Baznas Lampura: Pegangan Kuning yang Mengembalikan Harapan Puadi

waktu baca 4 menit
Selasa, 19 Mei 2026 16:55 27 Admin RCN

RadarCyberNusantara.Id | Pegangan kuning itu mengkilap di bawah cahaya siang. Puadi menggenggamnya pelan, seolah takut kalau dilepas, harapan itu akan jatuh lagi.

Di ruang tamu hijau pudar miliknya di Kelurahan Tanjung Aman, Kotabumi Selatan, sepasang tongkat kruk baru saja berpindah tangan. Di lantai, dua karung beras dan sebungkus sembako plastik putih jadi saksi bisu bahwa hari ini berbeda.

Selasa, 19 Mei 2026. Kalender Swallow tahun 2024 yang masih menempel di dinding seakan lupa, bahwa untuk Puadi, waktu baru bergerak lagi.

Warga kurang mampu yang sedang sakit ini menerima bantuan dari Baznas Lampung Utara. Bukan bantuan besar, tapi cukup untuk membuat satu hal jadi mungkin lagi, berjalan pulang ke kamar mandi tanpa merangkak, melangkah ke teras untuk menghirup udara pagi.

“Saya mengucapkan terima kasih kepada Baznas Lampung Utara yang telah memberikan bantuan tongkat kruk dan sembako kepada saya. Bantuan ini sangat membantu,” ucap Puadi, suaranya tercekat.

Sebelum hari itu, setiap langkah bagi Puadi adalah perhitungan, kamar mandi yang jaraknya 3 meter terasa seperti 30 meter. Teras rumah yang dulu jadi tempat duduk sore, sudah berbulan-bulan tak ia injak.

Penyakit yang dideritanya membuat kaki kanannya tak kuat menopang tubuh. Ekonomi keluarga yang pas-pasan membuat membeli alat bantu jalan seperti tongkat kruk jadi kemewahan.

“Uang buat makan saja kadang kurang, apalagi buat beli tongkat,” katanya sambil menunjuk sofa motif cokelat tempat ia biasa duduk seharian.

Di sinilah peran zakat, infak, dan sedekah yang dikelola Baznas Lampung Utara bekerja. Tidak lewat panggung megah atau seremonial panjang. Tapi masuk diam-diam ke rumah-rumah seperti rumah Puadi.

Penyaluran bantuan ini bukan yang pertama. Petugas Baznas Lampung Utara datang dengan map hijau kuning di tangan. Di dalamnya ada data, dokumentasi, dan catatan bahwa bantuan ini tercatat, dipertanggung jawabkan, dan tepat sasaran.

Tim yang datang tidak hanya membawa tongkat kruk. Ada dua kantong beras 5 kg, minyak goreng, gula, dan kebutuhan pokok lain. Sembako yang mungkin cukup untuk 2 minggu, tapi cukup untuk membuat Puadi dan keluarga bisa bernapas lega.

“Program ini adalah bagian dari pilar kesehatan dan kemanusiaan kami. Kami ingin memastikan bahwa warga yang sakit dan tidak mampu, tetap punya akses untuk menjalani hidup dengan martabat,” ujar petugas Baznas yang mendampingi.

Di balik map hijau kuning itu, ada ratusan muzakki di Lampung Utara yang menitipkan hartanya. Ada PNS yang memotong 2,5% gajinya setiap bulan. Ada pedagang pasar yang menyisihkan keuntungan. Ada guru, petani dan juga buruh.

Uang mereka tidak hilang. Ia berubah menjadi pegangan kuning yang kini digenggam Puadi.

Yang menarik dari penyaluran ini adalah caranya. Tidak ada kerumunan. Tidak ada pidato. Hanya percakapan singkat di ruang tamu sederhana.

Petugas duduk sejajar dengan Puadi. Bertanya kabarnya. Mendengarkan keluhannya. Baru kemudian menyerahkan bantuan.

Pendekatan ini sengaja dilakukan Baznas Lampung Utara, karena bagi mereka, bantuan bukan sekadar distribusi barang. Ia adalah pengakuan bahwa penerima bantuan adalah manusia yang punya harga diri.

“Kami ingin hadir sebagai saudara, bukan sebagai pemberi yang menggurui. Karena zakat itu menyucikan. Menyucikan harta pemberi, dan menyucikan hati penerima,” jelas pihak Baznas.

Dan sepertinya itu yang dirasakan Puadi. Ia tidak hanya mengucapkan terima kasih, Ia tersenyum, Senyum yang sudah lama tidak muncul karena malu dan putus asa.

Baznas Lampung Utara menyebut penyaluran kepada Puadi sebagai bagian dari komitmen jangka panjang. Program bantuan kesehatan, sembako, bedah rumah, dan modal usaha terus berjalan di 23 kecamatan.

Tahun 2025-2026, fokus mereka memang pada kelompok rentan, lansia, disabilitas, dan penderita sakit kronis yang tidak mampu. Karena kelompok ini sering kali luput dari perhatian, padahal merekalah yang paling membutuhkan.

“Zakat yang terkumpul dari masyarakat Lampung Utara, harus kembali ke masyarakat Lampung Utara. Itu prinsip kami. Tidak ada yang jauh, tidak ada yang dilupakan,” tegas pihak Baznas

Di luar sana, masih banyak Puadi-Puadi lain. Yang menunggu, yang berharap, yang malu meminta.

Hari itu, ketika petugas BAZNAS pamit pulang, Puadi mencoba berdiri, Ia menjejakkan kaki di lantai dengan bantuan tongkat baru, langkah pertama goyah, Langkah kedua lebih pasti.

Di sudut ruangan, kalender Swallow 2024 masih menempel. Tapi untuk Puadi, hari itu bukan tanggal 19 Mei 2026. Hari itu adalah hari pertama ia merasa bisa berjalan lagi.

Dan itulah tujuan zakat, bukan membuat orang jadi kaya, tapi membuat mereka merasa tidak sendiri. Membuat mereka merasa bahwa di luar sana, masih ada orang yang peduli.

Harapan itu hari ini berwujud sepasang tongkat kruk dengan pegangan kuning, Sederhana. Tapi bagi Puadi, itu adalah jalan pulang.

Penulis : Davi rcn.id

Tidak ada komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

LAINNYA

Dapatkan Berita Pilihan Di Whatsapp Untuk Anda.

 

X
error: Content is protected !!