RadarCyberNusantara.Id | – Matahari belum tinggi di Desa Sukoharjo, Kecamatan Abung Surakarta. Tapi peluh sudah menetes. Bukan karena panas, tapi karena cangkul yang terus diayun. Senin (27/4/2026).
Di tengah jalan desa yang menganga, dua laki-laki membungkuk. Yang satu bersandal jepit, kaus coklat basah di punggung, topi hitam menutupi uban. Yang lain bersepatu bot, kaus hitam lengan panjang, memegang cangkul. Di antara mereka: gunungan puing bata merah, sisa-sisa bangunan yang dulu berdiri digunakan untuk menutup lubang ditengah jalan.
Hari ini, puing itu punya tugas baru: menambal jalan.
Lubang yang Bercerita : Lubangnya tak lebar, tapi dalam. Cukup untuk bikin ban motor terpeleset, cukup untuk bikin ibu yang bonceng anak kaget dan nyaris jatuh. Warga Sukoharjo sudah hafal titiknya. Kalau malam dan hujan, ia berubah jadi jebakan.
“Daripada nunggu korban, mending kita tutup dulu,” kata lelaki bertopi hitam, yang belakangan diketahui adalah Kepala Desa Sukoharjo. Ia tak banyak bicara. Cangkulnya yang bicara, mengais, meratakan, memastikan bata-bata dan pecahan semen itu mengunci satu sama lain.
Tak ada anggaran proyek. Tak ada bendera partai. Yang ada hanya pesan berantai di grup WA semalam: “Besok pagi, bawa cangkul. Kita tutup lubang jalan.”
Gotong Royong dari Hal yang Tak Terpakai.
Puing bata dan pecahan semen itu bukan dibeli. Ia dikumpulkan dari halaman rumah warga yang bongkar toilet tak terpakai, dari sisa bedah rumah tahun lalu. Barang yang sudah tak terpakai, kini dipakai untuk kepentingan bersama.
Satu demi satu bata diangkat, dilempar ke lubang, lalu diratakan. Sesekali terdengar tawa kecil ketika bata mendarat tak pas. Tapi lebih banyak hening. Hanya suara cangkul beradu dengan batu, dan desau angin di kebun jagung sebelah jalan.
Ini bukan perbaikan permanen. Semua orang di sini paham. Hujan deras bisa kembali membawa puing itu hanyut. Tapi membiarkan lubang itu menganga juga bukan pilihan.
Menjahit yang Robek dengan Apa Adanya.
Kepala Desa Sukoharjo memilih di barisan depan. Bukan memberi komando dari pinggir, tapi ikut merasakan kasarnya bata di telapak tangan. Di desa, pemimpin diukur bukan dari pidato, tapi dari kapan ia mau turun memegang cangkul.
Jalan ini urat nadi warga. Pagi untuk anak sekolah, siang untuk petani ke ladang, sore untuk ibu ke pasar. Ketika urat nadi itu robek, yang menjahitnya adalah mereka sendiri. Dengan puing bata, pecahan semen, dengan peluh, dengan sisa tenaga yang ada.
Menjelang siang, lubang itu rata. Masih bergelombang, masih butuh hati-hati. Tapi ia tak lagi menganga. Sebuah motor lewat, melambat, lalu pengendaranya mengacungkan jempol. Tak ada tepuk tangan. Cukup jempol itu.
Mereka pulang dengan baju kotor dan punggung pegal. Di belakang, jalan yang tadi robek kini sudah dijahit. Dengan puing bata dan pecahan semen. Dengan gotong royong. Sambil menunggu, entah kapan, jahitan yang lebih kuat dari aspal akan datang. (Davi)
Tidak ada komentar