema ini mengandung pesan yang kuat karena merawat pustaka bukan hanya menjaga buku tetap tersimpan rapi, tetapi menjaga kualitas pengetahuan dan peradaban bangsa.
Meskipun tantangan yang dihadapi perpustakaan hari ini tidaklah ringan.

Salah satu persoalan utama adalah keterbatasan anggaran. Di era digital, perpustakaan membutuhkan biaya besar untuk digitalisasi koleksi, pengembangan aplikasi, peningkatan teknologi, hingga pelatihan sumber daya manusia. Tanpa dukungan yang memadai, transformasi perpustakaan akan berjalan lambat.

Masalah lain adalah kesenjangan akses. Masyarakat di kota besar mungkin mulai terbiasa menggunakan perpustakaan digital, tetapi di banyak daerah, akses internet masih terbatas. Akibatnya, layanan digital belum sepenuhnya bisa dinikmati semua kalangan. Padahal, tujuan utama digitalisasi adalah memperluas akses pengetahuan secara merata.
Selain itu, perpustakaan juga menghadapi perubahan perilaku generasi muda. Generasi sekarang tumbuh di tengah budaya serba cepat dan visual. Mereka terbiasa.

melihat video singkat, membaca potongan informasi, dan mencari jawaban instan. Dalam situasi seperti ini, perpustakaan sering dianggap kurang menarik dibanding media digital lainnya.
Padahal, kelebihan perpustakaan justru ada pada kualitas dan kedalaman informasi. Buku mengajarkan kesabaran berpikir, ketelitian membaca, dan kemampuan memahami persoalan secara utuh. Nilai-nilai inilah yang mulai tergerus di era serba instan.
Kepala Perpustakaan Nasional Republik Indonesia, Prof. Aminudin Aziz pernah menegaskan bahwa perpustakaan tidak bisa lagi melayani masyarakat dengan cara-cara lama.

Pernyataan ini menunjukkan bahwa perpustakaan memang harus berubah agar tetap relevan dengan kebutuhan zaman.
Perubahan itu sebenarnya mulai terlihat. Kehadiran aplikasi seperti iPusnas, berupa aplikasi perpustakaan digital berbasis media sosial oleh  Perpusnas untuk memudahkan masyarakat mengakses koleksi buku digital (e-Book) secara gratis dan legal menjadi contoh bagaimana teknologi dapat membantu masyarakat mengakses buku secara lebih mudah. Kini orang dapat meminjam dan membaca buku digital melalui perangkat smartphone, tablet, atau laptop tanpa harus datang langsung ke perpustakaan.

Di balik tantangan besar, justru ada peluang besar pula. Era digital memungkinkan perpustakaan menjangkau masyarakat lebih luas tanpa batas geografis. Perpustakaan juga bisa berubah menjadi ruang kreatif, tempat diskusi, pusat pelatihan literasi digital, hingga ruang kolaborasi anak muda.
Di banyak negara maju, perpustakaan modern sudah berkembang menjadi “ruang ketiga”, yaitu ruang selain rumah dan tempat kerja yang menjadi pusat interaksi masyarakat. Orang datang ke perpustakaan bukan hanya untuk meminjam buku, tetapi juga berdiskusi, bekerja, belajar, bahkan membangun komunitas.
Peran pustakawan juga ikut berubah. Mereka tidak lagi hanya menjaga rak buku, tetapi menjadi pendamping literasi dan penuntun informasi.

Di tengah banjir hoaks dan disinformasi, masyarakat justru membutuhkan orang-orang yang mampu membantu memilah informasi yang benar dan terpercaya.
Lalu bagaimana dengan AI? Apakah kecerdasan buatan akan menggantikan perpustakaan? Jawabannya tidak sesederhana itu. AI memang mampu menyajikan informasi dengan cepat, tetapi AI tidak selalu mampu memahami konteks, nilai, dan kedalaman pengetahuan manusia. Karena itu, perpustakaan tetap memiliki peran penting sebagai penjaga literasi kritis.

Teknologi seharusnya tidak dipandang sebagai musuh perpustakaan, tetapi sebagai alat untuk memperkuat layanan. Perpustakaan yang mampu memanfaatkan teknologi dengan bijak justru akan semakin relevan di masa depan.
Momentum Hari Perpustakaan Nasional 17 Mei 2026 seharusnya menjadi pengingat bahwa literasi tidak boleh kalah oleh kecepatan algoritma. Bangsa yang besar bukan hanya bangsa yang maju teknologinya, tetapi juga bangsa yang kuat budaya membacanya.

Tema “46 Tahun Merawat Pustaka, Memartabatkan Bangsa” menjadi ajakan agar kita tidak melupakan pentingnya membaca, berpikir, dan menjaga pengetahuan di tengah dunia yang bergerak sangat cepat.
Sebab jika perpustakaan benar-benar ditinggalkan, yang hilang bukan hanya gedung penuh buku. Kita bisa kehilangan ruang berpikir, ruang belajar, bahkan arah peradaban bangsa itu sendiri. Dan ketika itu terjadi, perpustakaan benar-benar hanya tinggal menjadi museum sunyi. (##)

Lampung Barat : 15 Mei 2026.

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA

Dapatkan Berita Pilihan Di Whatsapp Untuk Anda.

 

X
error: Content is protected !!